Cokelat Indonesia Paling Top se-Dunia? Ini Buktinya!

Cokelat panas
Cokelat panas (Foto: Shabrina Anggraini)

Cokelat diakui dunia sebagai kuliner asli Swiss atau Belgia. Padahal Indonesia merupakan penghasil kakao kualitas top yang telah diakui dunia.

Indonesia merupakan produsen kakao ketiga terbesar di dunia, setelah Pantai Gading dan Ghana.

Menurut data Kementerian Perindustrian, lahan kakao Indonesia kurang lebih 992.448 hektar. Paroduksi bijinya sekitar 456.000 ton per tahun dengan produktivitas rata-rata 900 kilogram per hektar.

Kakao Indonesia pun unggul karena titik leleh lemaknya sedikit lebih tinggi dari Ghana dan Brasil.

Pohon kakao

Pohon kakao (Foto: Istimewa)

Pohon kakao berasal dari Amerika Tengah, tepatnya wilayah antara Sungai Amazon dan Sungai Orinoco. Bangsa Eropa memperluas produksi kakao di daerah jajahannya masing-masing.

Sekitar 1560, kakao pertama kali diperkenalkan bangsa Spanyol ke Indonesia. Penanaman kakao pertama berada di wilayah kepulauan Sangir. Kemudian meluas ke Sulawesi, Ternate, dan Ambon.

Pada 1806, kakao mulai dikembangkan di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hingga 1880, produksi kakao meluas ke seluruh Indonesia.

Baca juga: Pie Susu Bali, Nikmatnya Tiongkok & Portugis Dalam Satu Gigitan

Penyajian Minuman Cokelat

Es cokelat dengan whipped cream

Es cokelat dengan whipped cream (Foto: Rita E)

Produk olahan cokelat berasal dari biji kakao dengan nama Latin Thebroma Cacao. Jenis tanaman ini merupakan satu-satunya spesies dalam genus Theobroma yang dikembangkan secara komersil.

Salah satu yang populer adalah minuman cokelat. Tradisi minum cokelat sudah lama berlansung dalam suku Aztec dan Maya di Meksiko. Minuman cokelat dianggap sebagai surga karena memiliki khasiat sebagai obat.

Pada 1529, Ferdinan Cortes membawa biji kakao dari Meksiko ke negara asalnya Spanyol. Penjelajah ini membuat minuman cokelat versinya sendiri dengan tambahan gula.

Sejak itu, minuman cokelat jadi populer dan menyebar ke wilayah Eropa lainnya, seperti Prancis, Belanda, Jerman, dan Inggris.

Cokelat panas dengan marshmellow

Cokelat panas dengan marshmellow (Foto: Pexels)

Indonesia sebagai negara produsen kakao juga punya tradisi minum cokelat, lho.

Hal ini ditunjukkan dalam Sӗrat Cӗnthini tahun 1814. Tembang tersebut menyebut minuman dari olahan biji kakao dengan nama “wedang soklat”. Bisa dibilang, minuman cokelat Indonesia sudah eksis di negeri ini sejak abad ke-19.

Cokelat Indonesia disajikan langsung sebagai minuman maupun dikemas dalam bentuk bubuk.

Produk kemasan cokelat bubuk pertama di Indonesia adalah Drooste dan Ovaltine yang dibawa bangsa Belanda pada era kolonial.

Setelah tahun 1950an muncul merk Malcoa dan Milo. Sayang, cokelat bubuk merk Drooste dan Malcoa mulai langka di Indonesia. Sementara Ovaltine dan Milo tetap eksis hingga saat ini.

Baca juga:
Kudapan Favorit Raja Prancis Ini Sekarang Cuma Rp2000an

 Manfaat dan Risiko Minum Cokelat

Pada dasarnya, biji kokoa mengandung gizi lengkap.  Mulai dari lemak, karbohidrat, protein, senyawa antioksidan, senyawa penyegar, hingga mineral.

Jika diproses langsung dari bijinya saja, olahan cokelat bisa memberi manfaat yang baik bagi tubuh.

Namun, produsen cokelat berlomba memasarkan varian cokelat dengan aneka ragam warna, bentuk, hiasan, dan tingkat kemanisan. Ada tambahan bahan seperti gula, susu, lemak non-kakao, pewarna, pemanis buatan, dan penyedap.

Hal ini dapat mengikis manfaat kakao dalam cokelat, sehingga timbul berbagai risiko kesehatan. Sebutlah obesitas, jerawat, gigi berlubang, penyakit jantung, dan diabetes.

Bahan tambahan dalam olahan cokelat mempengaruhi kecepatan penyerapan antioksidan dalam tubuh. Senyawa protein dalam bahan tambahan bersintesa dengan senyawa polifenol dalam cokelat.

Alhasil, fungsinya sebagai antioksidan pun berkurang. Tak ada bedanya mengonsumsi cokelat dengan permen-permen manis.

Sebenarnya, konsumsi cokelat tidak dilarang sama sekali. Kalau kita bijak, manfaat-manfaat di atas bisa diperoleh kok.

Suka? Vote Artikel Ini!

0 0
Shabrina Anggraini
Written by
Doyan nulis, icip-icip makanan, ngemil, dan bereksperimen di dapur.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up