Logo Balanga

Es Lilin Bandung, Favorit Semua Kalangan di Nusantara

 Es Lilin Bandung, Favorit Semua Kalangan di Nusantara

Es lilin mah didorong-dorong

Dibantun mah dibantun ka Sukajadi

Abdi isin dunungan samar kaduga

Sok inggis mah aduh henteu ngajadi

 

Es lilin mah ceuceu buatan Bandung

Dicandak mah geuning ka Cipaganti

Abdi isin jungjunan duh bararingung

Sok inggis mah aduh henteu ngajadi

Potongan lirik bahasa Sunda di atas adalah lagu “Es Lilin”. Lagu tersebut dibuat pada masa kejayaan es lilin sekitar tahun 1950 hingga 1980-an.

Es lilin pertama kali dibuat dengan bahan yang sangat sederhana, yaitu campuran antara susu dan santan.

Dulu hanya ada dua varian es lilin, yakni kacang ijo dan kelapa muda. Citarasanya manis dengan sedikit sentuhan gurih dan menyegarkan.

Istilah es lilin muncul karena bentuk esnya yang menyerupai lilin. Bahan baku pembuatan es lilin adalah santan, tepung, es, dan gula.

Es lilin merupakan favorit semua lapisan masyarakat, baik kelas atas maupun bawah. Di Bandung, es lilin sempat kehilangan pamor pada pertengahan 1980. Hal ini terjadi setelah undang-undang penanaman modal asing disahkan.

Bandung diserbu oleh produk es krim negara Barat yang bertekstur lebih lembut dan memiliki beragam varian rasa.

Namun hingga kini, es lilin tetap digemari urang Bandung. Untuk memenuhi selera konsumen yang semakin beragam, penjual es lilin Bandung berkreasi dengan aneka rasa.

Tidak hanya kacang ijo dan kelapa muda, ada juga es lilin dengan berbagai macam rasa buah seperti alpukat, durian, jeruk, stroberi, durian, dan mangga. Selain rasa buah, ada juga cokelat, jagung, vanila, cappuccino, green tea, mocca, dan sebagainya.

Es lilin Bandung biasa dijajakan dengan menggunakan gerobak. Meskipun teksturnya lembut, es lilin ternyata memiliki daya beku cukup lama.

Tak hanya Bandung, es lilin juga mudah ditemui di daerah lain hingga tersebar luas ke penjuru Nusantara. Segar dan enak rasanya, citarasa es tradisional ini jelas tak kalah dengan es krim khas Barat.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *