Di Ujung Tanduk, Kini Roti Buaya Hilang Makna Kesetiaan?

Di Ujung Tanduk, Kini Roti Buaya Hilang Makna Kesetiaan?
Roti Buaya dalam Kemasan Siap Hantar. (Foto: goodindonesianfood.com)

Hewan buaya punya sentimen negatif di Indonesia. Seringkali diperuntukan untuk lelaki hidung belang yang suka tebar pesona.

Padahal, buaya adalah hewan yang setia, lho. Salah satu jenis amfibi ini hanya punya satu pasangan seumur hidup. Karakter inilah yang ditelaah masyarakat Betawi dalam adat perkawinan.

Buaya sebagai simbol kesetiaan dibentuk jadi panganan cantik, yakni roti buaya.

Baca juga: Kue Lapis Betawi yang Cantik Ini Kian Langka

Tiap rumah tangga pasti ingin perkawinannya langgeng. Dalam adat perkawinan Betawi, roti buaya wajib dihantarkan dalam acara lamaran. Roti ini dibawa oleh mempelai pria kepada pihak wanita. Kalau tidak bawa, bisa-bisa pengantin pria dan segenap keluarga diusir. Pernikahan pun pasti batal.

Roti ini dibuat dengan bahan sederhana, yakni tepung terigu, telur, ragi, margarin, dan gula pasir. Proses olahnya sama seperti roti biasa, hanya saja dibentuk seperti buaya.

Budaya ini sudah ada sejak zaman kolonial. Kalau orang Belanda membawa buket bunga, orang Betawi tak mau kalah heboh dengan membuat roti buaya. Selain kesetiaan, roti buaya juga bermakna kemapanan karena roti hanya dikonsumsi orang Belanda.

Pemilihan hewannya juga tak sembarangan, lho. Masyarakat Betawi dikenal sebagai masyarakat sungai. Ada sekitar 13 sungai yang mengaliri ibu kota ini.

Sejak dulu, buaya banyak ditemukan di sungai-sungai ini. Buaya dan masyarakat Betawi punya interaksi yang baik. Hewan ini pun disakralkan bak sapi di Pulau Bali.

Baca juga: Kue Rangi, Jajanan Betawi yang Mantap Rasanya

Katanya, roti buaya bisa dibagi-bagikan setelah acara selesai. Bagi pemuda lajang dan belum berpasangan, menyantap roti buaya bisa melancarkan jodoh dan mempercepat jenjang pernikahan.

Sejarawan JJ Rizal menepis hal tersebut. Menurut pengamat budaya Betawi ini, roti buaya harusnya tidak dibagi-bagikan kepada tamu untuk disantap. Roti ini harus disimpan dalam kamar pengantin dan tidak dibuka untuk kudapan.

Masih ingat kan kalau buaya adalah simbol kesetiaan?

Rizal menambahkan bahwa roti buaya harusnya dibuat keras dan tidak berasa. Semakin berat dan keras, semakin awet pula teksturnya.

“Inilah yang menjadi perlambang bahwa dua roti buaya simbol suami istri tersebut hanya bisa dipisahkan oleh maut, oleh raga yang sudah berbelatung. Nah, zaman sekarang filosofi seperti ini sudah mulai ditinggalkan,” sahut pria ini dikutip dari Detik Food.

Baca juga: Masih Ingat Roti Unyil Khas Bogor?

Zaman sekarang, roti buaya justru diberi isian keju atau cokelat. Bagian luarnya pun dibuat banyak hiasan, seperti mata buaya yang diganti choco chip atau kismis. Teksturnya pun lebih lembut, pantas tujuannya memang untuk konsumsi acara.

Kira-kira, tradisi lama ini harus dipertahankan atau justru disesuaikan dengan era sekarang? Share pendapatmu yuk!

Suka? Vote Artikel Ini!

0 1
Kaningga Janu Manggarayu
Written by
Penyuka kuliner, sejarah, dan bumbu segar. Berkelana tanpa mengenal arah, pulang ketika merasa lelah.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up