Onde-Onde, Dari Santapan Pekerja Bangunan Hingga Jadi Sajian Istana

Kini menjadi salah satu persembahan pada setiap upacara perayaan Tahun Baru Imlek

onde-onde
Onde-onde (Foto: Koleksimenu.blogspot.co.id)

Onde-onde adalah kudapan berbentuk bulat dengan tekstur renyah dari biji wijen dan kenyal ini terbuat dari tepung beras ketan. Kudapan ini berisi campuran kacang hijau yang dimasak bersama gula pasir.

Konon, jajanan ini pertama kali dibawa ke Indonesia pada zaman Kerajaan Majapahit oleh Laksamana asal Tiongkok yang sedang berkunjung.

Onde-onde makin tersebar karena warga Tiongkok bermigrasi. Onde-onde menjadi sajian di istana dan berkembang di masyarakat Majapahit saat itu.

Pada masa kekaisaran Dinasti Tang, seorang sastrawan bernama Wang Fanzhi sempat menuliskan bahwa onde-onde merupakan salah satu makanan istimewa di istana kekaisaran Chang’an dengan sebutan ludeui.

Tapi sebagian masyarakat di Tiongkok Utara mengenalnya dengan nama matuan.

Di daerah lain penyebutannya berbeda pula. Ada yang menyebutnya ma yuan,  ada juga yang menamakannya jen dai. Perbedaan nama ini disebabkan karena adanya perbedaan latar belakang budaya.

Terdapat kemungkinan bahwa pada mulanya penganan tradisional ini dikenalkan oleh Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming.

Jajanan yang awalnya diperuntukkan bagi para pekerja bangunan ini kemudian masuk ke dapur istana menjadi salah satu menu istimewa, dan akhirnya menjadi salah satu persembahan pada setiap upacara perayaan Tahun Baru Cina.

Onde-onde diyakini sebagai lambang keberuntungan. Bentuknya yang mengembang saat digoreng adalah lambang dari berkembangnya sebuah usaha.

Kudapan ini juga melambangkan keselamatan, kebersamaan, serta tekad yang bulat. Banyak juga yang menggunakan onde-onde untuk berdoa dan mengucap syukur.

Bahkan, ada hari perayaan “Hari Onde-Onde” juga lho di Cina, yaitu di sekitar tanggal 20 Desember setiap tahunnya, mengikuti penanggalan Cina.

Dulu onde-onde yang dibawa dari negeri Tiongkok berbeda dengan onde-onde yang kita kenal sekarang.

Onde-onde awalnya hanya berisi pasta gula kelapa saja. Lambat laun, isian onde-onde dimodifikasi dengan penambahan kacang hijau. Sebagian menggunakan gula pasir sebagai pengganti gula kelapa, agar warna dari isi kacang hijau tetap terlihat menarik.

Hal ini dilakukan agar onde-onde memiliki rasa yang sedikit gurih dan cocok dengan lidah orang Indonesia.

Dalam proses pengolahannya, kacang hijau yang dikukus dan dihaluskan, dimasak dan dicampur dengan campuran gula hingga adonan rata dan dapat dibentuk bulat.

Kemudian adonan tadi akan dibungkus dengan kulit yang terbuat dari campuran tepung beras ketan dan dilumuri dengan wijen. Setelah itu adonan digoreng dengan api sedang hingga masak dan berwarna kecoklatan.

Dalam perkembangannya, onde-onde, khususnya di Yogyakarta telah hadir dalam berbagai ukuran, yakni ukuran besar hingga ukuran mini yang lebih renyah dibagian luarnya. Tentu dengan kelezatan yang sama.

Selain di Yogyakarta, onde-onde juga populer di Pekalongan hingga Jawa Timur. Seperti di Malang, varian isi onde-onde berkembang menjadi rasa green tea, cokelat, kare, keju, hingga kurma (yang umumnya disediakan pada bulan Ramadhan).

Kudapan ini juga dapat kamu temukan di Batak Toba, Sumatera Utara. Tapi tidak diisi kacang hijau, dan tidak dilumuri wijen. Kudapan ini biasa dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan ketika bekerja di ladang.

Ada juga onde-onde di Minang, yang oleh masyarakat setempat, sering diantar ke rumah saudara di bulan Ramadhan dan pada waktu doa bersama dalam upacara sosial.

Tidak hanya di Minang, Palembang juga punya onde-onde dengan isian kacang merah.

Onde onde juga terdapat di daerah Nusa Tenggara Timur.

Namun kudapan ini dibuat dari ubi parut yang diisi dengan isian kelapa parut yang dicampur gula kelapa.

Lain lagi dengan Sulawesi Utara, onde onde lebih dikenal dengan nama onde onde Atoga, yang berasal dari Desa Atoga, Sulawesi Utara.

Bahan dasar dari kudapan ini sedikit berbeda, yaitu menggunakan kentang yang dihaluskan sehingga kulit kudapan ini terasa lebih gurih dan lembut.

Pada bahan isiannya, selain digunakan kacang hijau yang dihaluskan, ditambahkan juga daun pandan agar aroma lebih harum. Tidak hanya itu, untuk mengganti wijen, mereka menggunakan kelapa parut sebagai hasil akhir dari onde-onder Atoga.

Ternyata Onde-Onde banyak terdapat di daerah-daerah di Indonesia.

Kamu penasaran mencoba onde-onde dari daerah mana?

Suka? Vote Artikel Ini!

1 0

2 Comments

  1. Pingback: Masakan Buatan Ibu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up