Kuliner Eksotik Masa Kecil: Hewan Liar Goreng & Bakar Brengkelan

Mengingat kuliner membuat saya Yonathan Christian Simamora mengingat betapa uniknya selera makan saya dan teman-teman saya dahulu.

Musim hujan memberikan “Surga Hujan Kuliner” untuk saya dan teman-teman saya. Kami mencari laron untuk diberikan kepada ayam dan juga dimakan oleh sebagian besar dari kami, untuk saya pribadi awalnya ini menggelikan, tapi ini misterius.

Memakan hewan yang tidak lazim dimakan tampak seperti suatu hal yang keren bagi teman-teman saya. Oleh sebab itu, lambat laun saya ingin mencicipi laron yang digoreng.

Akhirnya pada kelas tiga sekolah dasar saya mencari laron pada pagi hari musim hujan dan meminta ibu angkat saya yang biasa saya panggil Mamak untuk menggorengkan laron yang saya tangkap.

Setelah selesai digoreng, betapa sedikitnya laron setelah diolah karena sayapnya dibuang. Saya mencampur laron yang telah digoreng itu dengan nasi, betapa enaknya laron itu ada unsur rasa manis.

Saat itu juga saya merasa keren karena merasa berani memakan makanan yang tidak lazim untuk sebagian orang.

Tahun-tahun selanjutnya saya tidak mencari laron lagi untuk dimakan karena disibukkan dengan jadwal belajar yang padat.

Tetapi padatnya jadwal belajar itu membuat saya bosan, sehingga saat musim laron datang saya tetap mencari laron walaupun tidak saya makan karena sejak kecil saya sangat tertarik dengan serangga.

Sejujurnya saya pernah merasa ngiler karena melihat tulisan tentang belalang goreng, tapi saya harus puas hanya dengan membacanya.

Akhirnya pada kelas satu SMP, saya mlihat sesuatu yang awalnya biasa saja, yaitu teman-teman saya mencari capung, tapi pada akhirnya saya terpukau setelah melihat mereka memanggang capung tersebut lalu dimakan.

Ini sangat unik walaupun hasrat untuk memakan capung dari diri saya sendiri kurang karena saya hanya menyukai capung secara estetika tidak secara aspek kuliner.

Selama saya hidup di desa saya, yaitu desa Brengkelan secara tidak sadar saya dan teman-teman saya sering memakan makanan eksotik selain dari laron dan capung, yaitu kelelawar dan burung pipit.

Bahkan saya bersama Kakak dan teman-teman pernah memakan bayi burung pipit yang masih belum berbulu dan belum lama menetas.

Saat itu bayi burung pipit malang itu kami panggang dan makan sungguh sangat lezat sekali dan kami tidak memperhatikan aspek kesehatan dan kebersihan saat itu karena kami masih kecil.

Dengan memakan daging baik itu dari serangga atau burung yang masih kecil kami merasa memakan makanan mewah.

Tetapi, tidak setiap momen kuliner unik saya ikuti karena ada satu momen yang tidak ingin saya ikuti baik bersama teman-teman atau sendiri, yaitu pesta pora memakan cicak panggang.

Saat itu teman-teman berkumpul di depan tembok yang terdapat banyak cicak dan mereka dengan membawa kecap dan lilin langsung merenggut dan memburu nyawa cicak yang tidak berdaya.

Mereka menyayat atau dalam bahasa kami mengklebeti, lalu membakar di atas lilin dan menyantapnya. Tampak menjijikan serta menggelikan tapi itulah kekayaan kuliner bagi kami semua.

Kekayaan kuliner bagi kami bukan tentang berapa banyak dana yang keluar tetapi tentang betapa menyenangkannya keunikan dan keanehan makanan yang kita makan bersama atau sendiri.

Seperti teman saya seorang penggila cicak, baik untuk dimakan atau hanya untuk mainan. Saat pagi yang berlangit mendung ia memburu cicak dengan lidi dan nasi sebagai umpan saya tidak berpikir kalau ia akan memakannya.

Saya tidak langsung memikirkan untuk apa cicak itu dan betapa cinta ia dengan kuliner cicak hingga ia memamerkan kepada semua orang bahwa ia telah memakan sate cicak.

Ini sungguh menggelikan, tapi apabila semua orang sesimpel teman-teman saya mungkin kelaparan di Indonesia atau di dunia dapat berkurang drastis atau bahkan dientaskan.

Penulis : Yonathan Christian Simamora

Alamat : Brengkelan RT 5 RW 5 Purworejo

CP       : 081325253269

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *