Logo Balanga

Nasi Megono, Hidangan Merakyat Khas Pekalongan

 Nasi Megono, Hidangan Merakyat Khas Pekalongan

Nasi Megono Pekalongan adalah kuliner Pekalongan yang jadi kebanggaan masyarakat setempat. Tak jarang nasi megono dijadikan sebagai salah satu sajian pada perayaan istimewa.

Pada perayaan budaya di Pekalongan, nasi megono biasa dihadirkan dalam bentuk gunungan yang kemudian jadi rebutan masyarakat Pekalongan. Namun tak harus dalam perayaan, nasi megono pun sering dijadikan sarapan dan banyak dijual di pasar serta warung makan.

Nasi megono terdiri atas nasi putih yang pera dan megono sebagai lauk utama. Megono dibuat dari nangka muda yang dicincang kasar dan dicampur dengan kelapa parut serta aneka bumbu.

Sekilas tampilan nasi megono pekalongan  serupa dengan gudeg, hanya saja megono tidak diberi saus santan atau areh.

Terdapat berbagai jenis megono, yaitu megono cecek, megono paris, megono bung, dan megono ikan.

Megono cecek adalah megono yang dibuat dari cincangan nangka muda atau gori dalam bahasa Jawa. Gori di daerah Pekalongan lebih terkenal dengan sebutan cecek. 

Sedangkan megono paris dibuat dengan bahan dasar sayur urap.

Megono dapat pula dibuat dari bahan dasar batang pohon bambu muda (rebung muda) yang disebut megono bung. Dapat pula berbahan dasar ikan yaitu megono ikan.

Seiring perkembangan zaman, masyarakat Pekalongan mulai mengkombinasikan nasi megono dengan sayur, ikan, dan daging sehingga nasi megono lebih nikmat dan bergizi.

Nasi megono pekalongan juga makin lezat jika dipadukan dengan kuah pindang ikan, rawon, garang asem, dan soto.

Selain Pekalongan, nasi megono dapat dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya Purworejo. Tak memakai nangka, megono Purworejo justru diberi sayuran hijau sehingga citarasanya agak beda dengan Pekalongan.

Di daerah Pekalongan dan Purworejo, munculnya nasi megono konon tak jauh dari kultur masjid dan kebiasaan pedagang Arab jaman dulu yang dibawa ke tanah Jawa.

Pada waktu itu, orang Arab biasa mengakhiri acara tertentu dengan makan bersama sambil duduk mengelilingi satu nampan besar berisi nasi kebuli.

Kultur ini diserap oleh masyarakat setempat pada waktu itu, tetapi bahan-bahannya diganti jadi lebih lokal. Sebab, nasi kebuli identik dengan daging sementara masyarakat Jawa jarang mengonsumsi daging.

Daging kambing pada nasi kebuli diganti dengan nangka, sayuran, dan ikan asin hingga menjadi nasi megono yang dikenal sampai saat ini.

Sampai sekarang di Baledono, Purworejo, nasi megono tetap dijadikan ikon sajian untuk acara-acara besar keagamaan di masjid.

Misalnya seusai Salat Ied dan Khataman Quran, bisa dipastikan telah disiapkan beberapa tampah (nampan bulat dari bambu) besar berisi nasi megono dan lauk pauknya yaitu tempe kemul, telur asin, tahu tempe bacem, dan peyek teri. Satu tampah berisi nasi megono dapat disantap oleh 5-7 orang.

Sedangkan untuk hari-hari biasa, beberapa penduduk masih menjual nasi megono khusus untuk menu sarapan.

Nasi megono dijual dalam bungkusan kecil-kecil, seperti nasi kucing. Pembeli juga boleh minta urapnya saja tanpa dicampur nasi. Biasanya, penjual juga menyediakan tempe kemul hangat untuk teman makan nasi yang dijual secara terpisah.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *