Logo Balanga

Kisah Pedasnya Napinadar: Makanan Khas Batak dengan Resep Turun-temurun

 Kisah Pedasnya Napinadar: Makanan Khas Batak dengan Resep Turun-temurun

Di daerah Sumatera Utara, khususnya bagi suku batak, makanan napinadar memiliki makna yang sangat besar.

Makanan napinadar biasanya disajikan kepada seseorang yang sedang bersukacita, misalnya acara pernikahan, melahirkan, pemberangkatan kuliah, dan masih banyak lagi.

Bagi kepercayaan suku batak sendiri, pemberian makanan ini kepada seseorang diharapkan mendapatkan kesehatan dan berkat yang melimpah kedepannya.

Napinadar merupakan sebuah makanan berbahan dasar daging ayam kampung dan diolah dengan rempah rempah alami yang biasa di tanam sendiri oleh masyarakat setempat.

Selain terkenal oleh kepedasannya, napinadar juga terkenal  dengan metode pengolahannya yang unik di mana pada dasarnya ayam yang dipotong untuk membuat napinadar, darahnya (dalam bahasa batak disebut gota) akan diambil ke dalam cawan.

Setelah itu, ditetesi jeruk nipis dan garam supaya tidak membeku, lalu dicampur dengan ayam yang sudah dimasak sebelumnya pada akhir pengolahan.

Proses pencampuran antara gota dengan ayam ini merupakan proses yang paling akhir dalam membuat napinadar yang kemudian bisa disajikan.

Dulu, ketika saya mau diberangkatkan oleh orangtua saya untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta, sehari sebelumnya ibu saya memasak napinadar untuk saya makan sebelum berangkat.

Saat itu, ibu saya memotong ayam peliharaan yang paling besar, hal ini dilakukan supaya rezeki saya juga besar kedepannya. Saya dan Adik turut membantu Ibu supaya cepat selesai dan bisa disajikan saat makan malam.

Saya melihat cara memasak dan menyajikan bumbu yang dilakukan oleh ibu saya. Ada banyak sekali bumbu yang harus dipersiapkan.

Sampai saat ini saya masih ingat beberapa bumbu yang dibutuhkan untuk membuat napinadar yaitu, cabai rawit yang banyak, lengkuas, serai, kemiri yang dibakar, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya ingat.

Moment berharga saat kami menyantap ayam napinadar.

Ketika itu, tibalah waktunya makan malam. Semua sajiaan sudah tersedia termasuk napinadar. Saya merasa sangat senang karena ibu saya menyuruh saya memilih bagian ayam yang disukai, dan saya pun memilih bagian paha yang memang sudah menjadi favorit saya.

Kami pun makan dengan lahapnya dan ibu saya menasihati supaya saya baik-baik ketika menjalani pendidikan di Jakarta nanti.

Saat ini, napinadar sudah menjadi makanan yang membudaya di suku Batak sendiri dan menjadi ciri khas dari suku Batak.

Seperti yang kita ketahui, bahwa makanan ini hanya berasal dari Sumatera Utara dan menjadi kuliner yang terkenal di kawasan masyarakat.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *