Jangan Salah! Ini Ciri-Ciri Sayuran Organik Berkualitas

Semai Indonesia
Sayur organik dari Semai Indonesia. (Foto: Belanga/Randi)

Deretan sayur mayur mulai dari wortel, terong, cabai, daun ketumbar, selada merah,  hingga kenikir tertata rapi di sebuah meja dalam acara Pasar Langsat di Jakarta, Minggu 18 Maret 2018.

Ada juga bunga telang yang dikeringkan dan siap dicampur dalam masakan.

“Ini semua bebas pestisida,”  jelas Diva Indraswari, co-founder Semai Indonesia, penyedia sayur, buah lokal, dan rempah yang ditanam dengan metode pertanian ramah lingkungan.

Sayur yang bebas pestisida ialah salah satu ciri sayur organik.

Selama proses tanamnya, sayur atau buah organik memang ditumbuhkan tanpa pupuk kimia sintetis, herbisida, pestisida, tanpa menggunakan bibit tanaman yang direkayasa, ataupun radiasi untuk membasmi hama.

Tanaman organik juga mengandalkan pupuk alami dan pembasmi hama alami.

Diva mengaku bahwa Semai Indonesia memanfaatkan limbah sayur, tanaman beraroma wangi, dan sebagainya. Semuanya natural dari alam dan untuk alam.

BACA JUGA: Wajib Baca! 9 Makanan Ini Jaga Kesehatan Perempuan

Lantas, bagaimana memilih sayur organik  berkualitas? Tiga tips dari Diva di bawah ini bisa menjadi panduan Anda.

Sayur organik berwarna alami, tidak ngejreng

Dengan proses tanam alami dan tanpa bibit rekayasa, sayur organik umumnya berwarna alami, tidak ngejreng.  Justru jika kita mendapati buah yang berwarna terlalu “terang” bisa jadi itu bukan buah organik.

Sayur organik cenderung mudah layu saat cuaca terik

Tanpa pengawet,  tanaman organik cenderung mudah layu saat cuaca terik. Seperti siang itu, sejumlah sayuran terlihat mulai layu.

“Ini baru dipetik semalam, dari kebun Semai Indonesia yang berlokasi di Cijeruk, Bogor, Jawa Barat.  Karena hari terik, sayur jadi lebih cepat terlihat layu,” jelas Diva.

Idealnya, sayur dan buah organik memang harus langsung diproses segera setelah panen.

Memilih sayur dengan daun bolong, lebih aman.

Sayur organik memang tidak nenggunakan pestisida atau bahan kimia lainnya selama proses tanam. Alhasil, tidak ada residu dari zat-zat tersebut ketika masa panen.  Karena itu, petani harus mengurus tanamannya lebih intensif.

Para petani harus jeli memperhatikan tanaman agar bebas dari hama atau ulat. Makanya, kadang-kadang, ada saja daun yang bolong lantara “kecolongan”.

“Daun berlubang memang lebih aman dari yang tidak. Tapi sebisa mungkin, petani juga harus cermat. Jangan sampai sayur yang dijual bolong-bolong semua.”

 BACA JUGA: Jangan Takut! Berikut Panduan Praktis Jadi Vegetarian

 

Suka? Vote Artikel Ini!

0 0
Kaningga Janu Manggarayu
Written by
Penyuka kuliner, sejarah, dan bumbu segar. Berkelana tanpa mengenal arah, pulang ketika merasa lelah.

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up