Logo Balanga

8 Perempuan Jawara Dunia Kuliner Ini Hadir di Ubud Food Festival!

 8 Perempuan Jawara Dunia Kuliner Ini Hadir di Ubud Food Festival!

Mengabdikan diri untuk mendokumentasikan kuliner khas Indonesia. (Foto: Dokumen Pribadi)

Festival kuliner terbesar di Indonesia bertaraf internasional, Ubud Food Festival (UFF), berlangsung pada 26-28 April 2019. Memasuki tahun ke 5-nya, festival ini mengusung tema SPICE UP THE WORLD. Sudah saatnya hidangan Indonesia yang kaya rempah masuk dalam daftar makanan favorit masyarakat dunia.

Lebih dari 100 pembicara yang telah malang-melintang di dunia kuliner akan hadir. Di antaranya, ada 8 sosok perempuan panutan yang berbagi ilmu dan pengalamannya.

Baca juga: Ubud Food Festival 2019 Resmi Dimulai!

Bicara dunia kuliner tidak melulu tentang kiprah perempuan di dapur, tetapi juga keaktifan dalam mempromosikan dan melestarikan kuliner Indonesia. Siapa saja mereka?

1. Murdijati Gardjito, Peneliti Kuliner Indonesia

Mengabdikan diri untuk mendokumentasikan kuliner khas Indonesia. (Foto: Dokumen Pribadi)

Perempuan kelahiran 21 Maret 1942 ini adalah Guru Besar Ilmu Teknologi Pangan, sekaligus peneliti di Universitas Gajah Mada.

Mur, sapaan akrabnya, bagaikan “sesepuh” dalam dunia kuliner Indonesia. Wajar, karena pengabdiannya pada penelitian masakan khas Indonesia sudah berlangsung sejak 2003 silam.

Ia memulainya karena kekhawatiran karena kuliner Indonesia yang begitu kaya belum ada dokumentasinya dan rawan diklaim oleh negara lain.

Kini, ketika penglihatannya mengabur, wawasan kuliner Nusantara tidak ikut hilang. Mur masih aktif berbagi pengetahuan dengan masyarakat.

Bersama rekan-rekannya, Mur telah menuliskan lebih dari 60 buku yang membahas hidangan khas Indonesia yang bisa menjadi referensi pecinta kuliner Indonesia.

Dedikasi Mur diganjar penghargaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2013 silam.

Saat itu, ia didaulat sebagai Peneliti dan Pelestari Kuliner Tradisional pada Anugerah Kebudayaan, Kategori Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya.

Mur masih semangat dalam menghadiri berbagai undangan forum kuliner baik dalam skala kecil ataupun besar.

Baca juga: Ubud Food Festival 2019 Sajikan Aneka Program yang Dijamin Nikmat

Salah satunya adalah Ubud Food Festival 2019 dalam sesi acara Food for Thought pada 27 dan 28 April.

Dalam Opening Night UFF 2019, Mur dianugerahi Lifetime Achievment Award.

2. Sisca Soewitama, Pelopor Chef di Layar Kaca Indonesia

Generasi 90-an pasti mengenalnya. Bisa jadi kehadirannya di layar kaca yang paling ditunggu pecinta kuliner kala itu.

Ia adalah salah satu pelopor acara masak di Indonesia yang berjudul Aroma. Acara ini hadir di televisi dari 1997-2008.

Sisca Soewitomo dengan sabar menjelaskan berbagai bahan dan cara masak kuliner Indonesia hingga tampak sederhana untuk dilakukan.

Perempuan kelahiran 8 April 1949 ini sudah wara-wiri di dunia memasak sedari muda. Sisca menekuni kuliner dengan serius.

Ia menempuh pendidikan di Akademi Pariwisata Trisakti hingga mendapatkan beasiswa untuk menimba ilmu di American Institute of Baking dan mengasak kemampuannya di dapur, terutama pembuatan roti.

Tidak hanya jago demo masak dan menciptakan berbagai menu enak, Sisca berhasil melahirkan para koki hebat di tanah air. Sebut saja Rudy Choiruddin, Deddy Rustandi, dan Haryanto Makmoer.

Dedikasinya pada dunia kuliner sudah mencapai 50 tahun dan kemampuan memasaknya pun sudah dituangkan dalam sekitar 150 buku resep masak.

Dijuluki Ratu Boga Indonesia, ia sudah meraih beragam penghargaan. Salah satunya Ubud Food Festival Lifetime Achievement Award pada 2016.

Tahun ini ia hadir di Ubud Festival 2019 dalam sesi acara Teater Kuliner untuk memperkenalkan kuliner khas Betawi. Acaranya 28 April 2019, jangan ketinggalan!

3. Wida Winarno, Penggagas Gerakan Pelestarian Tempe

Puluhan tahun bergelut di dunia bioteknologi, Wida Winarno ingin berkontribusi pada negara.

Di antara banyak pilihan, ia memilih untuk berkontribusi terhadap pelestarian tempe.

Pada 2014, lulusan Institut Pertanian Bogor ini mendirikan Tempe Movement.

Tidak sendiri, ia ditemani anak sulungnya, Amadeus Driando Ahnan-Winarno, dan ayahnya, Prof. Dr. F. G. Winarno, yang merupakan Bapak Teknologi Pangan Indonesia.

Gerakan ini bertujuan untuk memperkenalkan tempe dan mendapatkan pengakuan dari dunia bahwa tempe itu milik Indonesia.

Melalui gerakan ini, Wida berhasil menyatukan para peneliti, penggemar dan penggiat tempe dalam Konferensi Internasional Tempe di Yogyakarta, Februari 2015 silam.

Wida aktif dalam memberikan workshop pembuatan tempe dan bercerita mengenai segala tentang tempe di berbagai lembaga dan komunitas.

Harapannya, semakin banyak orang mengonsumsi tempe, semakin banyak pula yang ingin terus melestarikannya.

Hadiri sesi Wida di Ubud Food Festival saat Masterclass: Homemade Tempe yang berlangsung 28 April 2019. Kamu bisa melihat langsung pembuatan tempe dari awal fermentasi hingga dapat dikonsumsi!

4. Ade Putri, Culinary Storyteller

Makanan tak hanya enak untuk dirasa, tapi enak juga kalau bisa diceritakan dengan beragam kata.

Ini yang membuat profesi Ade Putri sebagai culinary storyteller begitu istimewa.

Ade mampu menjelaskan berbagai rasa makanan yang dicicipi seperti pendongeng.

Pendengar tidak bosan mendengar kisahnya, bahkan seperti ikut merasakan apa yang dimakan oleh Ade.

Istilah culinary storyteller, sebetulnya ia ciptakan sendiri saat wanita kelahiran 1979 ini menjadi penyiar radio dan membawakan acara seputar makanan.

Kemampuannya ini tak hadir dalam waktu singkat, ia sudah mengasahnya dari mencicipi makanan buatan ibu dan menceritakan segala bumbu yang diicip sejak kecil.

Meski sudah mahir, tak membuat Ade berhenti belajar ia masih sering mencoba berbagai makanan dan rajin melakukan diskusi agar kemampuannya semakin meningkat.

Perempuan bernama lengkap Ade Putri Paramadita ini aktif di dunia kuliner sebagai penulis tentang makanan.

Tapi tidak hanya itu, ia juga penata makanan, konsultan makanan dan minuman, dan pemandu acara di salah satu serial web Indonesia.

Ade juga tergabung dalam Aku Cinta Makanan Indonesia yang ingin melakukan pelestarian kuliner tradisional Indonesia.

Di UFF 2019 Ade akan turut hadir sebagai pembicara pada 3 sesi acara Food for Thought.

5. Petty Elliot, Chef Otodidak dan Food Writer

Nama Petty Elliot di dunia kuliner sejatinya sudah tak asing lagi. Ia sudah malang melintang dalam dunia ini lebih dari 10 tahun sebagai koki dan food writer.

Kesukaan Petty dalam memasak sudah ada sedari dulu, sejak ia sering membantu dan mengamati neneknya memasak di rumah yang ada di Manado kala itu.

Perjalanannya sebagai chef otodidak dimulai pada awal 2000-an ketika ia dan suami menetap di Inggris.

Sejak itu Petty terus mengasah kemampuan masaknya. Ia senantiasa menyajikan masakan khas Nusantara kepada para tamu dan rekan suami yang kerap kali bertandang ke rumahnya. Hidangan Petty disambut baik.

Berangkat dari hal tersebut, ibu dengan dua anak laki-laki ini memberanikan diri untuk mendaftar sebagai peserta BBC Masterchef Inggris pada 2001.

Meski tidak menembus babak utama, Petty sadar bahwa kuliner Indonesia itu berpotensi untuk dikenalkan ke Eropa.

Pada 2002, dengan bekal pengalaman memasak selama di Inggris, ia kembali ke Indonesia dan mendapat tawaran untuk menjadi penulis makanan.

Merasa itu kesempatan emas untuk mengenalkan masakan Indonesia, Petty menerimanya. Hingga kini, ia masih berkarier sebagai food writer sekaligus chef.

Petty sudah menerbitkan beberapa buku, seperti Papaya Flower – Manadonese Cuisine Provincial Indonesian Food yang berisi resep masakan Manado.

Ia juga menulis Jakarta Bites: Exploring Vibrant Street Food From the Heart of Indonesia yang meraih penghargaan Buku Masak Terbaik Kategori Street Food di ajang Gourmand World Cookbook Awards pada 2017.

Petty hadir di UFF 2019 dalam sesi Kitchen Stage, Special Event: Ultimate Asian Barbeque dan Food for Thought: Stories from Behind the Pass 3.0.

6. Rinrin Marinka, Koki Selebriti

Perempuan dengan nama lengkap Maria Irene Susanto ini memiliki ketertarikan pada dunia memasak sejak duduk di bangku SD.

Ia menekuninya dengan serius sejak 2002 dengan bersekolah di Le Cordon Bleu, Sydney, dan mempelajari French Cuisine and Pastry secara khusus.

Koki yang akrab dipanggil Rinrin menetap di Sydney selama beberapa tahun. Ia menggali kemampuan memasaknya dengan melakukan magang di beberapa restoran di Sydney.

Rinrin kembali ke Indonesia dan aktif mengisi acara masak di televisi. Popularitasnya sebagai koki selebriti semakin meningkat sejak menjadi juri di Masterchef Indonesia.

Pada 2011 lalu, ia menerbitkan buku berisi kumpulan resep dengan judul “Fantastic Cooking”. Ada 30 resep bermacam hidangan hasil eksperimen Rinrin Marinka sendiri di dalamnya.

Di UFF 2019, Rinrin Marinka hadir di sesi Kitchen Stage untuk memberikan demo masak gohu ikan dan sambal smack down dan Food for Thought untuk menceritakan pengalaman menjadi juri di kompetisi memasak Masterchef Indonesia.

7. Theodora Hurustiati, Chef Asli Indonesia yang Sukses di Italia

Nama Theodora Hurustiati mungkin belum terlalu familiar di telinga masyarakat Indonesia. Wajar, karena chef satu ini lebih banyak menghabiskan waktunya di luar negeri.

Ia mendalami ilmu memasak di sekolah Civiform, Italia, salah satu sekolah perhotelan terkenal di dunia.

Kini namanya terkenal sebagai chef dan food writer handal di negeri yang identik dengan pizza itu. Ia juga sempat menulis artikel berjudul “Taste Bud” yang diterbitkan The Jakarta Post.

Sulung dari dua bersaudara ini pun berhasil menyabet juara dua pada ajang memasak bergengsi di Italia, yaitu “La Scuola – Cucina di Classe”.

Kecintaannya pada memasak sudah tumbuh di usia 9 tahun dan ia yakin melalui makanan bisa terjalin hubungan komunikasi yang harmonis.

Meski lama di Italia, Theodora tetap tidak bisa melupakan kuliner Indonesia. Favoritnya adalah sepiring nasi panas, ikan bakar, tumis kangkung, serta sambal.

Theodora pun beberapa kali menghidangkan masakan Indonesia di restoran tempat ia bekerja. Di satu waktu, nasi tumpeng mini buatannya terjual 200 porsi dalam waktu dua jam saja.

Theodora bisa dijumpai dalam Ubud Food Festival disesi acara Kitchen Stage. Ia akan melakukan demo masak dengan memadukan rasa klasik antara Bali dan Italia.

Kemudian ia akan hadir kembali di Masterclass: Food Writing untuk membagikan cara mengembangkan ide menjadi resep, lalu jadi artikel yang mendorong pembaca untuk langsung menuju dapur.

8. Janet DeNeeFe, Pendiri UFF

Perempuan kelahiran Australia ini adalah pemilik Casa Luna, Indus, serta Honeymoon Guesthouse and Bakery di Ubud.

Bicara soal kecintaannya akan Indonesia, terutama Bali tidak perlu diragukan. Janet sudah menetap di Bali lebih dari 25 tahun bersama suami yang merupakan orang Bali asli beserta anak-anaknya.

Pada 2003, ia berhasil menerbitkan buku yang berjudul Memoir Cookbook Fragrant Rice. Dalam buku itu ia menceritakan kisah hidupnya selama di Bali sambil berbagi resep dan tradisi lokal yang ada di sana.

Tidak berhenti di satu buku, pada 2011 Janet kembali menerbitkan buku masak khusus untuk makanan Bali yang menjadi favoritnya.

Pada 2004, Janet menyelenggarakan Ubud Writers and Readers Festival, sebuah acara sebagai tanggapan kepada bom Bali pada 2002.

Acara itu pun dinobatkan sebagai salah satu acara terbaik di dunia oleh Harper’s Bazaar UK.

Pencapaian Janet yang cukup menyita perhatian adalah bersama rekannya Janet berhasil menyelenggarakan Ubud Food Festival pada 2015.

UFF menjadi warga berbagai makanan Indonesia diperkenalkan bersama para ahli kuliner ternama. Acara ini pun sukses mengenalkan berbagai kuliner nusantara di mata dunia.

Baca juga: Ubud Food Festival Gelar Deretan Acara Gratis!

Keberadaan UFF, salah satu acara kuliner terbesar dan terbaik di Indonesia, juga mampu mendongkrak pariwisata dan perekonomian masyarakat di Ubud, termasuk yang berlangsung pada 26-28 April 2019.

Editor: Ellen Kusuma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *