Logo Balanga

Kue Cucur Khas Bengkulu Buatan Ibu

 Kue Cucur Khas Bengkulu Buatan Ibu

Kue Cucur merupakan salah satu kue tradisional. Kue ini terdapat di beberapa daerah di Indonesia, yang membedakan kue cucur has dari Bengkulu dengan kue cucur lainnya yaitu bentuknya yang seperti roda dan memiliki bolongan di tengah seperti donat.

Di Bengkulu kue ini biasanya selalu ada di acara pernikahan yang memakai adat tradisional. Mungkin kue ini terlihat sangat sederhana,akan tetapi dibalik kesederhanaan kue ini terdapat kenangan berharga bagi saya.
Kue Cucur adalah kue yang bersejarah untuk keluarga saya.

Saya anak ke lima dari tujuh bersaudara. Saat itu perekonomian keluarga saya masih sangat sulit, ayah saya hanyalah PNS biasa.

Ibu saya berjualan kue cucur untuk menyokong perekonomian keluarga dengan menitipkannya ke warung-warung kecil di sekitar rumah. Beliau sudah berdagang kue ini sejak kakak pertama saya masih kecil, dan terakhir ibu saya menjual kue ini pada saat saya kelas 5 SD.

Saya sangat senang membantu ibu saya masak kue ini, pulang dari sekolah saya langsung berlari mengganti pakaian dan membantu ibu. Meskipun hanya membantu memberi lobang-lobangnya saja pun saya sudah sangat senang.

Saat itu masih memakai kompor berbahan bakar minyak tanah,biasanya ibu saya masak kue ini dua hari sekali. Dan sekali masak itu memerlukan waktu sampai 4 jam.

Sedih rasanya melihat ibu saya sering merasakan sakit pinggang karena duduk berjam-jam,dan terkadang terkena minyak goreng pada saat menggoreng kue cucur, karena menggoreng kue cucur harus cepat dibolak-balik agar tidak hangus.

Saya pun juga pernah merasakan percikan minyak panas karena terlalu dekat dengan wajan saat ibu saya menggoreng.

Rasanya yang manis dan gurih jadi favorit banyak orang pada saat itu, dari yang tua sampai yang muda.

(Baca juga: Kue Cucur Kudapan Khas Empat Negara di Asia Tenggara)

Sekarang sudah jarang ditemukan kue cucur di Bengkulu .Karena kue ini sudah kalah saing dengan fast food dan kue-kue kekinian. Apalagi anak zaman now sudah tidak tertarik dengan yang berbau tradisional.

Tapi tidak untuk saya, sekarang saya sudah berusia 19 tahun dan bersekolah di salah satu sekolah ikatan dinas di Depok

Kehidupan keluarga kami pun sudah jauh lebih baik dan ibu saya sudah tidak berjualan kue ini lagi karena harga bahan yang semakin menanjak sedangkan jumlah permintaan semakin sedikit. Rasa manis yang khas dan gurihnya tidak bisa dibandingkan dengan burger ataupun pizza.

Meskipun sudah jarang, tetapi saya tetap bersyukur masih ada warung yang menjual kue cucur jadi saya tetap bisa menikmatinya meskipun rasanya kadang berbeda dari buatan ibu saya karena bagi saya buatan ibu sayalah yang terbaik.

Saat pendidikan di asrama pun makanan yang paling saya rindukan adalah kue cucur, bahkan saat liburan ke kampung halaman yang saya minta kepada ibu saya adalah kue cucur.

Kapan pun dan di mana pun saya melihat kue ini, timbul rasa rindu di benak saya akan kenangan masa kecil bersama ibu saya yang manis.

Saat-saat memasak kue ini bersama ibu, berbelanja bahan ke pasar, terkena percikan minyak panas,pergi mengantarkan kue ke warung untuk dititipkan akan sulit.

Karena kue cucur membantu kakak saya bayar uang sekolah, saya dan adik saya bisa jajan sekolah. Mungkin ibu saya tidak tau betapa kagumnya saya tethadap beliau, saya terlalu pengecut untuk memuji ibu saya sendiri.

Tetapi,perjuangan ibu saya dalam berjualan kue cucur demi membantu suami dalam menghidupi anak-anaknya luar biasa dan tak akan bisa terbalaskan oleh apapun.

Meskipun begitu, jika saya memenangkan kompetisi ini, hadiahnya akan saya persembahkan untuk ibu saya tercinta.

Siapa bilang makan kue cucur kampungan? Tuh buat yang butuh inovasi baru biar nggak kalah kekinian, kue cucurnya diberi taburan keju sesuka kamu. K-Drama Lovers zaman now ayok makan kue cucur sambil nonton drama korea kesayangan kamu 😉

I LOVE MY MOM ???? I LOVE KUE CUCUR????

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *