in

7 Jajanan Legendaris Glodok Ini Bikin Nagih!

Menjelang perayaan Imlek, hujan sering mengguyur jalanan Jakarta yang padat. Sama seperti saat kami datang ke Glodok, awal Februari 2019 lalu. Untunglah bukan hujan deras hingga membuat perjalanan terganggu. Pagi itu kami berniat mencicipi berbagai jajanan Glodok yang sudah melegenda.

Tidak sulit untuk menuju ke sana. Bisa naik kereta turun di Stasiun Jakarta Kota atau naik TransJakarta dan turun di halte Glodok atau Jakarta Kota, dan selanjutnya tinggal berjalan kaki.

Pilihan kami jatuh ke nomor dua, yaitu naik TransJakarta dan turun di halte Glodok, karena lebih efisien untuk menuju destinasi pertama kami hari itu.

Selama perjalanan hujan terus turun rintik-rintik. Kami harus berlari kecil dan hati-hati. Belum ada jalan kaki lima menit, mata kami menangkap pedagang dengan pikulan bertuliskan “LIONG” dan berisi roti-roti .

1. Roti Liong

Tanpa pikir panjang kami pun berhenti. Kapan lagi bisa menemukan roti legendaris yang sudah ada sejak 1960-an ini?

Ukuran rotinya besar dengan berbagai pilihan rasa. “Roti yang paling laris adalah rasa kelapa dan keju,” ujar Pak Eki, sebagaimana penjualnya sering disapa.

Kami pun memutuskan membeli dua rasa tersebut, ditambah rasa cokelat. Kalau beli tiga harganya jadi 10.000 rupiah, sedangkan kalau beli satuan 3.500 rupiah saja. Selain tiga rasa tersebut, ada pula rasa nanas dan susu.

Tekstur rotinya tidak terlalu lembut tapi tidak terlalu kasar juga untuk dikunya. Isiannya cukup banyak, terutama untuk pilihan rasa kelapa. Rasanya makan satu roti bisa untuk mengganjal perut. Untuk kamu yang tidak suka manis, roti ini bisa jadi pilihan.

Menemukan roti liong memang susah-susah gampang. Eki menjelaskan bahwa jumlah penjualnya hanya 80 orang tersebar di seluruh Jakarta. “Paling mudah ditemukan, ya, di sekitaran Glodok atau pasar pagi,” ungkapnya.

Jadi, kalau kamu berjumpa makanan yang satu ini, lebih baik cicipi dulu karena belum tentu bisa ketemu lagi.

Setelah mencoba roti liong, kami pun melanjutkan perjalanan kurang lebih 300 meter menuju ke salah satu gang yang tersohor dengan banyaknya pilihan jajanan khas pecinan.

Namanya Gang Kalimati. Baru masuk saja kami sudah disambut dengan berbagai pernak-pernik bernuansa pecinan yang meriah dan merah menyala.

Jalan sedikit kami sudah menemukan penjual cong fan yang memarkir dagangannya.

2. Cong Fan


Penganan pecinan khas Medan: chi cong fan! (Belanga.id/Anisa Sekarningrum)

Makanan ini serupa tapi tak sama dengan kwetiau. Teksturnya lebih tipis dan lembut. Penasaran, kami memutuskan untuk memesan satu porsi lengkap cong fan dengan tambahan siomay, lumpia, lobak kukus, dan uyen talas. Semuanya hanya dengan harga tidak sampai 20.000 rupiah.

Tidak perlu waktu lama bagi kami menikmati makanan yang jadi salah satu menu wajib jika berkunjung ke Glodok. Saleh, selaku penjual, langsung sigap menggunting cong fan dan pesanan kami lainnya. Kemudian ia menyiramnya dengan kecap asin, saus pedas, dan terakhir ditaburi bawang goreng.

Saat masuk mulut tekstur lembut dari cong fan langsung terasa, jadi tidak perlu usaha keras untuk menelannya. Ada siomay yang terbuat dari tepung beras, renyahnya lumpia, empuknya lobak kukus dan uyen talas menambah beragam tekstur yang menggoyang lidah. Siraman kecap asin, saus, taburan wijen dan bawang membuat cita rasanya, hmmm, umami!

Saat ini penjual cong fan di sekitaran Glodok tidak banyak, hanya ada 5 orang. Mereka tersebar di berbagai titik, dan walau menggunakan motor penjual cong fan tidak berkeliling. Mereka biasa menetap di satu tempat saja sampai dagangannya habis. Makanan ini bisa kamu temui dari jam 8 sampai jam 4 sore.

Kami kembali melanjutkan perjalanan sambil ditemani suara klakson yang sibuk bersahutan. Sesekali terdengar suara “awas”, “permisi” dari orang-orang yang berusaha menembus jalanan sempit ini.

3. Mipan

Tidak semudah mencari cong fan yang ada di dekat muka Gang Kalimati, mencari mipan harus berjalan agak jauh ke dalam. Setelah mencari beberapa lama akhirnya kami menemukan pedagang mipan.

Kami langsung menghampiri dan memesan satu porsi mipan dengan harga 10.000 rupiah.

Penyajiannya sederhana, mipan yang dibuat dengan tepung beras diletakkan di alumunium foil dan dipotong beberapa bagian kemudian disiram dengan gula merah dan ditambah bawang putih cincang.

Sambil menghabiskan makanan, kami berbincang sedikit dengan Yadi, penjualnya. Ternyata mipan ini diantar dari Tangerang sejak pagi dan mulai dijual jam setengah sepuluh hingga lima sore.

Penjualnya di kawasan Glodok hanya tinggal dua orang. Wah, pantas saja lumayan susah mencarinya. Harus jeli mencari makanan ini kalau mau mencobanya.

4. Roti Srikaya

Sepotong roti srikaya dengan selai yang lumer. (Belanga.id/Anisa Sekarningrum)

Satu yang tidak boleh kelewatan kalau sudah berada di Gang Kalimati ini adalah mencicipi jajanan yang bikin kangen seperti roti srikaya.

Sesuai dengan namanya, penganan satu ini adalah roti yang memiliki isian selai srikaya yang istimewa. Saking banyak isiannya, selai srikayanya sering lumer ke mana-mana, dan bisa bikin belepotan kalau tidak hati-hati saat menggigitnya.

Rotinya lembut dipadupadankan dengan rasa srikaya yang legit membuat roti ini nggak cukup dinikmati hanya satu kali. Bikin ketagihan!

Kami menikmati roti srikaya dengan tenang, sampai mata saya menangkap salah satu jajanan legendaris khas Imlek: kue keranjang.

5. Kue Keranjang

Tiap kali menjelang Imlek sampai hari perayaannya, kue keranjang menjadi primadona. Wajar, karena kue keranjang adalah sesaji wajib saat sembahyang leluhur di malam Imlek.

Penganan satu ini juga sering disebut dodol cina atau dolcin, karena tekstur kenyalnya yang mirip dengan dodol. Rasanya sendiri tidak terlalu manis, jadi pas untuk kamu yang tidak memiliki sweet tooth.

Kue keranjang bisa dilahap langsung, tetapi bisa juga diolah terlebih dahulu. Cara favorit mengolahnya adalah dengan memotongnya pipih, kemudian dicelupkan dalam adonan dari tepung dan telur.

Kue keranjang lalu dan lantas dilahap ketika masih hangat. Sedikit garing diluar dari adonan tepung dan telur, lalu sedikit lumer di dalam dari kue keranjangnya. Enak!

Selepas memakan roti srikaya, kami membeli kue keranjang untuk mencobanya di rumah. Puas dengan belanjaan dan perut yang mulai terisi penuh, kami melanjutkan perjalanan.

6. Choi Pan

Menggoda sekali, terutama dengan cocolan sausnya. (Belanga.id/Anisa Sekarningrum)

Tidak jauh dari kue keranjang, perjalanan kami kembali terhenti, kali ini karena menemukan choi pan. Seolah tidak kenyang kami memutuskan untuk memesan satu porsi.

Choi pan rupanya mirip dimsum, tapi tidak sebesar dan sepadat dimsum. Isiannya ebi dan bengkuang. Cita rasa segar dan tekstur krenyes bengkuang, serta gurihnya ebi membuat choi pan terasa nikmat, apalagi ketika diguyur dengan saus pedas.

Kamu bisa menemukan jajanan ini dari jam 5 pagi hingga 5 sore setiap harinya, kecuali hari Senin dan saat perayaan Imlek. Satu porsinya berisi 4 potong, seharga Rp10.000 saja.

Puas menikmati choi pan, kami memutuskan untuk berpindah ke Gang Gloria, gang lain yang juga terkenal dengan berbagai jajanan dan makanan legendarisnya. Jaraknya kurang lebih hanya 500 meter dari Gang Kalimati.

7. Cakwe Gang Gloria

Seporsi cakwe legendaris yang renyah! (Belanga.id/Anisa Sekarningrum)

Di Gang Gloria ini kami mencicipi jajanan renyah yang bernama cakwe. Letaknya di antara Kari Lam dan Mie Kangkung Si Jangkung yang juga sama terkenalnya.

Cakwe, walau bisa dinikmati begitu saja, juga biasa ditemukan sebagai penganan pelengkap bagi makanan berat lainnya. Ia biasa ditemukan sebagai taburan bubur ataupun mie. Biasanya penjual cakwe juga menjual kue bantal yang jauh lebih tebal.

Soni, penjual cakwe, bergerak cekatan memotong-motong adonan dan menceburkannya satu per satu ke dalam minyak panas. Sambil menunggu cakwenya mengembang hingga berwarna kuning keemasan, ia terus melayani pesanan. Sudah 17 tahun ia melakukan rutinitas ini.

Tidak perlu menunggu lama, seporsi cakwe kemudian dihidangkan ke depan kami bersama cocolan saus yang berwarna bening kemerahan dengan cita rasa asam, manis, pedas dan gurih.

Cakwenya tidak tipis atau terlalu tebal, dan mudah dikunyah. Satu porsi cakwe dijual seharga Rp10.000. Menu lainnya seperti kue bantal dijual satunya Rp3.500.

Satu hal yang membedakan cakwe Gang Gloria dengan cakwe kebanyakan adalah Soni memilih untuk menggunakan minyak goreng berasal dari kelapa.

Rasanya memang jadi berbeda dan lebih unik. Dari sekian banyak cakwe yang sudah pernah kami coba, rasanya Cakwe Gang Gloria ini boleh dibilang juaranya!

Cakwe dijual sejak pukul setengah enam pagi dan tutup kiranya jam dua siang. Jika hari libur, biasanya tutup lebih cepat, karena laris manis.

Ah, tidak terasa waktu berlalu cepat. Menyusuri dua gang ramai di kawasan pecinan ini dan mencicipi sensasi makan jajanan legendaris khas Glodok adalah pengalaman yang menarik. Dari lima jajanan ini, mana yang jadi favoritmu?

Penulis: Anisa Giovanny

Editor: Ellen Kusuma

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Veteran

Written by Redaksi Belanga

Media kuliner berbasis komunitas, merawat ragam rasa kuliner Indonesia. #BedaRasaSatuIndonesia.

Kirimi Si Dia Kado Cokelat Sesuai Zodiak!

Warpopski, Warung Nasi Rempah Eksperimental Sang Ilustrator