Logo Balanga

Tantangan Baru, Mondelez Indonesia Luncurkan Oreo Tipis

 Tantangan Baru, Mondelez Indonesia Luncurkan Oreo Tipis

Diputer, dijilat, dicelupin. Itulah signature style dalam menikmati sekeping Oreo, biskuit cokelat renyah dengan lapisan krim vanila di tengahnya.

Sejak dulu, Oreo identik dengan dua keping biskuit berwarna hitam dan krim vanila tebal yang terapit di tengah. Meski tak merasa puas dengan ketebalan krim tersebut, saya mengakui Oreo sebagai kudapan manis andalan dalam segala suasana.

Namun, Mondelez Indonesia baru saja meluncurkan bentuk yang lain dari biskuit ini. Dengan menyasar generasi milenial,  varian baru ini lebih tipis dan renyah dari yang biasa. Konon, lebih sehat juga dari versi klasiknya. Loh, bagaimana dengan signature style-nya? Apakah esensi Oreo yang ikonik akan berubah karena muncul wajah baru?

Kamis lalu (19/4), auditorium The Pallas Jakarta disulap serba biru, hitam, dan putih. Saat memasuki ruangan, sebuah panggung dengan layar biru tertulis “Welcome” dan “New Oreo Thins Launching” menyambut saya. Acara dimulai saat Novita Angie memasuki podium dengan gaun biru nan stylish, disusul sambutan dari Sachin Prasad selaku President Director Mondelez Indonesia, Dian Ramadianti selaku Head of Biscuit Mondelez Indonesia, dan Rick Lawrence selaku Category Director of Biscuit Mondelez South East Asia.

Ketiganya antusias dengan acara ini, terlebih dalam mengenalkan produk baru dan semangat Hari Kartini yang datang dua hari kemudian. Melanjutkan semangat itu, panggung berubah menjadi peragaan busana karya empat desainer muda Indonesia.

Empat desainer ini semuanya perempuan. Diawali dari koleksi Shannaz Anindya yang menganut stylish dan comfortable. Dilanjutkan koleksi busana daily casual muslim dari Farah Nida dan disambung koleksi playful dari Rinda Salmun. Peragaan busana ditutup oleh koleksi Armita Hutagalung dengan tampilan feminin dan dinamis. Semuanya mencerminkan gaya wanita Indonesia masa kini.

Sejak awal, Dian Ramadianti menegaskan dedikasi Oreo Thins untuk Kartini muda. Menurut rilis BEKRAF 2016, 55 persen tenaga industri ekonomi kreatif adalah perempuan, masing-masing menggeluti bidang fashion, seni rupa, dan kriya. Zaman sekarang pun menuntut segalanya serba cepat. Para perempuan yang aktif dan kreatif ini ikut terbawa arus. Ada kesadaran untuk menjaga daya tahan tanpa meninggalkan pola hidup sehat.

Ngemil atau snacking adalah solusi di tengah padatnya aktivitas. Cemilan jadi pengganjal perut saat belum sempat berurusan dengan nasi. Namun, hal ini menimbulkan kekhawatiran yang lain. Siapa yang tak takut gemuk kalau salah pilih cemilan?

Mondelez Indonesia menjadi pendengar yang baik. Departemen biskuit yang ditangani Dian menemukan inovasi cemilan yang enak, praktis, dan tetap sehat.

Rick Lawrence menjelaskan bahwa biskuit Oreo mendapat perhatian besar di dunia dan Indonesia. Menurutnya, merek biskuit paling digemari dan laku di pasaran adalah Oreo. Fakta ini semakin memantapkan langkah Mondelez Indonesia. Dengan dua varian rasa Vanilla Delight dan Tiramisu, Oreo Thins siap menemani hari-hari perempuan Indonesia.

Oreo Thins merupakan bentuk baru dari biskuit Oreo. Profilnya lebih tipis dan renyah. Rick menjelaskan perbedaan Oreo Thins dan Oreo biasa adalah krim vanilanya saja. Oreo Thins adalah versi 40 persen dari Oreo biasa, sehingga terlihat pas di jari. Dian menambahkan bahwa konsumen Indonesia bisa memilih jenis Oreo yang disuka.

“Kita memberi pilihan untuk customer di Indonesia. Kalau yang suka tebal, makannya yang model biasa. Ada berbagai varian.Dan untuk yang suka tipis dan renyah, this the answer,” sahut perempuan berambut merah ini.

Menurut Dian, biskuit ini sukses di pasar dunia. Oreo Thins sudah diproduksi di Amerika, Eropa, Tiongkok, dan negara-negara Asean. Indonesia adalah salah satu pasar yang menunggu datangnya biskuit tipis ini. Tim Mondelez Indonesia pun melihat ini sebagai potensi baru. Bahkan tak hanya perempuan Indonesia, Oreo Thins turut didekasikan untuk generasi muda yang aktif dan mengikuti perkembangan tren luar negeri.

Dian juga menanggapi ritual “diputer, dijilat, dicelupin”. Baginya, Oreo Thins bukan meninggalkan hal tersebut. Semua kembali pada pilihan masyarakat Indonesia dalam menikmati biskuit ini.

“Kami memberikan pilihan pada konsumen bagaimana cara mengonsumsinya. Khusus untuk Oreo Thins yang profilnya lebih tipis dan crunchy, mungkin konsumen Indonesia lebih suka mengonsumsinya dalam keadaan seperti seadanya. Jadi, lebih enak langsung digigit,” papar Dian.

Mondelez Indonesia memahami pasar yang tidak homogen. Sejauh ini, biskuit Oreo berusaha menghadirkan pilihan bentuk dan rasa yang terjangkau masyarakat Indonesia. Jadi, menikmati Oreo Thins dengan diputer, dijilat, dan dicelupin juga tidak dosa.

Varian rasanya pun mendukung market generasi milenial. Meski sertifikasinya aman dikonsumsi segala usia, Oreo Thins tetap menyasar laki-laki dan perempuan dewasa (young adults dan adults) yang aktif dan kreatif. Saat ini, ada dua rasa unggulan dari varian ini yaitu Vanilla Delight dan Tiramisu.

Rick menjelaskan bahwa dua varian ini punya alasan kuat. Sejak awal, Oreo hadir dengan rasa vanila yang khas. Hal ini menjadi signature dari produk biskuit itu sendiri. Oleh karena itu, Vanilla Delight menjadi salah satu pilihan.

Kedua adalah Tiramisu. Dian memaparkan bahwa Tiramisu adalah salah satu rasa yang sukses di pasaran. Keunikan beragam rasa (kopi-vanila-cokelat) dalam satu gigitan membuat Dian yakin untuk merilisnya sebagai varian Oreo Thins.

“Kami menulusuri rasa yang paling dicari dan populer sekarang ini, yaitu tiramisu. Setelah uji coba, kami berpendapat bahwa ini appealing untuk generasi muda.”

Jika dua varian rasa ini bisa diterima, Mondelez Indonesia tak akan segan meluncurkan varian rasa baru. Dian, mewakili Mondelez, berjanji akan terus berinovasi dan memahami kebutuhan masyarakat Indonesia dalam sekeping Oreo. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *