9 Kuliner Pontianak yang Gurih dan Patut Dicoba

Siapa sangka nasi telur kecap viral di media sosial. Padahal, kuliner malam dari Pontianak ini tak beda dengan santapan akhir bulan ala anak kost. Konon, rahasianya adalah rasa kecap Kalimantan yang beda dari yang lain. Kecap ini merupakan hasil olahan masyarakat peranakan Tionghoa yang mendiami Kota Khatulistiwa.

Kuliner Pontianak memang terkenal dengan unsur peranakan. Menurut Khamsyah Rachman, pengasuh Instagram @sejarahpontianak, Kota Khatulistiwa ini adalah kota heterogen. Tak hanya kongsi Tionghoa yang ada sejak abad ke-18, kuliner Pontianak juga kental akan budaya Melayu. Hal ini terbukti dari berdirinya kesultanan Pontianak sejak 1771 masehi. Salah satu budaya makan Melayu yang diwariskan adalah seprahan, yakni duduk dan makan bersama dalam barisan panjang. Tradisi ini mirip “bancakan” di Tanah Jawa.

Menurut Rachman, kuliner Pontianak memadukan budaya Melayu, Dayak, dan Tionghoa. Berdasarkan penelusuran Belanga, ada perpaduan cita rasa tiga suku di atas dengan bahan-bahan setempat. Makin penasaran? Simak daftar berikut!

1. Bubor Paddas

Bubor Paddas Pontianak Sambas
Bubor Paddas atau Bubur Pedas (Foto: travelingyuk.com)

Pernah mencoba bubur tinutuan khas Manado? Pontianak juga punya bubur serupa, yakni bubor paddas atau “bubur pedas”. Seperti namanya, bubur ini memakai banyak rempah dengan sensasi menyengat seperti ketumbar, sahang (lada Kalimantan), garam, dan penyedap rasa. Bubur ini juga wajib memakai satu daun yang mirip kemangi, yakni daun kesum.

Dari Rachman, Belanga mengenal kisah tentang Mak Kasum. Konon, raja Sambas yang hidupnya sejahtera dan kaya raya saat itu tiba-tiba jatuh sakit. Nafsu makannya menurun, sehingga pelayan istana berusaha mencari santapan yang bisa menyembuhkan. Mak Kasum adalah pelayan yang meracik bubur rempah untuk raja.

Ketika sembuh dan nafsu makannya kembali, raja Sambas bertanya pada Mak Kasum, “Daun apakah yang kau gunakan dalam masakan itu, sehingga bisa mengembalikan nafsu makanku?” Mak Kasum mengaku tak tahu tentang nama daun itu, hingga akhirnya raja Sambas menamai daun itu sebagai daun kasum atau kesum.

Selain daun kesum, bubur pedas juga memakai daun pakis, kacang panjang, toge, wortel, kol gambas, ubi jalar, daun kunyit, dan ikan teri.

Baca juga: Resep Bubur Ayam Jakarta, Sarapan Asik Sebelum Bertarung di Ibukota

2. Mie Tiaw

 

 

A post shared by INDOZONE – FOOD (@indozonefood) on

Kamu penggemar kwetiaw? Jangan sampai melewatkan kwetiaw khas Pontianak yang legendaris. Konon, racikan bumbu kwetiaw atau mie tiawnya paling enak se-Indonesia.

Pada dasarnya, kwetiaw atau mie tiaw Pontianak tak jauh beda dengan daerah lainnya. Mie putih ini disajikan dalam bentuk goreng, kuah, dan tumis. Bahan-bahan tambahan seperti tauge, bayam, dan potongan daging atau seafood semakin menambah ciamik.

Baca juga: Mie Ala Tiongkok Ini Tercipta Untuk Kaum Buruh Indonesia

3. Sotong Pangkong

Sotong Pangkong Pontianak
Sotong Pangkong (Foto: food.idntomes.com)

Menjelang bulan Ramadhan, jangan kaget bila banyak orang mengantri di sepanjang Jalan Merdeka. Sejak sore hingga malam, warga Pontianak dan para pelancong

Cumi besar atau sotong adalah salah satu hasil laut Kalimantan Barat. Santapan ini sudah ada sejak abad 20 dan dijajakan oleh pedagang Tionghoa-Pontianak. Dilansir dari akun Instagram @sejarahpontianak, pusat jajan sotong pangkong berada di Jalan Merdeka pada 1980-an.

Pada dasarnya, sotong pangkong adalah cumi besar yang dikeringkan. Selanjutnya, cumi dibakar di atas arang lalu dipukul dengan palu (dipangkong). Orang Pontianak percaya bahwa daging cumi yang dipukul-pukul akan lebih gurih. Jajanan ini wajib dicocol dengan sambal kacang nan pedas.

Baca juga: Resep Cumi Masak Hitam Gurih, Cocok Untuk Nasi Campur

4. Ale Ale

 

 

A post shared by Merry Mervin (@merry_mervin) on

Eits jangan salah, ini bukan merek minuman rasa buah. Ale-ale yang satu ini berasal dari Ketapang, Kalimantan Barat. Produksinya begitu besar hingga kabupaten di tepi Sungai Pawan ini dijuluki “Kota Ale-Ale”.

Ale-ale merupakan hewan laut dalam filum Mollusca dengan nama Latin Meretrix spp. Bentuknya mirip remis dengan ukuran lebih kecil. Ale-ale mudah ditemukan saat air muara Sungai Pawan sedang agak surut. Warnanya putih atau abu-abu dengan daging bening yang gurih. Masyarakat percaya bahwa Sungai Pawan merupakan wujud dari sebuah pohon di masa lampau, sedangkan ale-ale adalah buah dari pohon tersebut.

Seperti halnya remis atau kerang, ale-ale bisa diolah jadi beragam masakan. Misalnya dibuat sup, tumis, masak serundeng, dan sebagainya. Favorit masyarakat Ketapang adalah ale-ale yang direbus dan diberi garam agar gurih. Santap dengan nasi dan sambal, hmm mantap!

5. Sate Sapi Kuah

Sate Kuah Pontianak
Sate Sapi Kuah (Foto: pecelmerapi.blogspot.co.id)

Biasanya, sate khas Indonesia dibuat dengan daging ayam atau kambing. Namun sebagian daerah Indonesia, Pontianak misalnya, justru memilih daging sapi.

Cara masaknya sama seperti sate lain, tapi tunggu hingga tahap penyajian. Setelah dilumuri saus kacang, sate sapi akan disiram kuah kaldu sapi nan gurih. Sate sapinya pun terasa manis dan empuk. Bumbu sate Pontianak adalah kacang tanah, gula merah, merica, ketumbar, dan kecap.

Sate sapi kuah disajikan dengan potongan lontong dan taburan bawang goreng. Kalau ingin lebih kenyang, cicipi perpaduan sate sapi dan lontong sayur di Singkawang. Isian lontong sayurnya begitu lengkap, yakni labu siam, nangka, kacang panjang, telur rebus, serundeng, ebi, dan emping.

Baca juga: Resep Sate Maranggi, Sajian Lezat Tanpa Bumbu Kecap atau Kacang

6. Sambal Wak Dolah

Sambal Wak Dolah Pontianak Melayu
Sambal Wak Dolah (Foto: tukangjalanjajan.com)

Dalam bahasa Melayu, “wak” berarti lelaki yang dituakan atau dihormati. Bisa ditebak, sambal wak dolah adalah racikan khas dari Wak Dolah yang warga Pontianak asli. Sebab, sambal ini memang jarang ditemukan di daerah lain.

Sekilas sambal wak dolah mirip sambal dabu-dabu khas Manado. Komposisi sambal ini adalah potongan tomat, bawang merah, timun, irisan cabai merah, serta daun jeruk. Rasanya segar dan pedas, cocok disantap dengan hidangan laut dan nasi hangat. Sambal wak dolah juga kerap hadir dalam sebagai pendamping lauk dalam adat seprahan.

7. Chai Kwe

Chai Kue atau Choi Pan Hakka Singkawang
Chai Kue atau Choi Pan (Foto: foodrooter.blogspot.com)

Penggemar dimsum tak boleh melewatkan chai kwe alias “kue sayur”. Sajian ini populer sebagai sarapan atau pengganjal perut di Singkawang dan Pontianak.

Chai kwe merupakan dimsum khas suku Hakka atau Khek. Nama sebutannya pun beragam seperti chai kue atau choi pan. Konon di negara asalnya, ada dua versi chai kwe yakni chai kwe rebus dan chai kwe kukus. Untuk Pontianak, chai kwe kukus paling populer dan luas penyebarannya.

Teksturnya lembut dan kenyal dengan kulit putih yang agak transparan. Pada dasarnya, kulit choi pan dibuat dari tepung beras dan tepung sagu. Namun ada juga yang membuatnya dengan tepung khas Tiongkok, yakni tang mien. Kemudian, adonan chai kwe diisi beragam bahan seperti rebung, ebi, bengkoang, udang, daging ayam, hingga daging babi.

Penyajian chai kwe identik dengan sebuah nampan lingkaran dari stainless steel yang dilapisi daun pisang. Chai kwe disusun di atasnya melingkari wadah tersebut, lengkap dengan taburan bawang goreng. Ingat, kudapan ini wajib disantap selagi hangat!

8. Siobi 

 

 

A post shared by Adam & Susan (@santapdulu) on

Sederhananya, siobi merupakan singkatan dari “siomay babi”. Dilansir dari dhinitiative.org, siomay otentik dari Tiongkok memakai isian daging babi (dan kadang dengan tambahan udang). Siomay atau shumai pertama dibuat di rumah-rumah teh sepanjang Jalur Sutera di daerah Kanton, Tiongkok.

Seiring peleburan budaya di Indonesia, isian siomay diracik ulang dengan bahan-bahan yang bisa disantap oleh semua kalangan, seperti ayam, udang, jamur, dan sebagainya.

Siobi tersebar di daerah Indonesia lainnya, tetapi yang khas Pontianak justru paling terkenal. Bahan-bahannya tak beda dengan siomay lainnya, hanya saja isian daging babinya bisa dicampur dengan bengkoang, udang, atau ayam. Siobi bisa dicocol dengan kecap asin atau saus pedas manis.

9. Pacri Nanas

Pacri Nanas Melayu Pontianak
Pacri Nanas (Foto: tastywanderer.blogspot.com)

Bayangkan jika potongan nanas yang segar dan asam dimasak ala kari India. Setidaknya, itulah impresi pertama saya saat mengenal masakan Melayu Pontianak ini. Namun siapa sangka, BPOM telah menyatakannya sebagai ikon kuliner Pontianak pada 2015 lalu.

Pacri atau paceri nanas merupakan salah satu hidangan lauk. Sajian ini kerap nongol di adat seprahan bersama sambal wak dolah. Dilansir dari viva.co.id, pacri merupakan hidangan kari khas India yang disantap bersama nasi briyani dan dalcha. Pacri nanas dapat mengurangi kolesterol dan lemak jenuh. Rasa asam dan kandungan dalam nanas jadi penawar yang baik untuk kesehatan jantung.

Pada dasarnya, pacri nanas adalah santapan khas Melayu. Tak hanya Pontianak, sajian ini bisa ditemukan di daerah hunian Melayu atau peranakan India seperti Aceh, Padang, Riau, dan daerah Sumatera lainnya.

Baca juga: Gulai Cubadak, Gulai Lezat dari Minangkabau

 

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *