Logo Balanga

BAKSO SA’ENDHASE KUCING

 BAKSO SA’ENDHASE KUCING

BAKSO SA’ENDHASE KUCING

“Bakso sa’endhase kucing!” kata kakak perempuanku dengan bersemangat saat menceritakan tentang bakso yang dijual di dekat kampusnya. Artinya: bakso sebesar kepala kucing.

Waktu itu aku masih SMA. Kata-kata itu sangat melekat di kepalaku hingga kini, dan masih sering membuatku tersenyum sendiri. Ada-ada saja mbakku ini.

Malang terkenal dengan bahasa walikan yang artinya bahasa kebalikan. Beda dengan SpongeBob yang punya  hari kebalikan Saat mengatakan suatu kata, kita tinggal mengucapkannya terbalik, dari belakang ke depan. BAKSO jadi OSKAB. MALANG jadi NGALAM. Mudah kan? Meskipun kalau terlalu banyak kata, apalagi dijadikan satu sekaligus, jadi bingung juga. Waktu ospek maba, kakak tingkat mengerjai temanku yang AREMA (singkatan: Arek Malang) dengan menyuruh membalik semua katanya saat berbicara sehingga dia kebingungan. Untung bukan aku yang disuruh!

Kembali ke bakso. Bakso di Malang juga disebut penthol. Jadi penthol itu daging yang bulat-bulat. Kalau komplit sama mie, tahu, dll baru disebut oskab. Istilah ini pernah membuat aku ditertawakan teman-teman satu mobil jemputan saat berangkat kerja dulu. “Lucu dan aneh kedengarannya”, kata mereka sambil tertawa terpingkal-pingkal. Maklum kebanyakan dari mereka bukan orang Jawa Timur, tapi orang Jakarta atau Bandung

Anehnya, di luar Malang seperti Surabaya, bakso Malang disebut Bakwan Malang. Padahal istilah itu justru jarang terdengar di kota asalnya. Mungkin karena ada bakwan, sebutan buat bakso goreng yang menjadi pelengkap dalam semangkok bakso Malang. Ini juga yang menjadi salah satu ciri khas Bakso Malang. 

Kalau bakso di daerah lain, seporsinya hanya ada bakso kasar dan halus, mie kuning, mie putih (bihun), kadang ada tahu bakso. Kalau di Malang lebih komplit. Karena selain yang baru kusebut di atas, masih ada somay (atau pangsit) goreng, bakwan goreng, pangsit rebus, tahu bakso (goreng dan rebus) dengan kuah bening yang aromanya sangat khas. Sangat wangi dan sedaapp, berbeda dengan jenis kuah bakso lain yang hanya beraroma daging. Belum lagi kalau ditambahkan saos tomatnya yang merah dan berasa manis (yang berbeda dengan saos yang dijual pada umumnya), saos sambal, sambal, rajangan daun bawang+seledri, dan taburan bawang merah goreng. Nyammm..

Entah apa yang membuat bakso Malang sangat wangi, sampai sekarang masih misteri bagiku. Mungkin karena dulu mereka memakai arang untuk memasaknya? Entahlah. Yang pasti, saat pedagang bakso Malang membuka tutup pancinya, wuihhh aromanya menguar kemana-mana. Sungguh penderitaan buat yang sedang lapar, tapi tidak mempunyai uang untuk membelinya seperti aku dulu. Maklum kantong mahasiswa

Bakso sebesar kepala kucing yang dikatakan kakakku di atas adalah bakso yang menjadi favoritku sampai sekarang, meskipun ukurannya sudah tidak sebesar dulu. Dulu pun tidak sebesar kepala kucing sebenarnya, sebesar kepala anak kucing bisa jadi  

Penjualnya membuka lapak di gang, di balik tembok (dulunya) Bioskop Dinoyo. Sayangnya bioskop penuh kenangan para mahasiswa di jamanku itu sudah bubar, diganti entah toko apa. Syukurlah lapak baksonya masih ada. Kuah baksonya sih tidak istimewa, dibanding punya mas-mas penjual keliling banyak yang lebih enak. Tapi, penthol  alusnya itu mantabb sekali. Sampai sekarang aku belum menemukan bakso seperti itu di penjual yang lain. Baksonya padat-kenyal di luar, tapi lembut-halus-kenyal di dalam. Tahu baksonya juga istimewa. Besar, padat dengan aroma yang wangi. 

Saat beli dan makan ditempat itu, biasanya aku meminta piring saos kecil yang  akan kuisi dengan saos tomat, saos sambal, dan kecap. Sambil menyeruput kuahnya, aku cocol potongan bakso ke campuran saos tadi. Aduuhh surgaaa!

Dulu semalam sebelum kembali ke kota masing-masing, aku dan kakak-kakakku sering memborong penthol dan tahunya buat persediaan di rumah. Dan biasanya, supaya ‘rasa surga’ ini  tidak cepat hilang, aku hemat dengan memakannya sedikit-sedikit

Mudik terakhir, aku tidak sempat banyak hunting makanan, termasuk ke bakso Dinoyo kesayanganku, karena waktu yang sempit. Alhamdulillah, kakak iparku membelikan bakso langganannya yang tidak kalah dahsyat. Dari penampilan malah lebih dahsyat. Bakso Iga Beranak! Karena beranak 3-4 bayi bakso, ukurannya jadi sangat besar. Ini bakso sa’endhase kucing versi zaman now! 

Meskipun tekstur dan rasanya tidak semantap bakso Dinoyo, tapi bakso iganya sungguh wow! Potongan daging bakso dan iga dijadikan satu dan ditempelkan ke tulang iganya. Kenyal, gurih  dan padat. Kuahnya lumayan, dan somay gorengnya enaak dan renyah dengan beberapa pilihan isi yang aku lupa jenisnya. 

Makan seporsi membuatku masih kekenyangan hingga berjam-jam kemudian. Sekali lagi WOW! NYAMLENG TENANN!!

#KulinerJuaraKampungHalaman #BelangaIndonesia #GoodIndonesianFood

 

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *