Logo Balanga

Cacapan dan Pencok Ramania Hangatkan Kebersamaan Keluarga

 Cacapan dan Pencok Ramania Hangatkan Kebersamaan Keluarga

Sedari kecil saya sangat menyukai buah-buahan. Kegemaran itu saya dapatkan karena sering melihat Ibu makan buah.

Namun, buah itu bukanlah jenis buah seperti di perkotaan, melainkan buah-buahan yang didapatkan di desa saya yang begitu mudah saya mendapatkannya.

Sebut saja: buah Pisang, Mangga muda, Jambu air, Pepaya, Timun Suri, bahkan umbi-umbian yang sangat sedap diolah masakan.

Namun, ada satu buah yang menurut saya sangat istimewa, namanya buah Ramania. Mungkin buah ini jarang didapatkan selain di wilayah Kalimantan, karena biasanya pohon ini tumbuh di daerah hutan atau pinggiran sungai.

Buahnya kecil bulat berwarna hijau kalau matang dia berwarna oranye. Nah, yang  membuat buah ini unik karena biji tengahnya berwarna ungu.

Masyarakat suku Banjar dalam bahasa daerah menyebut warna ungu ini adalah warna biji ramania.

Keistimewaan buah ini selain bisa disantap langsung adalah buah ini bisa dijadikan kudapan atau pendamping masakan, namanya Cacapan Ramania.

Cara membikinnya sangat mudah, Ibu sering membuatnya sehingga saya mudah mengingatnya. Yakni buah Ramania tadi dibasuh terlebih dahulu, habis itu dikupas kulitnya dan diiris kecil-kecil.

Setelah ditaruh di piring irisan buah tadi, tambahkan garam, vetsin, sedikit terasi yang sudah dibakar dan tambahkan pula sedikit air hangat, tentu saja tak ketinggalan cabe rawit yang banyak.

Diaduk, jadilah kudapan khas daerah kami “Cacapan Ramania” namanya, sangat nikmat disajikan bersama ikan goreng maupun ikan bakar dengan nasi hangat di tengah sawah atau makan siang di rumah.

Eitss…perlu diingat yang bisa dijadikan cacapan ini hanya buah Ramania yang masih mentah atau setengah matang, pokoknya sedap banget deh!

Bagi masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, aktivitas memencok bukanlah perihal yang asing.

Kalau di luar pulau Kalimantan mungkin aktivitas ini bisa dikatakan menyantap semacam kudapan bernama Rujak atau Lotes, yakni buah-buahan yang dihidangkan bersama sambal petis.

Karena selain bisa dibikin cacapan, buah Ramania ini sering Ibu sajikan jadi pencokan, yakni sejenis kudapan rujak tadi, tapi bisa dari buah Ramania yang masih mentah maupun yang sudah matang.

Cara membuatnya buah Ramania tadi tinggal diiris dan dicocol atau ditambahkan garam dan cabe rawit. Sensasi kecut dan pedas itulah yang membuat lidah kami merasakan nikmat tiada tara yang sulit dijelaskan.

Dan budaya memencok adalah kebiasaan yang tak bisa dipisahkan dari keluarga kami karena di sini saya sangat merasakan nuansa kebersamaan dalam keluarga.

Saya dan ke-empat adik-adikku pun sangat gemar makan pencokan ini sehingga tergambarkan harmonisasi Ibu dan Bapak bahagia ketika melihat anak-anaknya terkumpul dalam sebuah moment keluarga.

Dan saya  #JadiKangenIbu ketika membuat kudapan cacapan Ramania atau Pencokan ini bersama teman-teman saat kuliah di Kota Banjarmasin, yang jaraknya lumayan terpaut jauh dengan kampung asalku berada.

Dan dengan menikmati masakan daerah sederhana ini kita bisa mengingat Ibu dan kebersamaan keluarga ketika berada di rumah.

Ibu, semoga kau sehat selalu…Doaku di setiap membuat kudapan khas ini.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *