Junita Xander’s Kitchen, Berbagi Inspirasi Lewat Resep Masakan

Penulis resep yang dulu takut goreng telur.

Junita Xander’s Kitchen, Berbagi Inspirasi Lewat Resep Masakan

Junita ‘Xander’s Kitchen’ kini dikenal sebagai penulis buku masak mega best seller. Padahal dulu ia menggoreng telur mata sapi dengan mengenakan baju lengan panjang dilengkapi helm full face.

Junita tertawa usai menceritakan masa lalu itu.  Kami berbincang melalui telepon minggu lalu.

“Mama saya sampai kaget. Tapi saya emang takut banget kena minyak,” katanya.

Saat remaja, Junita memang jarang ke dapur. Padahal ibunya pandai memasak. Ketika sekolah di Akademi Pariwisata Trisakti (kini Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti) di Jakarta, ia membuat dosen kitchen-nya gemas karena takut pegang ayam.

“Tangan saya sampai dipaksa megang ayam. Gimana mau masak kalau takut.”

Tapi itu cerita lama.

Kini buku perdananya “Home Cooking ala Xander’s Kitchen” laris manis sejak diterbitkan Januari 2018.  Penjualannya bahkan yang menjadi yang terbaik di seluruh toko buku Gramedia, mengungguli Dilan 1990  (Pidi Baiq) dan Ubur Ubur Lembur (Raditya Dika) selama Februari-Maret 2018.

Buku yang dibanderol Rp168.000 itu sudah dicetak lebih dari 23 ribu eksemplar dalam tiga bulan. Malah sudah masuk cetakan ke-9.

Follower @xanderskitchen yang mencapai 427 ribu saat artikel ini diterbitkan, menyambut gegap gempita. Banyak sekali yang re-cook resep di buku dan mengunggah hasilnya di media sosial Instagram dengan tagar #xanderskitchen

“Itu rezeki luar biasa buat saya,”

Maksa Masak Demi keluarga

Sudah lima tahun terakhir Junita memasak untuk keluarga dan makin piawai mengolah bahan masakan. Ia mengaku tak tega menyajikan masakan yang itu-itu saja untuk suami dan anak-anak.

“Saya baru serius belajar masak umur 35 tahun.”

Berbekal mesin pencari Google, ia mulai browsing, dan sering bertemu resep yang keliru sehingga sering membuang makanan. Ia juga rajin bertanya pada ibu.

Lama-kelamaan, Junita makin suka memasak. Apalagi anak-anak sudah mulai besar dan mulai membutuhkan camilan selain makanan utama.

Sempat aktif di platform berbagi resep Cookpad, Junita rajin berbagi resep dan re-cook resep sesama pengguna platform itu.

Bisa karena biasa. Mulai dari kue bantat, Junita terus mencoba hingga menuai pujian dari keluarga. Lama kelamaan, pujian datang dari orang-orang  yang tak ia kenal sebelumnya.

Akun media sosial Instagram @xanderskitchen yang ia buat sejak 2015 mulai bertambah banyak follower sejak ia berbagi resep pada Maret 2016.

Akun yang awalnya terisi dengan beragam foto secara acak, mulai ia fokuskan untuk berbagi resep masakan praktis untuk membantu para pemula seperti dirinya dulu.

“Itu juga diajarin anak saya. Karena sebelumnya saya enggak punya akun media sosial apapun, jadi enggak pernah main.”

Januari 2017,  ibu tiga putra ini kaget membaca DM berupa tawaran untuk menerbitkan buku. Junita berpikir, kalau ia punya buku bisa menjadi warisan, sebuah kenang-kenangan.

Ia sendiri banyak mengoleksi buku dan menyimpan impian menjadi penulis.  Tawaran yang ia baca pagi hari itu, seketika memompa adrenalin.

“Sama sekali dulu enggak mikir bisa dapat uang dari situ.”

Proses berdiskusi dengan editor berlanjut di whatsapp messenger. Junita makin membulatkan tekad.

Sebab sebelum tawaran buku datang, akun IG-nya memang sudah ramai dikunjungi orang. Resep-resepnya banyak dimasak ulang.

Penghargaan aku buat ci @xanderskitchen krn sudah mau berbagi resepnya selama ini, jujur sebenernya aku ga begitu suka beli buku resep masakan, walaupun ada bbrp beli waktu awal2 nikah, tp ternyata sangat sangat jarang di buka dan hanya jadi pajangan aja hihi..tapi krn cici idola aku yg sering bgt ngsh ide2 yg simple buat makanan, sebagai ucapan terima kasih aku beli bukunya, wah ternyata isinya menyadarkan aku byk bgt makanan yg cuma sekejap masaknya yg sblmnya ga kepikiran, makasi banyak y ci. . Aku inget bgt pertama kali coba resep cici itu resep ayam bakar taliwang di tahun 2016 dan aku langsung jatuh cinta sama rasanya. Semoga berkah y ci ilmunya dan selalu menjadi inspirasi. Maaf ini resepnya aku tambahin wortel ngabisin stok di kulkas, aku sering bgt bikin cah sayur telur pk sawi atau brokoli tp ga pernah kepikiran kalo buncis enak jg diginiin, shanum yg g suka buncis jd mau makan buncis, yeess bakal sering masak ini deh, resepnya liat aja di gambar y super gampil ga smp 10 menit jadi. Jangan lupa beli bukunya yah, ini udh mega best seller resep anti gagal dan yg g bisa masak bakal kaya jago masak deh pk resep di buku ini ???????????????? #cahbuncistelur #resepmasakan #resepmasakansimple #cahbuncis #resepcahbuncistelur #xanderskitchen

A post shared by diary me and my daughter (@anastasiaarifyani) on

Junita juga menerima banyak DM dari teman baru yang menanyakan resep, atau bahkan meminta nasihat resep mana yang layak dijadikan bisnis.

Ia mengaku terharu ketika ada salah satu follower mengirimkan DM telah menggunakan resep donat Junita untuk berjualan, dititipkan di warung-warung untuk membantu ekonomi keluarga. Ada yang menggunakan resep ayam betutu hingga sambal yang ia bagi resepnya.

“Saya pikir, jika dalam bentuk buku akan lebih mudah bagi orang. Saya juga bisa berbagi ke orang-orang yang selama ini tidak main Instagram.”

Proses satu tahun

Proses pembuatan buku hingga siap edar di pasaran, diakui Junita tergolong lama. Mendapat penawaran pada Januari 2017, buku terbit pada Januari 2018. Dalam prosesnya banyak dinamika yang terjadi karena ia harus memasak dan memotret ulang.

“Karena dulu kan memang tidak diniatkan bikin buku. Instagram juga hanya untuk dokumentasi. Jadi selesai foto dan unggah, ya saya hapus foto aslinya.”

Foto-foto hasil jepretan kamera handphone tak banyak yang ia simpan. Kalaupun ada, resolusinya tak mencukupi karena dibawah 2MB. Ia harus memotret ulang.

“Sanggup masak 4-5 menu sehari sih sanggup. Tapi motretnya itu loh yang butuh waktu lama. Kadang-kadang mati gaya juga.”

Urusan buku kadang-kadang juga mesti ditunda jika Junita sibuk berkegiatan sebagai istri perwira polisi.

Internet dan listrik padam mewarnai dinamika pengiriman naskah melalui email ke editor di Jakarta. Junita pantang mundur. Bahkan ia menambah resep.

Jumlah resep yang awalnya direncanakan 75 resep, berkembang menjadi 85 resep, hingga terakhir menjadi 104 resep.

“Karena awalnya terasa tipis. Saya berangan-angan kalau punya buku ya tebal, agak besar.”

Pilihan menu pun sempat bongkar pasang karena bahan baku yang tidak tersedia. Misalnya Junita mengganti menu pecel lele dengan sate lilit, karena tidak ada lele di Lembata.

“Di sana adanya lele laut, dan itu musiman. Selama 1 tahun 7 bulan di Lembata, saya enggak pernah lihat lele laut dijual di pasar.”

Assalamu’alaikum… Selamat siang, sate gak harus dari daging ayam, kambing atau sapi ya, pakai ikan juga oke, salah satu yang patut dicoba adalah sate lilit ikan tenggiri ala Bali. Tusuknya pakai batang serai bikin aromanya makin sedap, apalagi kalau bakarnya pakai bara api, pasti makin top deh ????. Sate lilit ini edisi recook resep dari buku home cooking ala @xanderskitchen , buanyak inspirasi resep yang enak & mudah dalam buku tersebut yang sangat membantu kita supaya gak puyeng lagi memilih menu harian untuk keluarga tercinta. Ijin tulis ulang resepnya ya ci Jun, thank you so much ???????? @xanderskitchen . Selamat melanjutkan aktifitasnya, jangan lupa makan siang ????. __________________________________________ SATE LILIT Bahan: 500 gram ikan tenggiri, haluskan 50 gram kelapa setengah tua parut 50 ml santan 2 lembar daun jeruk, iris halus 12 batang serai untuk tusuk sate (me: 15 batang tapi satenya masih gendut2????) Garam & gula secukupnya Bumbu halus: 6 butir bawang merah 5 siung bawang putih 3 buah cabe merah keriting 2 cm kunyit 2 cm the kencur Cara membuat: 1. Basahi batang serai dengan air supaya tidak mudah terbakar saat dibakar, tiriskan. 2. Tumis bumbu halus sampai wangi dan matang, matikan api. 3. Campurkan tumisan bumbu halus ke dalam ikan yang sudah dihaluskan tambahkan santan, parutan kelapa, daun jeruk, garam & gula, aduk rata. 4. Ambil secukupnya adonan lalu lilitkan ke batang serai sambil dikepal supaya menempel sempurna ke batang serai, secukupnya saja agar matang merata. 5. Olesi sate lilit dengan sedikit minyak agar tidak lengket sewaktu dibakar, lalu bakar sate sampai matang semua sisinya, angkat, sajikan segera dengan sambal matah. ________________________________________ #satelilit #saretenggiri #satelilitbali #kulinerkhasbali #olahanikan #sateikan #berbagiresep #shareresep #doyancooking #foodporn #belajarcooking #masaksendiri #homecooking #himemadefood #halalfood #yukbelajarmasak #instafood #doyanmasak

A post shared by Susi Agung (@susie.agung) on

Dengan segala proses itu, Junita mengaku puas. Ia menilai buku perdana ini cukup merepresentasikan dirinya. Menu favorit Junita yang juga hasil eksplorasi makanan lokal saat ia tinggal di Lembata, Nusa Tenggara Timur, adalah menu pertama yang Anda lihat di buku Home Cooking ala Xander’s Kitchen.

“Saya suka sekali yang pedas dan asam. Cocoklah dengan Kuah Asam ala NTT ini. Seperti kuah asam Manado tapi agak beda.”

Dimanjakan dengan kekayaan hasil laut di Lembata, Junita merasakan betul nikmatnya makan ikan segar yang rata-rata dijual murah di sana.

“Ibaratnya, ikan baru mati sekali. Kalau di Jakarta, ikan sudah mati berkali-kali.”

Mengandalkan ikan segar, bumbu kuah asam tak perlu berlebihan. Hanya bawang merah, bawang putih, serai, jahe, kunyit, dan irisan cabai. “Rasa segar ikan masih terasa. Sedap!”

Anak-anak dan suami yang tak suka ikan kembung saat mereka tinggal di Jakarta pun jadi rajin melahap ikan saat tinggal di Lembata.

“Kadang-kadang ini yang bikin kangen sama Lembata,” ujar Junita yang sudah kembali tinggal di Jakarta sejak awal 2018.

Juanita di Lembata. (Dok. Pribadi)

Dikejar buku kedua

Sejak enam bulan lalu, Junita sudah dikejar buku kedua yang membahas resep roti dan kue yang dipanggang. Ia memang dikenal piawai di antara pemanggang rumahan.

Junita sangat dikenal salah satunya ketika ia berbagi kesuksesan membuat killer soft bread alias roti sobek.  Cukup satu kali fermentasi, roti yang dihasilkan lembut dan berserat panjang.

“Tapi saya belum mau. Masih mencari referensi agar buku ini beda dengan yang sudah ada.”

Berbeda dengan buku masak, buku kedua ini lebih menuntut konsentrasi, tenaga, dan waktu. Sebab menurutnya, yang penting dalam pembuatan roti bukan cuma resep tapi teknik yang tepat. Sehingga perlu menampilkan visual langkah demi langkah.

“Salah kocok telur aja, kue bisa bantat.”

Ia berkaca pada pengalaman masa lalu saat ia baru mulai memanggang kue dan roti.  Ia tak ingat lagi berapa banyak kue yang gagal sebelum akhirnya meraih pujian keluarga.

“Dulu saya pikir apa salah resepnya ya. Ternyata saya yang salah teknik membuatnya.”

Kini saat berbagi resep kue dan roti yang dipanggang, Junita sesekali mendapatkan komentar yang menyalahkan resep.

“Katanya, sudah mengikuti sesuai resep kok gagal juga.”

Meski ia mengaku gemas, namun komentar-komentar semacam itu justru menguatkan ia membuat buku dengan penjelasan tahap demi tahap yang mudah dimengerti.

“Buat saya yang penting berbagi dengan ikhlas. Rezeki mengikuti.”

Suka? Vote Artikel Ini!

0 0
Sica Harum
Written by
Melahap lebih cepat ketimbang memasak. Mengandalkan intuisi saat menaburkan garam atau lada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up