in

7 Varian Es Dawet Ini Populer Banget di Pulau Jawa

Yang segar, yang dingin, dan yang “jendol”.

Mendengar kata dawet, mungkin kamu langsung terbayang es dawet ayu Banjarnegara yang segar itu. Es dawet ayu Banjarnegara sangat populer di Indonesia. Meski begitu, ternyata ada berbagai varian es dawet yang beredar di Pulau Jawa, utamanya Jawa Tengah.

Tapi, pertama-tama, apa sbeda dawet dengan cendol?

Pada dasarnya, dawet dan cendol adalah olahan tepung beras yang sama. Dawet atau cendol identik dengan warna hijau serta tekstur kenyal.

Nama dawet lebih dikenal di Jawa Tengah, sedangkan masyarakat Sunda biasa menyebutnya cendol.

Menurut kepercayaan orang Sunda, istilah cendol berasal dari kata “jendol” yang merujuk pada sensasi “jendolan” ketika cendol diminum bersama kuah santan. Rasa “jendol” ini juga bisa dirasakan saat minum bubble milk tea.

Kalau sudah tahu bedanya, ini dia berbagai varian es dawet yang populer di Pulau Jawa.

1. Es Dawet Ayu

Varian es dawet paling populer di Indonesia ini berasal dari Banjarnegara. Ciri pedagang dawet ayu Banjarnegara adalah terdapat dua tokoh wayang di gerobak jualnya, yaitu Semar dan Gareng.

Banyak versi sejarah mengapa dawet Banjarnegara disebut “dawet ayu”.

Ada yang bilang kalau nama ini terinspirasi dari lagu tahun 80-an berjudul “Dawet Ayu Banjarnegara”.

Tapi, ada pula yang mengatakan bahwa peraciknya punya istri berwajah cantik atau ayu dalam bahasa Jawa.

Es dawet satu ini terbuat dari tepung beras dan warna hijaunya didapat dari air daun suji.

Biasanya ia disajikan dengan campuran gula merah cair, santan cair, potongan nangka, dan es batu.

2. Es Dawet Ireng

Dawet ireng merupakan es dawet khas Butuh, sebuah kecamatan di wilayah Kabupaten Purworejo.

Kata “ireng” berasal dari bahasa Jawa yang berarti hitam. Seperti namanya, dawet ireng terkenal dengan butir dawet berwarna hitam pekat.

Warna hitam ini didapat dari abu merang atau jerami yang dicampur air untuk menghasilkan pewarna makanan alami.

Jika dawet Banjarnegara berbahan dasar tepung beras, dawet ireng memakai tepung sagu aren.

Meski warna dan bahan dasar dawetnya berbeda, penyajian es dawet ireng mirip dengan es dawet ayu Banjarnegara. Sebagian besar, es dawet ireng disajikan dalam mangkuk kecil.

3. Es Dawet Sambal

Es dawet pakai sambal? Kamu pasti jarang mendengar varian satu ini, karena memang sudah langka.

Kuliner unik ini konon lahir dari keisengan seorang penjual dawet yang bosan dengan rasa dawet yang manis di Jatimulyo, Kulonprogo. Hasil coba-cobanya, justru menghasilkan kuliner ini.

Bulir-bulir dawetnya berwarna putih, berasal dari tepung pati gayong. Lalu, diberikan saus dari nira dan ditambahkan bermacan topping yang beda dari es dawet pada umumnya.

Topping yang ditambahkan justru seperti kecambah, irisan tahu, brambang goreng alias bawang goreng, dan tentu saja sambal pecel seperti tampak di atas.

Beda versi, ada pula dawet sambal dengan topping kubis yang dirajang, kecambah, dan seledri. Kuahnya campuran air santan dan gula merah, dan tentu saja sambal pecel.

Kalau soal rasa, jangan membayangkan yang aneh-aneh, dawet yang biasa dijual di pagi hari di pasar-pasar tradisional ini mirip dengan kupat tahu atau tahu campur khas Magelang.

4. Es Dawet Grandul Ketan

Es dawet grandul ketan berasal dari Kota Pleret, Blitar. Dawet ini disajikan dengan bubur sumsum yang dicampur dengan “grandul”.

Grandul adalah bola dari tepung ketan dan gula aren. Teksturnya kenyal dengan rasa manis legit.

Di daerah lain, grandul juga biasa disebut “candil”. Selain grandul, es dawet ini juga ditambahkan bubur ketan hitam.

Tidak hanya menghilangkan dahaga, es dawet grandul ketan yang lezat ini juga cukup mengenyangkan dengan banyaknya isian dalam satu mangkuk.

5. Es Dawet Semarang

Sesuai dengan namanya, es dawet ini berasal dari Kota Semarang. Dawetnya terbuat dari tepung maizena yang dipanaskan hingga kenyal.

Penyajian es dawet Semarang semakin khas dengan tambahan daging durian lokal atau durian Montong khas Medan. Supaya makin bercita rasa, es dawet Semarang juga diberi tape ketan dan potongan nangka.

Sekilas, es dawet Semarang mirip dengan es campur serut. Pada bagian atas, bahan-bahan tadi ditutupi gunungan es serut yang disiram kuah santan dan sirup gula merah.

Rasa manis, gurih, dan segar benar-benar lumer di mulut. Nikmat!

6. Es Dawet Telasih

Telasih atau selasih? Jangan bingung. Orang Solo biasa menyebut selasih dengan “telasih”.

Alhasil, nama inilah yang dipakai untuk es dawet khas Kota Solo yang banyak dijumpai di kawasan Pasar Gede.

Es dawet telasih terdiri dari dawet hijau, tape ketan hijau, bubur sumsum, dan biji selasih.

Kalau biasanya es dawet pakai siraman sirup gula merah, es dawet telasih memakai sirup gula pasir.

Rasa manisnya memang beda, tapi tidak kalah menyegarkan dibanding es dawet lainnya.

7. Es Dawet Jepara

Es dawet Jepara menggunakan tepung sagu aren. Tekstur dawetnya lebih halus dan kenyal.

Penyajiannya tidak jauh berbeda dengan dawet ayu Banjarnegara, tapi dawet Jepara sering ditambahkan lebih banyak isian seperti alpukat, durian, kelapa, dan nangka.

Baca juga: 6 Es Campur Indonesia Ini Segarnya Bukan Main

Beragam varian es dawet khas daerah Jawa Tengah ini segar maksimal sebagai pelepas dahaga, apalagi dinikmati saat siang terik. Sedap!

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Contributor

Written by shabrinaraini

Content Author

Kuliner Indonesia, Cinta Sang Profesor yang Tak Berkesudahan

Naniura yang naik kelas dengan salmon, sea urchin, dan kaviar.

Koki Ini Bikin Hidangan Raja di Ubud Food Festival 2019