Si Hitam Manis Rujak Cingur: Tak Kenal Maka Tak Sayang

Makanan yang aneh tapi nyata? Bisa jadi. Karena bagi yang belum tahu, mungkin ini adalah makanan yang aneh, bahkan tak jarang ada yang jijik akibat warna, bau, dan bahannya. Tapi bagi yang sudah terbiasa, ini adalah hidangan yang sangat lezat. Tidak heran, di daerah asalnya Surabaya dan Jawa Timur, rujak cingur adalah  makanan tradisional yang sangat populer.

Karena kepopulerannya, banyak pencipta lagu terutama di era tahun 70-an, menjadikan rujak cingur sebagai bagian dari lirik lagu mereka. Selain artis lokal, artis terkenal di jamannya pernah menyanyikannya seperti Koes Plus dengan lagu ‘Rujak Cingur’ dan Mus Mulyadi dengan lagu ‘Rek Ayo Rek’.

Pepatah bilang,” Don’t judge a book by its cover”, nampaknya berlaku buat olahan makanan yang satu ini.

Waktu aku masih kecil, saat sepupuku dari Jakarta berkunjung ke rumah, ibuku menyuguhkan rujak cingur. Apa yang terjadi? Begitu sepupuku melihatnya, dia langsung menolaknya tanpa mencicipinya sama sekali. “Apaan item-item, kayak lumpur. Hiii..”, kata mereka lalu kabur dari ruang makan.

Ayah yang asli Sumatera Selatan, awalnya juga tidak menyukai si hitam manis yang memang manis rasanya ini. Awalnya … , tapi setelah berjalannya waktu, yang ‘menjijikkan’ berubah jadi menggiurkan. ‘’What a matter is in your mind, otherwise is only an illusion’

Disebut Rujak Cingur karena menggunakan irisan moncong sapi rebus sebagai bahannya. Cingur adalah bahasa Jawa dari area mulut dan hidung atau moncong sapi. Kalau cuma dibayangkan mungkin tidak nampak menarik. Tapi kalau sudah dicoba, rasanya unik dengan tekstur yang lembut-kenyal ditingkahi kres-kres renyah  tulang muda yang ada di sela daging.

Selebihnya Rujak Cingur adalah variasi dari salad Indonesia yang komplit dan sehat, selain gado-gado atau pecel. Bahannya selain cingur ada sayuran (kangkung, tauge, kacang panjang, krai), buah (kedondong, bengkoang, nanas, jambu air, pencit/mangga muda, ketimun), tahu-tempe goreng, irisan lontong dan siraman sambal petis; terbuat dari  ulegan petis, cabe, kacang tanah goreng, pisang klutuk muda, gula merah serta bumbu lain; yang kental dan pekat. Saat disajikan, biasanya disertakan juga krupuk blek atau krupuk kampung sebagai pelengkap. Rasanya manis, pedas, gurih, dan segar. Seporsi biasanya sangat banyak. Cocok buat orang yang sedang lapar atau yang terbiasa dengan porsi banyak.

Dulu di dekat rumah ibu di Malang, ada penjual rujak cingur yang sangat laris karena cita rasanya yang dianggap lebih lezat dari yang lain. Terutama kalau hari libur, banyak kendaraan berderet-deret parkir di depan rumah sekaligus warung ibu penjual rujak. Aku pernah mencoba beberapa kali mencicipi rujak warung biru, begitu aku menyebutnya karena cat rumahnya yang berwarna biru. Sebetulnya ada nama ibu penjualnya yang dijadikan nama warung, tapi aku sudah lupa karena saat masih kecil tidak terlalu memperhatikan. Dan rujaknya memang istimewa. Sayur dan buahnya sangat komplit, saus petisnya pekat dan sedap. Sesuai dengan harganya yang lebih mahal dibanding di tempat lain. Sayang saat si ibu penjual meninggal, tidak ada yang meneruskan usaha tersebut, dan kabarnya warungnya juga sudah dijual.

Selain cingur, bahan yang wajib ada yaitu petis. Tanpa keduanya, rujak ini tidak bisa disebut Rujak Cingur. Kuliner Jawa Timur memang tidak bisa dilepas dari olahan bumbu yang satu ini. Petis dibuat dari sari ikan atau udang, termasuk sampingannya (kepala, kulit) yang diolah sedemikian rupa sehingga terbentuk pasta berwarna coklat kehitaman dengan aroma tajam yang khas. Rasanya dominan manis sekaligus gurih. Biasa ditambahkan sebagai bahan penyedap berbagai masakan, sehingga memiliki rasa dan aroma yang spesial.

Banyak jenis kuliner Jawa Timur yang menggunakan petis selain rujak cingur. Ada tahu lontong, lontong balap, tahu campur, lontong kupang,  sambal petis lading, tahu petis, dll. Bagiku, semuanya lezat. Tak cukup waktu seminggu mudik untuk mendapatkan mereka semua.

Kampung halaman dengan kesederhanaannya memang banyak meninggalkan kenangan yang indah. Tak berhenti bersyukur mempunyai kampung halaman dengan segala romantisme budaya dan kulinernya yang membuat rindu untuk selalu kembali. Ini semua karena usaha dan daya cipta para leluhur. Terimakasih eyang, eyang buyut, eyang canggah, eyang wareng, eyang udheg-udheg, dan eyang-eyang angkatan di atasnya ??

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *