Logo Balanga

Chef Petani Ini Gaungkan “No Farm, No Food” dari Badung

 Chef Petani Ini Gaungkan “No Farm, No Food” dari Badung

I Ketut Buda dari Sedasa Farm to Table di sesi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2019 (27/4). (Foto: Belanga.id)

I Ketut Buda adalah seorang petani yang berasal dari Bali, tepatnya di Banjar Bon, Desa Petang, Kabupaten Badung. Ia lahir dan besar di keluarga petani. Keinginannya untuk melestarikan bahan makanan serta makanan tradisional khas Bali mendorongnya untuk menginisiasi program Sedasa Farm to Table di desanya.

Sejak dilangsungkan pada Februari 2018, program agro-wisata yang bertempat di desanya ini sudah diikuti lebih dari 400 wisatawan.

Konsep farm-to-table pada umumnya sederhana, yakni mendekatkan penikmat kuliner dengan makanan yang dikonsumsi, melibatkan mereka dari memanennya di kebun sampai ke menyajikannya sebagai makanan di meja.

Dengan program ini, Buda, panggilan akrabnya, berhasil membantu perekonomian keluarga dan para petani di sekitar lingkungannya.

Baca juga: Pasar Petani Kota Ajak Yang Urban Bercocok Tanam

Selain bernilai ekonomis, program ini memperhatikan nilai ekologisnya. Melalui Sedasa Farm to Table, ia mengajak para petani untuk tidak menggunakan peptisida dan beralih menjadi menjadi petani organik.

Buda juga memperkenalkan bahan-bahan makanan yang diperlukan di restoran pada petani agar dapat menanam sayuran yang lebih variatif dan sesuai dengan kebutuhan pasar.

“Selama ini petani belum mengenal bahan-bahan makanan yang digunakan di restoran.”

I Ketut Buda saat sesi Teater Kuliner: Fresh from the Future Farmers di Ubud Food Festival 2019 (27/4).

Upayanya untuk memberi dampak positif pada lingkungan juga berujung pada penyajian makanan yang ramah lingkungan, yakni dengan menggunakan pelepah jantung pisang dan alas dari rakitan sebilah bambu.

sedasa farm to table
Chef Buda menyiapkan ayam untuk dibakar. (Foto: Belanga.id)

Saat sesi Buda berlangsung di Ubud Food Festival, ia menghadirkan tiga hidangan khas Bali, yaitu Ayam Bakar Bumbu Kecombrang, Pepes Kacang Koro dan Tahu, serta Urap Kejelongkot.

Ketiga menu tersebut dulunya adalah menu sehari-hari, namun sekarang ini sudah jarang ditemukan di meja makan.

Untuk membuat ayam bakar kecombrang, ia menggunakan ayam kampung. Setelah dijepit dengan kayu agar mudah digerak-gerakan, ayam tersebut dibakar di atas api.

Ia menggunakan arang dari kulit kelapa tua yang ditambahkan daun pepaya agar dagingnya jadi lebih empuk.

Setelah matang, daging ayam disuwir dan dicampurkan dengan sambal kecombrang yang dibuat dengan bawang putih, bawang merah, irisan kecombrang, sedikit terasi, dan minyak kelapa khas Bali atau minyak tandusan.

Hidangan kedua adalah pepes kacang koro dan tahu yang menjadi kekhasan Desa Pelaga, Kabupaten Badung.

Awalnya kacang koro yang dihaluskan, ditambahkan tahu, lalu diberi bumbu, dan dikukus dengan menggunakan dandang khas Bali, dan dimasak menggunakan kayu bakar.

Rasanya gurih dengan perpaduan tekstur kacang koro dan tahu yang saling mendukung.

Selanjutnya, Buda menyiapkan urap kejelongkot. Kejelongkot adalah tanaman endemik Bali yang biasa tumbuh liar di pekarangan rumah warga, namun sekarang mulai langka.

Biasanya sayur kejelongkot dinikmati sebagai urap. Untuk mengolahnya menjadi sayur urap, pertama kejelongkot direbus, lalu dipotong, dan ditambahkan sambal bawang goreng dan parutan kelapa yang sudah dibakar.

sedasa farm to table
Sejumput nasi sela, ayam bakar bumbu kecombrang, pepes kacang koro dan tahu, dan urap kejelongkot. (Foto: Belanga.id)

Rasanya unik, karena kejelongkot memiliki aroma yang khas, apalagi dipadukan dengan sambal bawang goreng atau sambal embe.

Ia mengaku bahwa ketiga hidangan ini ia sajikan sesuai dengan resep yang didapatnya dari sang kakek.

Buda juga menyiapkan nasi sela–nasi yang dimasaka bersama potongan ubi–untuk mendampingi tiga hidangan tersebut.

“Saya harap makanan lokal dapat menjadi tuan rumah di rumah sendiri dan dapat dikenal di internasional,” tutup lelaki yang juga tergabung dalam inisiatif Future Farmer Indonesia ini.

Penulis: Manggarayu
Editor: Ellen Kusuma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *