in ,

Ada Tradisi Kuliner Bambu dan Tuak di Ubud Food Festival 2019!

Tradisi ini bahkan sudah tercatat dari 1852!

Ubud Food Festival 2019
Tu-in Ayam khas Sikka, Maumere yang dimasak di dalam bambu. (Foto: Belanga.id/ Manggarayu)

Memasak di dalam sebatang bambu bukanlah tren kemarin sore. Ubud Food Festival 2019 by ABC menyoroti bahwa bangsa Indonesia telah mengamalkannya sejak berabad-abad silam. Ini bukan fenomena atau tradisi yang hanya terjadi di satu daerah, tapi tersebar di pulau-pulau Indonesia dengan kekhasan masing-masing.

Ida Pfeiffer yang berkebangsaan Austria pada 1852 menulis tentang metode memasak nasi dalam bambu di Sumatra.

Kala itu yang ia catat adalah kuliner lemang atau lemeng, yaitu beras ketan dicampur santan yang dimasak di dalam bambu.

Pengaruh ini menyebar menyebar ke daerah lain seperti Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur, Ternate, hingga Bali.

Selain nasi, beberapa lauk juga bisa turut dimasak di dalam bambu. Founder Pengalaman Rasa Ayu Gayatri Kresna menunjukkannya dalam sesi Teater Kuliner berjudul “Cooking in Bamboo” dalam Ubud Food Festival 2019.

Baca juga: Pa’piong Bambu, a la Toraja

Perempuan yang terinspirasi “Mustika Rasa” karya Presiden Soekarno. mengaku dirinya gemar membawa resep-resep khas daerah.

“Kalau saya dan tim Pengalaman Rasa pergi ke daerah mana, oleh-olehnya resep,” ceritanya.

Siang itu (26/4), Ayu dan tim menyiapkan tiga jenis lauk berbahan dasar ayam, yakni Timbungan khas Bali, Pa’piong khas Toraja, dan Tu-in Ayam khas Sikka, Maumere.

Ubud Food Festival 2019
Ayu saat melakukan demo masak dengan bambu. (Foto: Belanga.id/ Manggarayu)

Tidak semua jenis makanan dapat dimasak di dalam bambu. Proses memasak di dalam bambu bisa dibilang slow cook, maka bahan-bahannya harus disesuaikan agar tidak hancur.

Ayu memberikan tips. Misalnya dalam memilih ayam, pastikan tekstur dagingnya lebih padat, seperti ayam kampung atau pejantan.

Ada beberapa hal lain yang juga harus diperhatikan saat memasak dengan bambu.

Ubud Food Festival 2019
Memasak di dalam bambu dengan menggunakan tungku sederhana. (Foto: Belanga.id/ Manggarayu)

Bambu yang digunakan, misalnya, harus tepat. Ayu sendiri memakai bambu tali yang biasa dipakai untuk anyaman.

“Bambu tali ini lebih liat. Saya pilih yang baru dipotong karena kandungan airnya masih banyak,” ungkap Ayu.

Bambu dengan kadar air yang cukup tidak membuat masakan pecah. Teksturnya terasa lembut ketika bertemu lidah.

Bambu yang dipakai untuk masak baiknya ‘sekali pakai’ saja dan tidak dipakai untuk memasak lagi.

Sebabnya, rasa masakan baru bisa tercemar oleh bumbu atau bahan masakan sebelumnya.

Ketika hendak memasukkan bahan-bahan ke dalam bambu, beberapa lembar daun pisang dimasukkan terlebih dahulu sebagai alasnya.

“Daun pisangnya harus pilih yang tepat. Kita bisa pakai daun tertentu seperti pisang batu yang memang digunakan sebagai pembungkus,” tambahnya.

Daun pisang yang bagus tidak akan hancur ketika masuk ke bambu dan bahan yang dimasukkan tidak akan merobeknya ketika harus dimasak lama.

Proses memasak dengan bambu makan waktu kurang lebih 1-1,5 jam. Bambu perlu diputar-putar agar matangnya merata.

Untuk tempat pembakaran tidak perlu tungku khusus. Ayu mencontohkan tempat bakar bambu yang bermodal kayu bakar dan bilah bambu yang dirangkai seperti tiang jemuran.

Sembari menunggu, tradisi masak bambu ternyata tidak sebatas memasak dan makan saja. Tuak ikut disajikan sebagai teman bersantap, baik sebelum atau sesudah makan.

Gede Kresna, suami Ayu dan Founder Pengalaman Rasa, menyajikan dua botol tuak sembari menunggu bambu-bambu tadi matang.

Ubud Food Festival 2019
Gede Kresna membagikan tuak pada peserta. (Foto: Belanga.id/ Manggarayu)

Ada dua jenis tuak yang disajikan, yakni tuak non fermentasi (manis) dan tuak fermentasi.

Rasanya tentu jauh berbeda. Tuak manis terasa lebih ringan dan mudah diminum. Rasanya mirip air ketan dengan sedikit sentuhan soda.

Sebaliknya, tuak fermentasi punya aroma kuat dan tak bisa sekali teguk bila belum terbiasa. Ada sedikit aroma karet pada after taste-nya.

Meski mengandung alkohol, bersantap masakan bambu dan minum tuak jadi tradisi di beberapa daerah Indonesia.

Ada yang menyantapnya ketika acara adat, ada pula saat momen khusus seperti malam tahun baru.

Masakan yang matang bisa dilihat dari bambu yang menguning. Bila sudah demikian jauhkan bambu dari api.

Sebelum membuka tutup bambunya, harus berhati-hati agar tidak terkena uap panasnya. Proses mengeluarkan makanannya dilakukan berulang kali dengan mengetukkan bambu ke tanah.

Ubud Food Festival 2019
Sejumput nasi ditemani Timbungan dari Bali dan Tu-in Ayam dari Sikka, Maumere. (Foto: Belanga.id/ Manggarayu)

Sajikan bersama tuak. Selamat makan!

Ubud Food Festival 2019 Presented by ABC berlangsung pada 26-28 April 2019. Info lengkap ada di ubudfoodfestival.com. Simak liputannya di Belanga Indonesia.

Penulis: Manggarayu
Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Expert

Written by Redaksi Belanga

Media kuliner berbasis komunitas, merawat ragam rasa kuliner Indonesia. #BedaRasaSatuIndonesia.

8 Perempuan Jawara Dunia Kuliner Ini Hadir di Ubud Food Festival!

sedasa farm to table

Chef Petani Ini Gaungkan “No Farm, No Food” dari Badung