Tumis Sayur Ijo Bikin Kangen Ibu

Jarak itu kadang membuat lupa. Jarak itu kadang membuat gusar. Jarak itu kadang membuat jeda. Jarak itu kadang membuat yang jauh jadi semakin jauh. Tapi jarak itu akan sirna saat memori lama tentang suka, cinta dan asa pulang ke kepala.

Terpisah ratusan kilometer dari keluarga adalah hal yang lumrah bagi sebagian orang Indonesia.

Pekerjaan, pendidikan, kesehjateraan, pengasingan, dan atau bahkan pasangan menjadi deretan dari sekian banyak alasan untuk bepergian.

Tapi akan selalu ada saat di mana hati bangun dari tidurnya; rindu pulang, rindu rumah, rindu keluarga besar, rindu keluarga kecil, rindu anak, rindu ayah, dan hal yang tak pernah asing adalah rindu ibu.

Sosok ibu tak pernah absen menjadi deretan pertama alasan untuk pulang.

Sosoknya yang penuh dengan cinta, peluhnya yang mewakili ribuan asa, dan rona bahagianya untuk menyambut anaknya adalah hadiah terbesar kepulangan.

(Baca juga: Sambal Terasi di Musim Dingin)

Namun jarak seperti selalu punya senjata menunda kepulangan. Hingga pulang seringkali bergeser dari kebutuhan menjadi lain kali. Barangkali minggu depan, bulan depan, tahun depan dan tak jarang depan yang dimaksud tak pernah berwujud. Kalau sudah demikian mau bagaimana?

Musuh terbesar jarak adalah kenangan. Jarak mungkin menggiurkan untuk menjadikan alasan pulang dinomor sekiankan.

Tapi kenangan punya cara sendiri untuk menjadikan jarak turun peringkat. Kemarin tepat beberapa hari setelah hari Ibu sebuah kenangan meruap ke ingatan. Apalagi kalau bukan aroma masakan.

Aroma khas bumbu dapur ini selalu punya tempat untuk diam-diam menyuguhkan tautan kenangan.

Kalau sudah begini rasanya pelukan ibu menjadi destinasi yang diidam-idamkan dan pulang menjadi estimasi yang diprioritaskan.

Jarak boleh jadi alasan tapi pulang adalah kebutuhan. Bukan cuma aku tapi kamu. Bukan cuma kita tapi ibu.

Karena akan selalu ada yang merindukan kita lebih, akan selalu ada yang merutuki jarak lebih, akan selalu ada yang diam-diam kenangannya membuat air mata yang tertahan tak bisa ditahan, akan selalu ada yang diam-diam menengok pintu rumah mencek langkah kaki yang dikira anak yang pulang, dan kesedihan adalah saat jarak nomor satu dan Ibu nomor dua.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *