Petani Muda Indonesia, Otodidak Bertani dan Menempuh Jalur Indie

Temukan 10 anak muda yang kamu kenal, dan tanyakan cita-citanya. Lalu temukan juga 10 anak kecil, dan tanyakan cita-citanya.

Kebetulan, saya tak menemukan satu pun yang bercita-cita jadi petani. Umumnya, cita-cita mereka adalah youtuber.  Apakah kelak kita akan kenyang dengan menonton video?

Petani di Indonesia tidak dianggap sebagai pekerjaan keren. Sebaliknya, menjadi petani dianggap profesi yang ‘ndeso’, kuno, dan melelahkan.

Para petani pun tak sedikit yang berharap anaknya jangan jadi petani, melainkan bekerja kantoran di gedung mentereng ibu kota.

Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan, lahan pertanian terus menurun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik.  Bukan karena lahan pertanian menjadi makin efisien, tapi karena ditinggalkan.

Sejak 2013 hingga 2017, luas lahan pertanian menurun dari 8,12 juta hektar menjadi 7,78 hektar. Tak hanya material tanah, sumber daya manusianya pun mengalami pergolakan.

Ada lebih dari seratus perguruan tinggi Indonesia yang menyediakan studi pertanian dan agribisnis. Peminatnya juga tidak sedikit.

Tapi berkaca pada data BPS, sebagian besar petani Indonesia didominasi kelompok usia 45 tahun ke atas. Bahkan, 73,97 persen hanya lulusan SD.

Dalam kurun waktu 10 tahun sejak 2003, jumlah petani Indonesia menurun sebanyak lima juta orang.

Fenomena ini tak hanya terjadi di Indonesia. Laporan European Commission juga menunjukan turunnya jumlah petani muda berusia di bawah 35 tahun, dalam kurun waktu 2005-2013.

Dilansir dari AgriLand, diperkirakan satu juta petani muda pada 2005 berkurang menjadi sekitar 600 ribu saja pada 2013.  Perbandingan jumlah petani mudah dengan petani berusia di atas 55 tahun ialah 1:9 pada 2013 di negara-negara Eropa.

Lantas kemana lulusan studi pertanian dan agribisnis di Indonesia?

“Saya jadi barista,” ujar Gonzaga Sidharta,  alumni Fakultas Agribisnis Universitas Padjajaran Bandung, dalam percakapan via telepon.

Laki-laki yang akrab dipanggil Aga itu malah punya lahan warisan orang tua di Ciamis, dengan kondisi tanah yang bagus dan potensial.

“Tapi pasar di desa itu terlalu kecil,” ujarnya.

Kalaupun harus berjualan, pasar induk Bandung jadi sasaran untuk meraup untung.

Aga juga menambahkan bahwa teman-teman kuliahnya beralih profesi jadi pekerja kantoran atau bank.

“Bertani itu sulit banget, dan mungkin teman-teman agribisnis juga merasa itu. Kami selalu diarahkan ke manajerial dan teknologi tani yang lebih mutakhir,” ujarnya.

Berdasarkan teori kuliah, ia merasa standarnya untuk bertani jadi ikut naik.

“Itulah yang bikin saya belum berani berkebun,” ujar Aga yang masih menyimpan cita-cita sebagai petani kopi.

Kebutuhan hidup kian bertambah setiap tahun. Harga pasar tidak pernah stabil, sehingga penghasilan pun harus disesuaikan dengan hal tersebut. Menurut rilis BPS 2013, pendapatan rata-rata petani kurang dari Rp 500.000 per bulan.

Umumnya hanya sektor-sektor tertentu seperti jagung, cabai, padi, kedelai, dan bawang yang benar-benar mendapatkan perhatian pemerintah, sehingga kehidupan para petani di sektor itu cenderung lebih baik.

A post shared by Agradaya (@agradaya) on Feb 2, 2018 at 9:44pm PST

Petani Muda Indonesia

Bertani di Indonesia memang berat.  Masa kerja yang panjang belum tentu mendatangkan hasil besar. Andhika Mahardhika, co-founder Agradaya yang kini fokus pada rempah-rempah Indonesia, juga sempat mengalami masa sulit.

Andhika sempat menekuni usaha beras merah dan padi palawija. Pada percobaan pertama, penghasilan yang diharapkan memang jauh dari ekspetasi. Kalau biasanya per 1 ha bisa mendapat 5-8 ton, waktu itu hanya mendapat 1 ton/ha.

“Beberapa petani masih bersikap praktis, maunya serba cepat dapat untung. Beberapa lebih memilih jadi buruh bangunan rumah,” ujarnya ditemui di Happiness Festival, 31 Maret 2018, lalu.

Buruh bangunan dibayar tiap minggu. Meski tak banyak, tapi ada. Tantangan ini dihadapi Andhika yang sengaja tinggal di desa untuk bertani.

Pada 2016, Agradaya coba mengevaluasi potensi lainnya. Rempah-rempah di Bukit Menoreh, Yogyakarta jadi salah satu pilihan.

“Problem dari petani di sini, mereka jualannya (rempah) mentah. Harganya jatuh atau dihargai murah. Dan banyak banget dari mereka yang tidak tahu cara mengolah (hasil panen).”

Sejak awal, Andhika menekankan bahwa produknya cenderung organik. Alhasil, proses tanamnya juga harus bebas produk kimia.

“Kalau hasil organik, kita harus merubah lingkungan. Tapi di Bukit Menoreh, minoritas sudah tidak pakai pupuk kimia, jadi jalannya lebih mudah,” ujar Andhika.

Produk rempahnya terfokus pada temulawak, jahe, dan kunyit. Aneka rempah ini diproses menjadi minuman herbal untuk kesehatan, minuman fermentasi (kombucha), bubuk ekstrak, dan essential oil. Baginya, ini adalah solusi untuk pasar rempah alami dan organik yang sedang naik daun.

Andhika sendiri bukan lulusan studi pertanian, ataupun agribisnis. Ia pun tak mewarisi ilmu bertani dari orangtuanya yang masing-masing adalah guru. Lulusan teknik mesin ini memilih belajar otodidak langsung di tanah-tanah pertanian di Jawa.

Riset Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) juga menunjukkan bahwa 86,7% petani hortikultura di Indonesia mengaku tidak menerima ilmu tani dari orang tua. Hal ini berbanding terbalik dengan 60% responden yang bercita-cita menjadi petani, tapi tidak menjalankan usaha di bidang hortikultura.

Menurut Andhika, ia bisa belajar otodidak karena di Yogyakarta banyak pendukung dalam bidang pertanian. Dengan konsep guyub atau kolaborasi, pemberdayaan tani bisa lebih diperluas. Pendukung ini datang dari kalangan komunitas, yayasan, dan mahasiswa untuk melakukan pelatihan terhadap petani lokal.

Pasar Agradaya memang tergolong segmented. Produk yang dihasilkan, sebagian besar, hanya mengenai masyarakat tertentu. Namun, hal ini bisa jadi titik awal untuk membangun lahan-lahan tani yang sempat terkikis dari waktu ke waktu.

Petani-petani jalur independen punya idealisme terhadap produk yang dihasilkan, tetapi siapa tahu akan besar suatu saat nanti? Produk tani yang dihasilkan mungkin tidak sebanyak pasar umum. Namun, target yang segmented ini justru lebih fokus dan produknya bisa dikembangkan secara maksimal. Misalnya produk-produk Agradaya sebagian besar diperuntukkan untuk generasi milenial. Generasi ini punya rasa ingin tahu yang tinggi. Jika produknya cocok, bisa saja diperluas jadi potensi-potensi lainnya. Entah merilis produk baru atau menambah varian produk lama.

Intinya, petani muda yang menempuh jalur indie tidak bergantung penuh pada swadaya pemerintah. Tidak perlu menunggu aliran dana untuk menanam produk baru. Selama bisa guyub, kenapa nggak?

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *