Sambal Tempe dan Memori Meja Makan

Ibu tak selalu masak tiap hari, tapi sajian sederhana buatan ibu pasti jempolan dan bikin kangen.

Sambal Tempe
Sambal tempe (Foto: JadiKangenIbu/Kaningga Janu)

Suatu sore, bapak mengirimkan saya sebuah foto via Whatsapp. Foto yang diambil seadanya itu adalah sambal tempe andalan ibu.

Bapak juga mengikutkan pesan, “Sudah makan belum? Cepat pulang.”

Saya senyum-senyum sendiri di meja kantor, sampai seorang teman melirik heran. Rasanya ingin mematikan komputer dan pulang saat itu juga.

Ngomongin soal rumah, jaraknya dengan kantor saya memang seperti dua ujung kutub. Jauh sekali. Berangkat pagi dan pulang larut sudah biasa.

Dan ya, saya masih tinggal dengan kedua orang tua yang memaklumi sistem kerja putrinya ini.

Meski satu rumah dengan orang tua, jangan harap bisa ngobrol selepas pulang kerja. Buka pintu rumah, semua ruangan sudah gelap gulita. Bapak dan ibu sudah tidur lelap di atas ranjang.

Namun, ada satu hal yang bikin lelah saya hilang seketika. Saat berjalan ke dapur, sambal tempe dan sebakul nasi masih tersaji hangat. Sebuah piring dan sendok pun sudah disiapkan di sampingnya.

Lagi-lagi saya tersenyum. Tanpa pikir panjang, saya mengambil secentong nasi dan sambal yang lezat itu. Duduk di depan televisi dengan volume kecil, tiap suapan sambal tempe terasa hangat dan berharga.

Saya pun teringat suasana makan bersama dengan bapak, ibu, dan dua adik saya.

(Baca juga: Sambal Terasi Pedas Manis)

Sambal tempe adalah menu favorit kami. Meski tanpa lauk lain, kami cukup menikmati sambal tempe dengan sepiring nasi hangat. Kadang pakai kerupuk biar seru.

Makanan ini seakan menggabungkan lauk dan sambal dalam satu cobek. Sederhana, tapi nikmat dan berbumbu segar.

Resep sambal tempe ibu terbilang sederhana. Hanya bawang merah, bawang putih, cabai, garam, dan tempe yang sudah digoreng sebentar. Tak ada beda dengan sambal tempe lainnya.

Dulu, saya pernah tanya resepnya ke ibu. Tahu apa jawabnya?

“Kalau suka bawang putih, ya dibanyakin aja. Cabainya juga. Intinya, buat sambal tempe versimu sendiri. Yang penting enak.”

Ibu memang tak pernah saklek dalam menakar bahan. Kalau Anda pernah baca Mustika Rasa warisan Presiden Soekarno, ya kira-kira begitulah cara ibu berbagi resep.

Namun apapun yang dibuat ibu, rasanya pasti juara.

Ibu memang tak selalu masak tiap hari. Jadi sekalinya berkutat di dapur, sajian sederhana sekalipun pasti jempolan dan bikin kangen.

Dan, pesan ibu memang benar. Ibu tahu betul selera keluarga kecilnya.

Sambal tempe yang identik dengan rasa pedas pun sukses jadi makanan favorit semua, bahkan adik-adik saya yang tak terlalu suka cabai. Sambal tempe buatan ibu adalah versi keluarga kecil kami.

Dibuat khusus dengan menyesuaikan semua anggota keluarga, hingga kami duduk di meja makan dan melahap sambal tempe bersama-sama.

Jarak beberapa mil memang tidak seberapa. Toh, saya dan keluarga masih tinggal satu atap. Kami bisa berbincang di hari Sabtu dan Minggu, saat semua libur dan istirahat di rumah.

Tapi ketika di kantor, perhatian kecil mereka selalu bikin saya ingin pulang lebih cepat. Foto-foto dari bapak via Whatsapp berhasil menaikkan mood.

Belum lagi kalau ibu ikut berkomentar di bawah foto itu, dengan bumbu doa supaya sampai di rumah dengan selamat.

Terima kasih, Ibu. Saya bisa tidur nyenyak malam ini.

Suka? Vote Artikel Ini!

2 0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up