Logo Balanga

Google dan Harvard Ciptakan Teknologi Detektor Restoran Tidak Sehat

 Google dan Harvard Ciptakan Teknologi Detektor Restoran Tidak Sehat

Ilustrasi. (Foto: pexels)

Teknologi terus berkembang setiap harinya, terlebih di era digital seperti saat ini. Banyak kebiasaan masyarakat sudah berubah sejak kehadiran teknologi digital. Mulai dari belanja, memesan makanan, bahkan naik ojek pun bisa dilakukan dengan gawai seukuran sekitar 5 inch di dalam genggaman.

Kini, perkembangan teknologi bisa diaplikasikan untuk mendeteksi penyakit bawaan dari makanan yang kita konsumsi, dan menunjukkan langsung restoran yang mengolah makanan tersebut.

Baca juga: Mesin Kopi Ini Seharga Mobil!

Tim peneliti di Google dan Harvard T.H. Chan School of Public Health menguji cara baru untuk mengidentifikasi restoran-restoran yang memproduksi makanan yang tidak sehat lebih cepat dan akurat.

Caranya adalah dengan menggunakan kombinasi permintaan pencarian (search query) dan data lokasi.

Model machine learning AI (artificial intelligence) ini diterbitkan dalam Jurnal npj Digital Machine November 2018 lalu.

Nantinya, algoritma Google berbasis mesin digital ini akan menggunakan pendekatan berbasis data untuk mendeteksi penyakit bawaan makanan.

Dijelaskan dalam situs Nature.com, tim gabungan Google dan Harvard membuat model pembelajaran mesin yang diberi nama FINDER.

Algoritma itu mampu menandai keamanan makanan di restoran hampir secara real-time.

Teknologi food safety ini memanfaatkan pencarian web agregat dan data lokasi anonim untuk mencari tahu restoran mana yang memiliki pelanggaran keamanan pangan yang mungkin membuat orang sakit.

Dengan begitu, FINDER akan lebih mudah dan cepat dalam menemukan mana restoran yang tidak aman.

Lalu, bagaimana kerja sistem ini?

Konsep teknologi food safety ini berpotensi menggantikan pendekatan umum yang menggunakan investigasi rutin dua kali setahun oleh Departemen Kesehatan Amerika Serikat atau laporan dari konsumen individu.

FINDER akan melakukan pencarian pengguna terkait kasus keracunan makanan dengan data history pencarian lokasi yang tersimpan di smartphone. Data tersebut meliputi restoran yang baru saja dikunjunginya.

Langkah selanjutnya adalah mencari restoran yang dikunjungi orang-orang tersebut dengan menggunakan riwayat lokasi yang dianonimkan.

Data ini berasal dari pencarian dan log lokasi pengguna yang mengaktifkan GPS-nya.

Untuk mengukur kekuatan FINDER, tim peneliti menguji sistem di Chicago dan Las Vegas selama sekitar empat bulan di setiap kota.

Setiap pagi, pengawas kota diberikan daftar restoran untuk dikunjungi termasuk beberapa yang diidentifikasi oleh FINDER.

Inspektur kemudian memeriksa restoran untuk mengidentifikasi pelanggaran kode kesehatan.

Hasilnya, Di Chicago, ada 5.880 inspeksi selama penelitian, dengan 71 di antaranya didorong analisis FINDER. Lalu di Las Vegas, ada 5.038 inspeksi dengan 61 disarankan FINDER.

Sekitar setengah dari restoran yang ditandai FINDER terbukti tidak aman saat diperiksa.

Jika memang berhasil diterapkan, teknologi ini akan memudahkan tugas dari pengawas makanan sekaligus mengurangi risiko terkena penyakit bawaan makanan ketika makan di restoran.

Kira-kira bisa diterapkan di Indonesia nggak, ya?

Editor: Ellen Kusuma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *