Logo Balanga

Ubud Food Festival 2019 Optimis Sajikan Rempah untuk Dunia

 Ubud Food Festival 2019 Optimis Sajikan Rempah untuk Dunia

Pra-acara Ubud Food Festivasl Quick Bites: Spice: up the World yang diselenggarakan di Jakarta. (20/3). (Foto: Belanga.id/Anisa Sekarningrum)

Ada 500 jenis rempah yang tersebar di dunia dan setidaknya ada 275 jenis rempah di Asia Tenggara. Fakta ini disampaikan Amanda Katili Niode, Co-founder Omar Niode Foundation pada acara Quick Bites: Spice Up The World hari Rabu (20/3).

Rempah memiliki peranan lebih dari sekadar bumbu masakan. Contohnya andaliman atau juga dikenal sebagai merica Batak.

Tak hanya dipakai dalam masakan Batak, andaliman juga diolah menjadi minuman, sambal, hingga bumbu spaghetti a la Italia

Namun di balik itu, andaliman mampu memulihkan fungsi lahan yang sudah rusak. Menurut Amanda, rempah bisa diceritakan dari berbagai sudut pandang.

Hal tersebut diamini General Manager Ubud Food Festival Kadek Purnami. Festival kuliner di Ubud, Bali, ini mengangkat tema “Spice Up the World” pada April mendatang.

Menurut Kadek, rempah bisa dikenalkan dari hal paling mendasar: rasa makanan.

Ia menjanjikan sajian-sajian khas dari berbagai daerah demi rasa otentik. Akan hadir praktisi-praktisi kuliner yang menyajikan masakan dari daerah masing-masing.

Salah satu sajian yang akan di-highlight adalah sambal. Kondimen ini tentu ada di setiap daerah Indonesia dengan ciri khas tertentu.

“Kalau belum berasa pedas, (rasanya) belum nendang. Hal ini yang mau kami coba kenalkan pada dunia,” tegas Kadek.

Hal ini didukung oleh Head of Marketing Kraft Heinz ABC Asia Tenggara Dhiren Amin.

Selama dua tahun, ABC menjalin kerjasama dengan Ubud Food Festival. Kesamaan misi dalam mengenalkan kuliner Indonesia pada dunia jadi salah satu alasannya.

Lebih dari sekedar mengecap rasa

Tidak hanya mengenalkan rempah lewat icip-icip kuliner Indonesia, Ubud Food Festival juga berupaya mengenalkan local wisdom.

Koki yang sedang naik daun Hans Christian berbagi kisah dari segi tren kuliner. Baginya sekarang adalah era kolaborasi dengan sesama ahli.

“Kalau sudah ada yang ahli kenapa enggak? Bukan berarti kita nggak boleh belajar. Setidaknya kita nggak spend banyak waktu untuk hasil yang kurang maksimal,” sahut Hans.

Ia juga menyanggah tentang kuliner fusion. Menurut Hans, dua kesulitan dari bisnis kuliner adalah cara pengolahan produk dan pemberian nama.

“Kita nggak bisa sembarangan kasih nama makanan yang dijual. Kalau ada perbedaan rasa dari aslinya, misalnya kita bikin opor, maka kita bisa bilang ‘opor-inspired dish’,” tutup Hans.

Hal tersebut disetujui oleh Ade Putri yang menganggap pentingnya pengetahuan dasar tentang sebuah kuliner.

Jika ingin substitusi bahan atau meng-upgrade kuliner, seorang pembuat makanan harus memahami karakter atau esensi sajian tersebut.

Sedangkan Sisca Soewitomo bercerita pengalamannya di luar negeri. Menurut presenter acara memasak ini, orang Indonesia semestinya berani menyajikan kuliner Indonesia.

“Tidak perlu takut soal rasa yang tidak cocok di lidah asing, karena hal itulah yang justru dicari. Waktu itu saya diminta menyajikan 150 porsi opor,” kenang Sisca.

Lalu ada topik menarik mengenai food wasting.

Waste Management & Energy Specialist Aretha Aprilia pun menambahkan kata dalam topik UFF 2019.

“Jika boleh, saya ingin menambahkan tema tahun ini menjadi ‘Spice Up the World, but Don’t Waste Your Food for Better World’,” pesannya.

Ingin berkontribusi dalam mengenalkan rempah Indonesia pada dunia? Hadiri UBUD FOOD FESTIVAL 2019 pada 26-28 April 2019 di Ubud, Bali.

Selama tiga hari, peserta akan diajak mengenal kuliner dan kultur Indonesia lewat serangkaian program interaktif dan berwawasan.

Ada lebih dari 100 pembicara yang siap mengenalkan rempah dari seluruh Indonesia lewat bidang masing-masing.

Editor: Ellen Kusuma

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *