Bandeng Penyet Kemangi, Durinya Bikin Rindu Ibu

Bandeng, di masa lampau, ialah sajian yang hadir di acara istimewa.  Seperti acara selamatan, perayaan, atau upacara keagamaan.  Harganya mahal.

Lama-kelamaan, harganya makin bersahabat lantaran dibudidayakan.

Tahun 80-an, bandeng termasuk menu yang biasa di meja makan. Apalagi sekarang.

Namun para ibu biasanya melakukan banyak cara agar duri-duri halus si bandeng tak membahayakan anak-anak mereka.

Entah dipresto, atau sekalian dibuat otak-otak bandeng.

Saya menyukai segala jenis olahan bandeng. Diapakan saja, oke.

Tapi yang paling sering dibuat mama ialah bandeng goreng, dengan sambal bawang ditambah kemangi, serta perasan air jeruk limau, atau jeruk purut.

Biasanya bandeng penyetan ini jadi menu makan siang.

Sepulang sekolah, semua masakan mama di atas meja pasti membuat saya tak sabar makan. Sambil makan, sambil bercerita apa saja kepada mama.

Tapi khusus bandeng penyetan ini, saya lebih lama bertahan. Dan lebih banyak cerita yang tersampaikan. Kadang saya yang cerita. Kadang mama yang cerita.

Acara makan siang jadi sesi curhat anak sekolah ke ibunya.

Lulus SMA, saya merantau, tak lagi tinggal satu kota.

Intensitas mengobrol, otomatis berkurang. Aktivitas makan bandeng, hanya saat saya pulang ke rumah.

Mama, seingat saya, selalu menyediakan menu itu tiap saya pulang.

Kami ngobrol berjam-jam. Saya betah “nggado” bandeng, ketika perut sudah kepenuhan nasi. bahkan jika harus tanpa nasi.

Saat berkeluarga, dan ketika pulang ke rumah, menu bandeng jarang tersedia otomatis di meja makan.

Tampaknya mama lebih memilih menyenangkan hati cucu-cucunya. Terlihat dari menu di meja makan yang terasa ‘bocah’ seperti sop ayam dengan bakso dan kaldu yang segar, lengkap dengan perkedel lezat.

(Baca Juga : Olahan Ayam Ini Berhasil Meredakan Peperangan)

Menu bandeng istimewa itu tersedia jika dipesan sebelumnya.

Bahkan setelah jadi ibu, tetap enak dimasakin ibu ya. 😀

Kemarin, setelah hampir enam bulan tak pulang ke rumah, saya makan Bandeng Penyet Kemangi.

Entah dapat ide dari mana, asisten di rumah menyediakan bandeng goreng.

Wih! Tinggal buat sambal bawang dan kemangi. Sayang, enggak ada jeruk limau ataupun jeruk purut.

Saya mengirimkan fotonya via whatsapp messenger kepada mama.  Lalu melahapnya sendirian.

Saya menghabiskan satu bandeng utuh yang dipotong jadi tiga bagian (rakus atau laper?).

Bukan cuma karena rasa enaknya yang bikin kangen mama, tapi karena aktivitas memilah duri bandeng itu membuat saya melambatkan gerak, memberi jeda, sekaligus mengurai hal-hal yang semua terasa menuntut untuk dipikirkan segera.

Baru kali ini saya benar-benar memikirkan si Bandeng Penyet Kemangi, dan kenapa dulu mama tak pernah mau memisahkan duri-durinya saat saya sudah sekolah.

“Kalau kamu mau enaknya, pisahin sendiri durinya. Ati-ati aja makannya.”

Sebab orang tua tak akan selalu ada buat kita.
Kalau kamu mau enaknya, pisahin sendiri durinya.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *