Jengkol Ibu

Buatan ibu paling juara. Kenyal, sedap, tak berbau.

jengkol
Balado Jengkol (Foto: JadiKangenIbu/Fatichah Pradana)

Pagi ini sudah turun hujan rintik-rintik, dingin, dan perut terasa lapar.

Namun apa yang akan aku makan, aku hanya punya segenggam nasi di periuk.

Bahan lauk di kulkas sudah habis, andai aku tidak merantau pasti ibu sudah membuatkanku makanan untuk sarapan.

Aku duduk di teras depan asrama. Sambil menunggu penjual makanan datang dan bermain game. Melepas lelah seharian yang lalu.

Namun tiba-tiba hidungku yang tajam mencium aroma yang khas, yang membangkitkan selera makan.

Aroma yang selalu membuatku ingin kembali pulang hanya untuk menikmati kelezatan rasa disetiap gigitannya. Aroma yang biasa memenuhi ruang dapur ibuku. Aroma yang selalu aku rindukan. Inilah aroma yang selalu mengingatkan ku pada setiap suapan tangan ibuku.

Tidak lain ini adalah aroma balado jengkol.

Entah siapa yang sedang membuatnya yang pasti membuatku teringat pada masakan ibuku, terutama balado jengkol. Aku pun teringat pada hari itu ketika aku ragu untuk pergi ke tanah rantau.

“Ibu aku pergi esok hari saja ya. Hari ini mendung. Cuaca sedang buruk, Bu,” kataku merajuk

“Tidak, Nak. Kamu harus pergi hari ini. Ibu tidak mau kamu terlambat di hari pertamamu belajar di tanah rantau. Ibu juga sudah menyiapkan beberapa kudapan yang harus kamu bawa kesana,” katanya

“Mengapa ibu selalu membawakanku makanan? Aku kan nanti bisa membeli yang ada di pinggir jalan,”keluhku.

“Ya ndak apa, Ibu kan suka membuatkan makanan apalagi makanan kesukaanmu.”

“Pasti ibu membuatkan balado jengkol lagi untukku.”

“Iya, itu masakan kesukaanmu sejak pertama ibu membuatkannya untukmu kan? Ayo makan ini! Kamu belum sarapan juga kan” katanya sambil menyuapiku nasi dengan sepotong jengkol.

Rasanya, begitu mengena di lidahku.

Empuk, agak kenyal, tidak begitu bau, rasa bumbunya meresap sampai kedalam, pedasnya pas.

Hmmm, nikmatnya lebih nikmat dari yang orang jual. Membuat siapa yang memakannya lupa berapa kali sudah makan. Rasanya membuat ingin lagi-lagi dan lagi.

Aku juga teringat pada beberapa temanku yang pernah berkunjung. Aku tahu bahwa diantara mereka tidak suka dengan jengkol. Namun saat ibuku menyajikannya, ia makan begitu lahapnya.

Setelah makan barulah ia di beri tahu oleh temanku yang lain bahwa ia tadi makan balado jengkol.

Ia terkejut dan tertawa terpingkal-pingkal. Terheran mengapa balado jengkol buaatan ibuku tak sebau yang di jual.

Ibuku hanya tersenyum dan berkata dengan singkat  “pake cara rahasia”. Hanya itu katanya. Sampai sekarang jika aku menanyakan itu pada ibuku, ibuku tak pernah menjelaskan bagaimana caranya.

Lamunanku membuyar setelah ternyata penjual makanan datang. Ia biasa menjual makanan matang dan mentah. Karena hari ini aku merindukan balado jengkol buatan ibu, tentu saja aku mencari balado jengkol yang sudah matang.

“Mang ada balado jengkol tak?” tanyaku

“Tak ada neng. Jengkolnya mahal sangat. Itu saja ada yang masih mentah, masih muda-muda” katanya.

“Ya sudah lah, padahal aku rindu makan jengkol. Kalo yang muda-muda itu nanti pahit rasanya keras pula. Aku beli yang lain saja.”

Aroma itu datang lagi, sampai aku merasakan seakan aku sedang menyantapnya.

Rasa dan aroma yang sangat mengena dan tak terlupakan. Meskipun saat ini aku memakan makanan yang berbeda namun perut dan lidahku selalu merasa bahwa aku sedang makan balado jengkol buatan ibu.

Dan aku akan selalu merindukan masakan buatan ibu.

Suka? Vote Artikel Ini!

3 0

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up