Beda Telur Segar dan Telur ‘Palsu’, Jangan Tertipu Lagi!

Telur
Telur (Foto: Pixabay/Monika)

Sebuah video pemeriksaan telur sempat viral beberapa waktu lalu. Masyarakat Indonesia heboh dengan penemuan telur palsu yang konon berasal dari Negeri Tirai Bambu.

Tiongkok sempat menggegerkan dunia dengan telur palsu. Keberadaannya memang sudah ada sejak awal 2000-an.

Telur ini terbuat dari bahan sintesis plastik dan karet. Kandungannya cenderung kimiawi dan berbahaya, seperti natrium alginat, tawas, gelatin, alum (bahan pelembut pakaian), dan asam benzoat (bahan pengawet).

Dilansir dari Time, telur palsu diklaim lebih murah dari yang asli. Dengan properti yang mendukung, produksi telur palsu di Tiongkok mencapai 1.500 butir per hari.

Jika dikonsumsi berlebihan, produk ini dapat mengganggu metabolisme, syaraf, hingga merusak kinerja hati.

Beralih ke Indonesia, laboratorium Institut Pertanian Bogor (IPB) telah melakukan uji klinis. Hasilnya, telur yang diduga palsu ternyata hanya kabar burung alias hoax.

Menurut Syamsul Maarif selaku Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen Pertenakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), telur palsu hanyalah telur ayam yang sudah lama. Kualitasnya memang berbeda dengan telur segar.

Telur ayam lama memang tidak berbahaya bagi kesehatan, selama tidak beraroma busuk atau rusak cangkangnya.

“Jangan simpan telur lama-lama lebih dari empat minggu. Nanti polisi lihat fenomena apa yang berkembang di masyarakat. Tapi saya tegaskan telur palsu itu enggak ada,” kata Syamsul, dilansir dari Tribun News.

Berimbas Pada Omzet Peternak dan Distributor 

Keberadaan telur palsu tak hanya meresahkan warga, tapi juga produsen dan penjual telur di pasaran. Omzet perdagangan telur ayam sempat menurun sebesar 40% sejak isu beredar luas.

“Sekarang sudah jauh menurun karena (masyarakat) ragu-ragu. Dari pasar induk mau beli, nanya, ini telur asli apa palsu,” ungkap Kepala Satgas Pangan Irjen Pol Setyo Wasisto dari Tribun (17/3). Hal ini juga berimbas pada para pedagang yang ragu membeli dari pemasok telur.

Menurut Setyo, konsumsi telur orang Indonesia rata-rata 10,44 kilogram per tahun. Jika ditambah isu telur palsu, konsumsinya terbilang semakin rendah.

Baca juga: 

Tak Perlu Ragu, Ini Beda Telur Segar vs Telur Lama

Awalnya, distribusi telur palsu di Tiongkok memang meresahkan dunia. Asisten Profesor Teknik Biologi di Henan University of Science and Technology memaparkan perbedaannya pada Times.

Telur yang tidak asli memiliki bentuk cangkang yang halus dan sempurna. Tidak ada aroma yang tercium sama sekali, sedangkan telur ayam asli yang lama tetap beraroma amis meski samar.

Ketika diketuk, telur palsu mengeluarkan suara gema di dalam cangkang, menandakan bahwa isinya agak kopong. Saat dipecahkan, putih dan kuning cepat tercampur saking encernya. Kuning telur asli yang lama sekalipun tidak langsung menyatu dengan putihnya ketika dipecahkan.

Baru-baru ini, Kementerian Pertanian Ditjen Pertenakan dan Kesehatan Hewan mengunggah sebuah infografis untuk membedakan telur segar dan telur lama yang diduga palsu.

Menurut video singkat yang beredar, ciri telur palsu terlihat dari selaput cangkangnya yang terbuat dari plastik atau kertas.

Tidak perlu khawatir, telur memang memiliki selaput tipis yang cukup rapuh.Selaput ini merupakan membran yang melindungi putih dan kuning telur agar tidak mudah rusak. Sekarang, masih percaya dengan isu ini?

Suka? Vote Artikel Ini!

0 1
Shabrina Anggraini
Written by
Doyan nulis, icip-icip makanan, ngemil, dan bereksperimen di dapur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up