Logo Balanga

Mendoan Ilang Mendo-ne

 Mendoan Ilang Mendo-ne

Apakah kalian pernah makan mendoan?

Apakah yang kalian makan itu bernama mendoan? Mungkin iya, mungkin saja bukan.

Seperti halnya daya kritis orang terhadap sebuah makanan.

Seseorang yang mengkritisi pasta yang terlalu lembek pada hidangan spageti dan protes untuk daging steak yang terlalu matang padahal dia memesan daging dengan tingkat kematangan medium rare.

Membawa makanan khas suatu daerah pada level itu yang saya harap.

Bukan menuntut selalu sempurna. Tidak ada ruginya untuk setidaknya mengerti.

*****

Beberapa dari kalian tentu sudah mengerti, pernah mencicipi, bahkan menjadi kudapan sehari-hari. Makanan yang berasal dari kata mendo yang berarti setengah matang dan merupakan makanan khas warga Purwokerto memang sudah sangat dikenal di Indonesia.

Begitu mudah untuk mendapatkan mendoan di sebagian kota pulau Jawa–mulai dari pedagang gorengan pinggir jalan hingga kedai yang melabelkan dirinya sendiri sebagai penjual makanan khas Purwokerto.

Untuk daerah luar pulau Jawa saya belum begitu paham seberapa sulit atau mudah mendapatkan mendoan.

Bahan dasar tempe yang digunakan untuk membuat mendoan berbeda dengan tempe yang digunakan untuk membuat makanan dari olahan tempe lainnya–seperti tempe orek dan tempe kemul.

Tempe yang digunakan berbeda–tempe untuk mendoan biasanya dibungkus daun pisang dan dilapisi koran atau lembar bekas ujian sekolah di bagian luar dan diikat rotan. Ukurannya lebih lebar dari tempe pada umumnya, dan sangat tipis setipis kartu ATM. #eh

Ketika kalian makan mendoan di daerah kalian masing-masing. Selang berapa waktu kalian berkunjung ke kota lahirnya mendoan–Purwokerto–ibu kota Kabupaten Banyumas.

Kemudian kalian mencicipi mendoan dari tanah kelahirannya. Lantas terbesit dalam pikiran kalian “kok mendoan-nya beda ya?”.

Atau kerabat bahkan saudara kalian yang berasal dari Purwokerto datang berkunjung lantas memasak mendoan untuk kalian. Pertanyaan itu mungkin akan timbul juga dalam benak kalian.

Tekstur yang disajikan ketika kita memakan mendoan seharusnya lebih berminyak dari jenis gorengan lainnya, sensasi kenyal dari tepung yang digoreng setengah matang, dan sedikit lembek dengan tekstur mendoan tersebut.

Oleh sebab itu, kita sering menemukan ejekan atau bercandaan kepada sesama teman seperti Lemes banget kaya mendoan”.

Mendoan memang digoreng dengan tidak sepenuhnya matang. Hanya dibutuhkan waktu yang sangat sebentar ketika proses penggorengan.

Itu sebabnya harus menggunakan tempe khusus untuk membuat mendoan. Tempe yang sangat tipis membuat mendoan dapat matang secara menyeluruh walau hanya digoreng sebentar. Sehingga tidak terasa mentah ketika kita memakannya.

***

Ketika saya berkunjung keluar kota dari kota saya tinggal–Purwokerto. Saya menemukan beberapa penjual mendoan yang menyajikan mendoan dengan sedikit berbeda.

Penjual mendoan menggunakan tempe khusus yang digunakan untuk mendoan, tapi mereka menggoreng mendoan terlalu matang sehingga tidak ditemukan tekstur berminyak dan kenyal ketika dimakan, bahkan cenderung kering dan renyah.

Ada juga penjual mendoan yang tidak menggunakan tempe khusus untuk mendoan. Mereka menggunakan tempe batangan–yang biasa digunakan untuk membuat tempe orek. Tempe batangan dipotong setipis mungkin hingga menyerupai tempe khusus mendoan.

Walaupun sama-sama tempe dan dipotong menyerupai tempe mendoan, kita tidak bisa menemukan sensasi makan mendoan yang sama ketika kita memakan mendoan yang terbuat dari tempe khusus mendoan.

Tekstur dan rasa pun tidak bisa sama walaupun sama-sama digoreng setengah matang.

Lebih terkesan menikmati makanan khas Wonosobo–tempe kemul ketimbang mendoan. Walaupun tekstur yang disajikan lebih lembek daripada tempe kemul.

Perbedaan seperti itu tidak hanya ditemukan di luar Purwokerto saja. Purwokerto sejatinya adalah tempat lahirnya mendoan pun mengalami hal serupa. Mendoan sedikit mengalami perubahan–mulai dari bahan dasar hingga cara memasak.

Seperti halnya sebuah produk kebudayaan lain. Makanan sebagai produk kebudayaan tentu akan mengalami sebuah evolusi merujuk pada kebudayaan setempat.

Bakcang yang tidak lagi menggunakan daging babi, martabak manis dengan beraneka warna dan topping, begitu juga mendoan.

Bagaimana evolusi bisa terjadi pada mendoan?

Sebelum membahas lebih lanjut. Saya tidak akan memberikan informasi yang sudah sangat banyak bertebaran di media daring dan cetak.

Seperti resep membuat mendoan, bagaimana cara menyajikan mendoan, hingga cara membuat tempe mendoan. Kalian dapat mencari dengan mudah dengan mesin pencari google.

Saya akan membahas, mengapa mendoan bisa begitu tenar?

Apa yang menyebabkan evolusi terjadi pada mendoan di kota kelahirannya? Dan di mana kalian bisa mendapatkan mendoan sebagaimana mestinya ketika singgah di Purwokerto.

Semua bentuk observasi dan opini adalah sudut pandang pribadi penulis. Jika kalian memliki sudut pandang lain, tulislah. Mari kita berbagi tulisan.

*****

Mendoan memang sulit mendapatkan klasifikasi–apakah disebut sebagai lauk pauk, kudapan pembuka, atau camilan?

Fleksibilitas semacam itu membuat mendoan mudah diterima masyarakat.

Dinikmati saat kita sedang duduk santai di depan teras rumah sembari melamun ketika menunggu matahari tenggelam.

Sebagai suguhan ketika kerabat datang, duduk bersila di atas tikar. meminum kopi, menghisap sebatang rokok, dan menyantap mendoan diiringi dengan cerita dan tawa.

Hanya dinikmati dengan nasi hangat ditambah sambal kecap atau cabai rawit sebagai sarapan bagi para budak kapitalis dan sebagai makan siang merangkap sarapan bagi para mahasiswa.

Semua itu lebih dari cukup bagaimana mendoan sangat mudah berbaur dengan kebudayaan manusia. Ditunjang dengan harga yang sangat terjangkau dan mudah untuk dibuat sendiri di rumah.

Siapa pun bisa membeli, membuat, dan menikmati mendoan–mulai dari kaum buruh hingga golongan aristokrat.

Sebetulnya dalam hal fleksibilitas seperti itu di Purwokerto–kota asli mendoan. Ada makanan khas lain yang setara dengan mendoan, yaitu keripik tempe. Tetapi, mendoan memiliki nilai jual lebih dibanding keripik tempe karena teksturnya.

Keripik memiliki tekstur kering dan renyah bahkan cenderung keras. Tekstur seperti itu sangat banyak jenisnya dan mudah kita temukan pada makanan lain di Indonesia, seperti opak, peyek, hingga kerupuk yang sering kita jumpai.

Lebih berminyak, memiliki tekstur lembek dan sedikit kenyal membuat mendoan memiliki nilai lebih sebagai makanan khas. Ciri khas seperti itu yang membuat mendoan berbeda.

Sangat jarang bahkan tidak ada jenis gorengan yang memiliki tekstur sama persis seperti mendoan. Itulah mengapa mendoan sangat membekas dan mudah diingat orang-orang sebagai makanan khas sebuah kota.

***

Tekstur lembek, sedikit kenyal, dan terlihat belum sepenuhnya matang. Bagi sebagian orang yang belum pernah mencicipi mendoan tentu saja sajian seperti itu tidak sepenuhnya menarik. Seolah-olah mereka akan merasakan sensasi makan tempe mentah ketika mengigitnya.

Dengan alasan seperti itu, lantas sebagian penjual mendoan ada yang memilih untuk menyajikan mendoan dengan digoreng sedikit kering.

Tentu kita akan menemukan sensasi yang sedikit berbeda. Tekstur lembek dan kenyal itu tergantikan dengan sensasi garing dan kriuk ketika kita mengigitnya. Hampir mirip tekstur keripik tempe, tapi tidak terlalu kering dan masih ada sedikit kesan basah.

Bahkan ada sebagian penjual mendoan di Purwokerto memberi tawaran kepada pembeli. Mereka bertanya dulu sebelum mulai menggoreng mendoan, ”Mendoannya digoreng mendo apa garing?”.

Memang mendoan yang digoreng lebih kering memberi alternatif tersendiri bagi para penikmatnya. Bagi sebagian orang yang tidak menyukai tekstur lembek dari mendoan dan juga tidak suka dengan tekstur keripik yang terlalu keras. Mendoan kering menjadi pilihannya.

***

Tidak menggunakan tempe khusus mendoan melainkan tempe batangan. Perubahan ini lebih didasari pada segi ekonomi.

Bahan dasar yang digunakan lebih murah membuat mendoan dengan bahan dasar tempe batangan ini dijual dengan harga di bawah mendoan aslinya. Terkesan memberikan harga lebih ekonomis terhadap barang yang telah memiliki harga ekonomis.

Penjual bisa mendapatkan tempe batangan dengan harga lima ribu rupiah. Dipotong setipis mungkin hingga menyerupai tempe mendoan.

Terkadang batang tempe seharga lima ribu rupiah bisa untuk dua hari mereka berjualan. Walaupun pembeli cukup ramai.

Hasil potongan yang sangat tipis itu bisa menghasilkan puluhan lembar tempe siap masak. Lantas mereka jual dengan harga dua ribu rupiah untuk tiga buah tempe.

Bandingkan dengan bahan dasar yang digunakan adalah tempe khusus untuk mendoan. Tempe khusus mendoan dijual dengan harga lima ratus rupiah untuk satu bungkus.

Satu bungkus tempe mendoan berisi dua lembar tempe mendoan. Lantas satu mendoan dijual dengan harga seribu rupiah untuk satu mendoan.

Dari sudut pandang penjual, keuntungan menggunakan bahan dasar tempe batang dan tempe mendoan sebetulnya tidak jauh berbeda.

Namun, dari sudut pandang pembeli, harga yang lebih murah terkadang menjadi pilihan utama. Pembeli lebih memilih untuk membeli mendoan dengan harga dua ribu rupiah untuk tiga mendoan ketimbang seribu rupiah untuk satu mendoan.

Tentu sensasi menikmati mendoan dengan bahan dasar tempe batangan berbeda dengan sensasi menikmati mendoan dengan bahan dasar tempe khusus untuk mendoan.

Dapat diibaratkan seperti menikmati makanan khas Surabaya, rawon tidak dengan telur asin melainkan telur pindang. Sama-sama telur namun tetap berbeda. Tetapi, semua kembali lagi kepada yang menikmatinya.

***

Terlampau banyak penjual mendoan legendaris yang menyajikan mendoan sebagaimana mestinya di Purwokerto.

Saya hanya mengambil contoh salah dua tempat dimana kamu harus datang dan mencicipi mendoan ketika singgah di Purwokerto.

Mendoan Sawangan

Tempat ini memang bukan pilihan utama bagi warga asli dan tinggal di Purwokerto. Terletak di Jalan Soetoyo dekat simpang tiga sawangan.

Memang sebetulnya tempat ini lebih akrab untuk wisatawan atau pengunjung. Di tempat ini kalian juga bisa membeli makanan khas Purwokerto yang lain selain mendoan.

Dari awal tempat ini memang dibuat lebih untuk sebagai pusat oleh-oleh khas Purwokerto. Kalian bisa melihat proses pembuatan tempe yang digunakan untuk mendoan dan membeli tempe mendoan mentah dan racikan tepung untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Lokasi tempat ini terletak di persimpangan, dua jalur menuju luar Purwokerto. Sehingga mempermudah untuk wisatawan membeli oleh-oleh sebelum pulang.

Untuk kalian yang sedang liburan bersama keluarga atau rombongan. Tempat ini memang sangat cocok bagi kalian.

Mendoan PLN

Kesederhanaan di tengah kemewahan. Sebuah gerobak gorengan yang terletak di ujung Jalan Ragasemangsang dan diapit gedung Bank BNI dan gedung PLN.

Lokasi tempat ini terletak sangat dekat dengan pusat keramaian di Purwokerto. Hanya jalan beberapa langkah kalian bisa langsung menemukan alun-alun Purwokerto dan Rita Mall Purwokerto.

Sudah sangat lama berjualan dan selalu dipenuhi antrean ketika sore, tapi masih setia dengan gerobak kecil.

Tempat ini menjadi favorit saya ketika membeli mendoan sejak saya masih sekolah dasar. Bahkan salah satu pegawainya yang dulu pernah bekerja, sekarang sudah menjual gorengan sendiri dan tidak kalah ramai.

Untuk kalian yang ingin mencicipi mendoan yang masih bernuansa kearifan lokal. Tempat ini memang pilihan terbaik. Lokasi yang strategis membuat kalian tidak sulit untuk mencari.

Itulah salah dua tempat legendaris yang menjadi pilihan kalian ketika singgah di Purwokerto. Tergantung anda memilih tempat yang cocok dengan keadaan anda ketika sedang singgah dan bagimana Anda ingin menikmati.

***

Ketika kalian ingin membeli tempe khusus yang digunakan untuk membuat mendoan sebagai oleh-oleh.

Jangan khawatir tempe menjadi busuk ketika kalian tidak memutuskan segera kembali ke kota kalian di hari yang sama ketika kalian membeli tempe itu. Atau ada sesuatu hal yang membuat kalian memutuskan untuk singgah di Purwokerto lebih lama dari perkiraan.

Belilah tempe mendoan yang masih setengah matang. Hampir semua penjual tempe mendoan menyediakan tempe yang masih setengah matang.

Letakan tempe mendoan di atas lantai–udara dingin lantai membuat bakteri mendoan tidak bisa berkembang biak sempurna, tapi tetap hidup.

Tidak dengan lemari pendingin atau kulkas–walaupun sama-sama menciptakan udara dingin. Kulkas yang tertutup rapat tidak dapat tersentuh suhu ruangan. Bakteri pada tempe tidak bisa berkembang biak dan juga tidak bisa hidup.

Udara yang terlampau dingin dan tidak tersentuh suhu ruangan membuat bakteri pada tempe akan mati. Tentu tempe tidak akan bisa matang secara sempurna.

*****

Makanan khas bukan hanya tentang letak geografi.

Melainkan bagaimana kita memberi persepsi dan apresiasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *