Logo Balanga

Sambel Terasi Ala Karawang

 Sambel Terasi Ala Karawang

“Ma.. Aku mau makan. Aaaaaa,” kala itu aku masih kecil berusia 2 tahun, jerit tangisku mengharapkan sesuap nasi karena namanya juga anak kecil pasti harus dituruti segala kebutuhannya.

Namun, bicaraku belum sefasih diatas pastilah seorang ibu mengerti menggunakan bahasa hati.

Ibu yang sedari tadi bolak balik dapur teras dapur teras untuk membereskan rumah tapi masih sempatnya mendatangiku. “Iya nak, bentar mama lagi masak…”

Kucuran keringat ibu menetesi seisi rumah dengan penuh perjuangan dan aku hanya bisa duduk manis dan menunggu sambil menangis kelaparan.

“Mama!! Uwaahaaaa,” jeritku menjadi saking laparnya. Ibu pun tak tinggal diam dan merespon cepat layaknya petugas kesehatan pada pasiennya.

Aku yang duduk manis di kamar sembari bermain mobil-mobillan langsung ditimang oleh sang ibu dalam balutan kain. Aku sangatlah senang dan berhenti menangis melihat ibu membawa piring kecil berisi nasi dan lauk punyaku.

“Nak, mana mulutnya? Aaa…” sang ibu merayu agar mulutku terbuka lebar. Tanpa basa-basi, mulutku otomatis menganga.

“Uwahaaaa!! Pedeess, pedessss!!” sebotol minuman khusus bayi langsung diserobot dan diminum sampai habis.

Ibu pun mengerti dan menyudahi suapannya. Diganti saja dengan bubur ayam depan rumah. Alhasil, aku begitu kenyang dan tertidur, ibu merasa lega.

Sambel terasi ala buatan mama masih utuh di pojokan dapur dan sepertinya dihabiskan oleh yang lain…

Umurku menginjak 4 tahun, sudah lebih dua tahun aku tidak ditimang lagi. Aku sudah bisa berjalan kesana-kemari tanpa ada paksaan. Kalau lapar, tinggal ambil saja di dapur. Setidaknya tidak menyusahkan ibu lagi.

Hari itu, ibu sedang mengulek sambal terasi. Aku begitu ingin tahu dan selalu merecoki kegiatan ibu.

“Ma.. aku nyobain sambelnya yaa..” ucapku begitu polos.

“Gapapa nih?? Kan pedes sambelnya.” Ibu lantas mengingatkan.

“Iyaa.. aku mau nyobain, dikiiit aja boleh kan?”

“Silakan..” Ibu tersenyum simpul.

Benar saja, sambalnya pedas sekali dan lidah hampir kelojotan, bersiap-siap menyeruput segelas air.

Wajar saja, ibuku memang keturunan sunda. Jadi, setiap masakannya diiringi oleh sambal dan sambal.

Layaknya lauk wajib hadir dan tak pernah absen. Biasanya ibu selalu makan di depan televisi. Makanannya pun simpel hanya nasi sambal dan sayuran mentah seperti pete, terong muda, leunca, dan kemangi.

Begitu saja sudah nikmat menurutnya. Kerap kali beliau makan, aku selalu merecoki dan pengen disuapi. Walaupun telah jelas pedasnya, tetap saja namanya juga lapar pasti apa aja masuk mulut.

Sekali dua kali memang kepedesan tiga kali keatas lidah ini terbiasa makan pedas-pedas.

Umur segitu saja sudah dijejali berbau pedas. Jadi, ibu sudah tak repot lagi menyiapkan makanan serba pusing resepnya. Dan ibu terus-menerus menjejali pete, jengkol, dan sayuran mentah lainnya. Walaupun bau dan tak sedap aromanya, tetap saja dipaksa sampai habis.

Dulu aku sempat menutup mulut tapi sekarang beda lagi ceritanya. Pernah sekali tengah malam terbangun dan perut kelaparan, sedangkan di meja makan hanya sebakul nasi dan sambal. Dengan nikmatnya aku melahap santai, sepiring nasi sambal habis tak bersisa.

Ketika SD, aku tambah senang kepada makanan pedas. Pulang sekolah sambel pun tersedia di meja namun itu tak setiap hari ada. Mungkin karena ibu terlalu sibuk kerja, sambelnya jarang diulekin lagi.

Setiap libur kerja, ibu mengajakku ke pasar membeli bahan olahan sambal. Hanyalah cabai rawit, cabai merah, bawang putih, bawang merah, garam, gula, tomat, dan terasi. Simpel sekali. Dan begitu dengan lalapan lainnya.

Tapi, terasi disini jarang sekali ditemukan di rumah. Rumahku di Jakarta. Jadi, ibu memasok terasi dari saudara di kampung, Karawang tepatnya. Karena terasinya begitu enak dan beda dari yang lain.

Hatiku merasa bungah dan senang sekali bisa menyemil pete dan kemangi. Uhh! Nikmat tak tergantikan.

Menginjak SMP dan SMA, aku tinggal di pesantren. Jarang untuk bisa mencicipi masakan ibu. Hanya sesekali perpulangan, aku pun ditawari pengen masakan apa. Lantas, aku memilih untuk dibuatkan sambal terasi khas Karawang dengan bala tentaranya.

Daripada aku diajak makan di luar dan itu menghabiskan banyak duit. Keputusanku sudah dewasa untuk mencoba lebih irit dan tidak menghambur-hamburkan duit semena-mena. Ibu hanya mengangguk setuju.

Hampir mencapai ke bangku perkuliahan, libur panjang menanti dan menganggur di rumah. Seperti biasa, ibu pasti bolak-balik kerja dan tak mungkin mengurusi diriku karena aku sudah remaja. Rasa inisiatif muncul dan belajar banyak tentang kuliner ibu.

Aku mencoba masak sendiri dan meniru resep ibu yang terkenal lezat, terutama Sambel Terasi. Aku menuruti dari awal sampai akhir proses pengulekan sambal dan akhirnya mencoba mandiri tuk mencicipi masakanku yang tak semahir ibu.

Sambal buatanku pun tersaji di atas wadah kecil. Pete dan terong kecil dicocol seenaknya. Dan benar, sambelku tidak pantas disejajarkan oleh buatan ibu.

“Nih sambelnya kurang garam, pedesnya kurang, coba kasih dikit lagi terasinya,” komentar yang begitu spektakuler hingga aku masihlah merasa bodoh dan perlu banyak belajar lebih dalam.

Aku mengangguk dan melaksanakan titahnya. Hingga aku mencoba berulang kali membuat sambal dan hasilnya belum sesempurna ibu. Apakah ada resep rahasia ataukah jemari ajaib ibu yang merangkainya lebih indah?

Memanglah soal kuliner, aku seakan pelajar baru yang masih dasar pengetahuannya. Justru berangkat dari situ, aku mencoba hal lain seperti masak nasi goreng dan lain-lain.

Kedua orang tuaku sangatlah mahir berkoki ria, aku bersyukur karena dapat menggali ilmu dari mereka dan diaplikasikan ke dunia nyata.

Dulu, ibu pernah bercerita tentang masa kecilku.

“Mas Pauji mah dulu nyemilnya pete terus disambelin, digado gitu aja tanpa nasi. Semua lalapan dihabisin sama dia. Dari dulu mama dah jejelin ke mulutnya macem-macem makanan kayak jengkol, pete, kemangi, timun, pare, pokoknya yang aneh di lidah. Tapi Alhamdulillah, sekarang mah Mas Pauji udah seneng apa-apa. Jadinya mama gak perlu ribet ngasih makanan apa aja. Ada jengkol yaa dimakan ada pare yaa dimakan.” ujarnya ketika aku khusyu mendengarkan dan tersenyum sendiri.

“Coba mas Pauji liat anak-anak luar, kan pada ceking kurus itu soalnya udah dikasih enak-enak sama emaknya. Jadi harus ada mulu yang dia suka. Kalo saatnya gak ada, anaknya malah gak makan dan sakit-sakitan. Apalagi kalo yang mereka suka tuh mahal-mahal,” nasihat ibu begitu mencerahkan dan aku sungguh bersyukur tidak menyusahkan mereka di kala tidak ada hidangan lezat nan super mahal, cukuplah pete dan sambel saja lauknya.

Aku tidak dapat berkata apa-apa dan terdiam langsung merenungi betapa senangnya sejak dulu kecil diberi asupan yang tak sewajarnyanya buat bayi.

Sampai saat ini, lidahku makin merekat saja dengan lauk-lauk yang kata orang bau dan tak sedap. Aku terlihat cuek saja kala orang mencela diriku yang senang pete dan jengkol. “Idihhh…. dasar bau! Pasti kamar mandi udah kaya apaan tau tuh bau.. Huh!”

Dalam hati, aku hanya tertawa kecil dan benar saja mereka yang menghinaku susah makan macam-macam. Makan saja harus pilih-pilih menu yang sesuai selera lidah, serasa cukup susah menerima apa adanya.

Aku senang bersifat sederhana. Sederhana itu lebih berkesan mengingat pesan ibu agar tidak boros uang jikalau hanya mengisi lambung.

Bolehlah sekali-kali tapi ingat uang bukan untuk memanjakan lidah saja. Masih banyak hal lain yang perlu uang. Maka dari itu, tabunglah dan berlakulah hemat guna bekal masa depan.

Dari situ kita dapat belajar bahwasanya lidah perlu dimanjakan dengan berbagai asupan karena dari lidah, isi dompet dapat terkuras habis. Entah itu beli makanan favorit ataulah berobat ke rumah sakit.

Kesehatan itu penting sekali dan wajib dijaga. Kalau sudah terkapar sakit, siapa yang repot? Pasti kembali lagi pada orang tua. Pelajaran dari orang tua harus ditaati serius, jangan main-main, karena beliau sudah lebih lama hidup daripada kita.

Dimulai dari hal kuliner, awalnya dipaksa lama-lama terbiasa dan akhirnya bisa. Karena dapat menyebabkan penyakit jikalau pola makan saja masih pilih-pilih. Nasihat ibuku yang seorang bidan KB, beliau sangat mengerti apa yang dibutuhkan si buah hati.

Pernah sesekali jalan menuju warteg atau lah rumah makan ketika aku tengah kuliah. Kehidupan yang benar-benar dituntut mandiri.

Jadi, aku pun beranjak mencari makanan di luar. Aku hanya memesan menu yang paling sederhana. Nasi, sambel terasi, dan semur jengkol + pete. Sangatlah lezat nan nikmat di lidah.

Tapi, setiap lidah punya cerita tersendiri. Kala menyantap sambal buatan warteg, serasa lidahku me-rewind rasa pedasnya sambel terasi buatan ibu.

Dari pedas dapat mengingatkanku seseorang yang telah banyak aku repotin, banyak cerewet harus minta ini-itu untuk perlengkapan kuliahku.

Banyak manja untuk tetap cool saat kuliah. Tapi, ibu hanya berpesan, “Jangan sampai lupa sarapan nanti biar mas Pauji semangat kuliahnya, boleh bergaya tapi tetaplah sederhana.” Senyum manis tersimpul lebar. #JadiKangenIbu 🙁

Oleh karena itu, jasamu lebih berharga dari apapun dan kau yang lebih mengetahui kesukaanku. Dari seuleg sambel, serenteng pete dan kawan-kawan, lidahku mulai terbiasa hidup serasa di perkampungan yang begitu nikmat kulinernya dan tampak sederhana.

Walaupun tinggal di Jakarta, pusat kuliner di mall ku abaikan saja karena akan menguras dompet sampai akarnya. Lidah-lidah Sunda yang tak merepotkan kuliner, apa saja dilahap yang terpenting kenyang dan menyehatkan, itulah ilmu yang ku ambil dari seorang ibu.

Tak harus mewah, apalah arti kemewahan jika pemiliknya terus berdiam di rumah sakit?

Bersyukurlah kawan! Kita masih diberi lidah sehat dan mencobalah jangan menghina dasar makanan kampungan!

Kelak di suatu hari nanti, ketika berumah tangga pastilah aku ajari anakku seperti yang engkau ajarkan dulu kepadaku. Jejalkan makanan yang jarang buat bayi! sengaja agar besok-besok tak susah mencari makan, tapi ingat, makanan yang bernutrisi baik.

Pesan tersebut membuatku ingin mengucap, terima kasih ibu!

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *