Ada 1001 Kedai Kopi di Pulau Tanpa Kebun Kopi. Ini Kisahnya!

Ada 1001 Kedai Kopi di Pulau Tanpa Kebun Kopi. Ini Kisahnya!
Warung Kopi Ake, salah satu warkop di Belitung. (Foto: travelingyuk.com)

Ada orang yang merasa belum afdol kalau tidak minum kopi tiap hari.

Bagi sebagian orang Indonesia, kopi adalah minuman yang jadi kultur tersendiri. Minum kopi alias ngopi menjadi kebiasaan yang tak lepas dari keseharian. Munculnya kedai-kedai kopi artisan di berbagai kota semakin menguatkan fakta tersebut.

Jauh sebelum kedai kopi di kota, masyarakat Belitung sudah melakukan kebiasaan ngopi setiap hari.

Kota Manggar adalah sebuah kota di Belitung Timur. Konon, kota ini tersohor dengan julukan “Kota 1001 Kedai Kopi”. Maklum, warung kopi sangat mudah ditemukan seperti toko pulsa di kota lain. Satu kota tercatat 150 kedai kopi di segala penjurunya.

Berdasarkan kontur tanah, Pulau Belitung sebetulnya tidak punya kebun kopi. Biji kopinya datang dari daerah lain seperti Aceh dan Lampung.

Namun julukan Kota 1001 Kedai Kopi bukan tanpa alasan. Konon, hal ini datang dari budaya Tiongkok yang ada di Pulau Belitung.

Sejak dulu, Belitung terkenal sebagai daerah penghasil timah terbesar di Indonesia. Mandornya yang kebanyakan warga Tiongkok punya kebiasaan ngopi di sela-sela kerja. Sejak 1940-an, kedai kopi dibangun satu per satu di kawasan tersebut.

Dari satu tumbuh seribu, kini warung kopi di Kota Mangar masih beroperasi seperti biasa. Jangan heran kalau pemiliknya sudah memasuki generasi ketiga atau keempat. Meski begitu, banyak warkop yang enggan merenovasi kedainya, nih. Menurut pemilik, warkop dengan interior lama jadi keunikan tersendiri.

Baca juga: 

Bagaimana dengan persaingan antar warkop? Bisnis tetap bisnis, maka mau tak mau ada persaingan di dalamnya. Namun, lagi-lagi ada keunikan di kota ini.

Setiap pemilik warkop sepakat untuk menghormati rezeki kompetitor. Mereka percaya pada pengunjung yang jadi langganan masing-masing warkop. Saking percayanya, pemilik atau pelayan warkop sudah hafal dengan kopi langganan mereka.

Persaingan kian meredup dengan kesepakatan jam buka. Ada warung kopi yang buka pagi hingga sore, ada pula yang buka sore hingga subuh. Jadi, pengunjung nggak perlu takut melewatkan kebiasaan ngopi mereka.

Sebagian besar kedai kopi Manggar memakai kopi robusta. Bukan diseduh, kopi ini direbus langsung dengan air mendidih. Kompor terus menyala selama warkop buka, sehingga aroma kopinya benar-benar wangi saat dihidangkan.

Kedai kopi Manggar umumnya memakai teknik dua kali penyaringan. Tekstur kopinya memang terasa lebih halus.

Harga kopi di kedai-kedai Manggar umumnya Rp 8.000 – Rp 15.000 per satu gelas. Ada kopi hitam pahit, kopi hitam manis, dan kopi susu.

Tidak hanya kopi, warkop di Kota Manggar juga menyediakan kudapan dan pengganjal perut seperti gorengan, kue bingka, hingga lontong isi.

Baca juga: 

Ngopi di Kota Manggar menambah daftar budaya kuliner Indonesia. Budaya ngopi tidak fokus pada minumannya saja. Peminum kopi juga saling ngobrol dan bertukar informasi.

Kalau merindukan nuansa warung kopi ‘sesungguhnya’, datanglah ke salah satu warung kopi di kota ini.

Sebagian besar pengunjungnya sibuk mengobrol daripada main laptop atau smartphone. Bahkan ada yang mendapat tawaran kerja atau investor dari kedai-kedai kopi ini, lho.

Gimana? Sudah siap terbang ke Pulau Belitung demi secangkir kopi?

Suka? Vote Artikel Ini!

0 0
Kaningga Janu Manggarayu
Written by
Penyuka kuliner, sejarah, dan bumbu segar. Berkelana tanpa mengenal arah, pulang ketika merasa lelah.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up