in

Bisnis Kuliner di Era Digital, Makanan Lokal Lebih Unggul

Ternyata makanan lokal lebih sering dipesan untuk delivery.

Tips Bisnis Kuliner
Sesi "The Impact of Digital in Culinary Business" yang diisi oleh Rawon Bar dan Zomato. (Foto: Belanga.id/Rikko Ramadhan)

Zaman sekarang kehidupan manusia tak lepas dari pengaruh gadget atau smartphone. Semua hal yang dulunya konvensional, kini bisa dilakukan secara online melalui gawai yang kita pegang setiap hari, setiap jam, setiap menit atau bahkan setiap saat.

Mulai dari belanja, mencari informasi tempat wisata, memesan makan, hingga memanggil tukang ojek, sekarang serba online.

Sejalan dengan perubahan itu, gaya memesan makanan masyarakat pun sudah mulai beralih dengan memprioritaskan sistem delivery order ketimbang makan di tempat.

Baca juga: Kepiting Nyinyir Kasih 5 Tips Buka Usaha Kuliner Sendiri

“Kita survei kebiasaan masyarakat zaman sekarang dalam membeli makanan jadi,” ujar Marvin Julian, Founder dan Marketing Director Rawon Bar, dalam acara Jakarta Marketing Week di Mal Kota Kasablanka pada Senin (29/4).

Jakarta Marketing Week adalah acara selama 7 hari yang menghadirkan para pakar marketing dari berbagai bidang dan bisnis.

“Hasilnya, lebih dari setengah mengaku lebih sering memesan makanan melalui delivery ojek online.”

Meski masyarakat mengalami perubahan gaya memesan makanan, Marvin optimis makanan asli Indonesia masih tetap bisa jadi primadona di negeri sendiri.

Untuk itu, ia bersama Kevin Wardana mendirikan restoran Rawon Bar yang sukses mendapat respon positif dari masyarakat.

Baru berdiri selama lima bulan, Rawon Bar telah sukses menjual 7.500 rawon kepada konsumennya.

“Mayoritas makanan kita dipesan melalui ojek online. Dengan persentase sekitar 80 persen,” lanjut Marvin.

Menurutnya, makanan Indonesia bisa bersaing di era digital walaupun banyak kehadiran makanan asing yang lebih eye catching, seperti sushi atau makanan grill, dan sebagainya.

Adapun strategi yang bisa dilakukan yakni mematangkan produk konsep, kanal yang sesuai dan juga tampilan visual makanan seperti foto serta caption di media sosial.

Jika melihat tampilan fisik kedai rawon dan feed di Instagram, Rawon Bar terlihat menarik perhatian dengan merah menjadi warna dominan.

Tagar #hotdarksteamy menjadi slogan Rawon Bar yang mencirikan penyajian rawon: disajikan panas, dengan kuah berwarna gelap dan kepulan asap nikmat.

Marvin juga mengatakan pentingnya restoran mengantisipasi perubahan gaya memesan makanan masyarakat di era digital seperti ini.

Baginya, berbisnis kuliner saat ini tak hanya memerlukan ahli masak melainkan marketing yang baik, dan tim kreatif pengelola media sosial.

“Nah, untuk itu Rawon Bar dipersiapkan untuk makanan delivery. Kita made-for-delivery, jadi nggak hanya fokus dine-in saja,” tambah Marvin.

Setelah membuka gerai di Senopati, Rawon Bar tak lama lagi akan memperluas hingga lima gerai baru.

Restoran ini menyajikan aneka jenis rawon mulai dari yang klasik hingga versi kekinian, seperti Nasi Goreng Rawon, Rawon Daging Klasik, dan Rawon Don Salted Egg.

Meski masih seumur jagung, Rawon Bar telah dinobatkan sebagai the best rawon in town versi @jktgo, sebuah akun Instagram yang senantiasa merekomendasikan tempat-tempat nge-hits di kota Jakarta.

Dengan hadirnya Rawon Bar, Marvin berharap resep tradisional khususnya rawon bisa dirasakan pada generasi berikutnya.

Terlebih, rawon yang digarapnya ini merupakan resep ratusan tahun yang ditulis dalam secarik kertas. Resep ini berasal dari neneknya dan telah bertahan empat generasi.

“Kita ingin punya makanan Indonesia yang menjadi headline. Makanya kami pilih nama Rawon Bar,” Direktur Operasional Rawon Bar, Kevin Wardana, menjelaskan pada kesempatan yang sama.

“Kita membuat something old menjadi something new dengan lebih menarik,” pungkasnya.

Sales Manager Zomato Indonesia, Hiroshi Kevin, menimpali bahwa saat ini tampilan visual juga mempengaruhi minat masyarakat untuk mencoba suatu makanan.

Terutama karena kehadiran media sosial yang membuat rasa penasaran orang makin bertambah.

“Kalo fotonya bagus akan menghasilkan dua hal. Pertama, akan mengundang minat user (red.: Zomato), dan mereka akan menaruh ekspektasi terhadap restoran itu,” ujar Hiro, panggilan akrabnya.

Selain tampilan visual, food, service, dan ambience menjadi tiga hal dasar pemberian rating di Zomato.

Hiro juga memberikan rumus Q3A agar sebuah produk bisa menjadi brand yang direkomendasikan Zomato. Rumus tersebut meliputi Quality, Assortment, Accessibility, dan Affordability.

“Empat informasi di atas harus diperhatikan. Jika salah satunya kurang maka akan mempengaruhi sisi psikologis user (red.: pembaca review Zomato),” ujar Hiro.

Tren makanan tradisional seperti Rawon Bar diprediksi akan terus mengalami peningkatan. Founder Top Tables Indonesia, Kevindra Soemantri, menyebut kecintaan masyarakat pada produk lokal telah melonjak.

Sebagai contoh, banyak restoran yang makin bangga mengenalkan makanan lokal, seperti jamu, soto, geprek, bubur, dengan kemasan yang lebih milenial.

Merujuk pada sebuah survei yang dilakukan Founder Rawon Bar terhadap pengguna aplikasi Go Food, masakan Indonesia masih menempati posisi teratas dalam hal jumlah makanan yang sering dipesan.

Makanan lokal unggul jauh dengan presentase 85% ketimbang makanan western atau Jepang.

“Bikin makanan lokal lebih mudah di-manage, dan saya kira akan menjadi tren baru di kota-kota besar,” ujar Kevindra.

Penulis: Rikko Ramadhana
Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Veteran

Written by Redaksi Belanga

Media kuliner berbasis komunitas, merawat ragam rasa kuliner Indonesia. #BedaRasaSatuIndonesia.

Happiness Festival 2019: Kuliner Itu Penting Untuk Sustainable Tourism

Gluten Free Sama Dengan Hidup Sehat, Benarkah?