in ,

Botol Minum 100% Daur Ulang Pertama Indonesia Ada di Bali!

Sudah harus serius nih mengurangi sampah plastik.

Sampah merupakan masalah global yang harus ditangani bersama. Salah satu upaya terbaru adalah merek air mineral ternama Indonesia meluncurkan botol minum 100% hasil daur ulang di Bali pada Februari silam.

Ini pertama kalinya botol plastik 100% hasil daur ulang yang diproduksi massal di Indonesia, yaitu oleh PT Tirta Investama, perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) merek Danone- Aqua.

Indonesia memang sudah waktunya serius menjawab tantangan berupa sampah plastik.

Pada 2015, hasil riset Jenna Jambeck berjudul Plastic Waste Inputs from Land into the Ocean menobatkan Indonesia sebagai negara penyumbang sampah plastik nomor dua (187,2 juta ton) di dunia setelah Cina (262,9 juta ton).

Menurut data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), setiap tahun sampah plastik di Indonesia mencapai angka 64 juta ton.

Baca juga: 7 Berita Hoax Makanan yang Bikin Geger Indonesia

Sebanyak 3,2 juta ton disumbang sampah plastik yang dibuang ke laut. Setidaknya ada 10 milyar lembar atau 85.000 ton kantong plastik setiap tahunnya.

Dalam keseharian, ragam sampah plastik ada banyak, dari kantong belanja hingga kemasan makanan.

Kebiasaan orang untuk menggunakan plastik yang dinilai praktis dan ekonomis membuatnya masih menjadi pilihan masyarakat Indonesia secara umum.

Padahal sampah plastik mengancam lingkungan serta seluruh makhluk hidup termasuk manusia.

Banyak kejadian di dunia yang sudah menunjukkan sampah plastik tidak ramah binatang.

Penyu yang badannya terjerat plastik, penyu yang hidungnya tersumbat sedotan plastik, hingga burung laut (Laysan Albatross) di pulau Midway yang ditemukan mati menelan sampah plastik oleh Fotografer Chris Jordan pada 2016 lalu.

Di Indonesia sendiri pada 2018 lalu menemukan sampah plastik di dalam perut paus sperma (Physeter microcephalus) yang mati di kepulauan Wakatobi.

Banyaknya sampah plastik yang dibuang ke laut tersebut mencemari laut dan ekosistemnya, termasuk juga ikan laut yang kita konsumsi sehari-hari.

Peneliti dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Muhammad Reza Cordova, pernah menyebutkan bahwa pada 2050 diprediksi jumlah sampah plastik akan melebihi jumlah ikan, dan jumlah mikroplastik melebihi plankton laut, sehingga dapat mengancam kehidupan laut dan juga manusia.

Lantas, bagaimana mencegahnya?

Mengganti plastik dengan bahan kemasan ramah lingkungan

Hal ini bukanlah mitos. Faktanya restoran cepat saji ayam goreng tepung Kolonel Sanders di Hong Kong tahun lalu menjual produk mereka menggunakan pembungkus kertas yang dapat dimakan. Pembungkus itu terbuat dari rumput laut.

Di Indonesia, kemasan berbahan dasar rumput laut ini sudah mulai diproduksi, salah satunya oleh produsen bernama Evoware.

Mereka memproduksi kertas pembungkus dan gelas yang bisa dimakan, juga kemasan sachet yang bisa lumer bila diseduh. Produk ini diklaim halal, tanpa pengawet, dan mengandung nutrisi seperti serat, vitamin, dan mineral.

Selain ramah lingkungan karena produk yang langsung hancur dan dapat dikonsumsi, penggunaan rumput laut membantu meningkatkan taraf hidup para petani rumput laut dari sisi ekonomi.

Alternatif kemasan ramah lingkungan lainnya adalah biodegradable foam yang ditemukan oleh Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian.

Temuan yang juga disebut biofoam ini terbuat dari pati tapioka dengan tambahan serat (nanoselulosa alang-alang) untuk memperkuat struktur.

Produk pengganti styrofoam ini bersifat biodegradable dan renewable, juga aman bagi kesehatan karena tidak mengandung bahan kimia.

Ada juga produk berbahanbeeswax (lilin lebah) yang bisa menjadi alternatif pembungkus makanan pengganti plastik. Beeswax dapat terurai maksimal sehingga ramah lingkungan.

Salah satu produsen kantong tas berbahan baku ketela bernama Telobag mengaku produknya juga dapat terurai maksimal seperti beeswax, meski tidak tahan panas.

Sudah banyak penemuan dari seluruh penjuru dunia yang inovatif dan kreatif untuk mengganti produk plastik sehari-hari dengan produk yang jauh lebih eco.

Masalahnya, mau atau tidak?

Menekan konsumsi kantong plastik

Berbagai kampanye untuk mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari sudah diluncurkan.

Dari Bumi atau Plastik, Diet Kantong Plastik, sampai Bijak Berplastik ada di media sosial dalam bentuk postingan bertagar dengan banyak pengguna.

Pemerintah juga sudah berusaha menekan penggunaan kantong plastik yang telah diatur di Peraturan Presiden No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional tentang Pengelolaan Sampah.

Di Bandung, beberapa supermarket mengganti kantong plastik dengan kardus bekas untuk pembeli yang tidak membawa kantong belanja pribadi.

Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan Peraturan Gubernur Nomor 97 Tahun 2018 yang mengumumkan larangan penggunaan kantong plastik, styrofoam dan sedotan plastik, mulai Desember 2018 yang lalu.

Indonesia pernah melakukan uji coba kantong plastik berbayar sebesar Rp 200/kantong yang berakhir pada 30 September 2016.

Kabarnya kebijakan ini dirumuskan ulang oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar dapat diberlakukan lagi dengan dampak yang lebih efektif.

Di sisi lain, penggunaan alat makan yang ramah lingkungan juga dianggap efektif untuk mengurangi sampah plastik.

Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo di Nusa Tenggara Timur sudah mendukung penggunaan daun lontar dan bambu sebagai wadah untuk makan yang bernama “wati” dan gelas.

Keduanya merupakan produk kearifan lokal yang didaulat ramah lingkungan, karena bisa lapuk dan menyuburkan tanah jika ditimbun.

Harapannya, cara-cara seperti ini yang didukung pemerintah dapat dicontoh daerah lain. Ibarat pepatah “sekali dayung dua, tiga pulau terlewati”, bisa menjaga warisan budaya sekaligus menjaga lingkungan.

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Veteran

Written by Redaksi Belanga

Media kuliner berbasis komunitas, merawat ragam rasa kuliner Indonesia. #BedaRasaSatuIndonesia.

10 Kuliner Jogja Ini Bikin Balik Lagi, dan Lagi

Warga Dunia Makin Suka Ngopi, Kok Kopi Indonesia Stagnan?