Asal Usul Bancakan, Tradisi Makan Besar yang Merambah Anak Muda

bancakan
Bancakan (Foto: yopiefranz.id)

Apa jadinya kalau kamu harus makan dalam satu wadah besar bersama banyak orang?

Tradisi makan besar ini ternyata sudah lama ada di Indonesia. Dari generasi ke generasi, makan bersama jadi budaya kuliner Nusantara yang mengakar kuat. Baru-baru ini, tradisi ini kembali naik daun dan digemari anak-anak muda.

Sejak dulu, makan bersama ini memakai daun pisang yang panjang. Beragam lauk pauk, nasi, lalapan, dan sambal ditata apik di atasnya. Semuanya disediakan dalam porsi besar untuk makan beramai-ramai.

Untuk sensasi maksimal, masyarakat langsung menyantapnya dengan tangan daripada sendok. Indonesia banget ya?

Baca juga: Bakar Batu Ala Orang Papua dengan Resep Nasi Bakar Memikat

Itulah Bancakan. Sebuah tradisi makan besar yang biasa dilakukan dalam selamatan, syukuran, hingga acara adat tertentu.

Bancakan merupakan bagian dari adat selapanan di Jawa Tengah, yakni acara selamatan untuk bayi berumur 35 hari. Kata selapanan berasal dari selapan atau tiga puluh lima dalam bahasa Jawa. Acara ini adalah perwujudan syukur kepada Tuhan atas kelahiran bayi yang selamat dan sehat.

Sajian wajib dalam bancakan Jawa Tengah adalah tumpeng weton. Yakni tujuh jenis sayuran dimana kangkung dan kacang panjang wajib ada, tujuh jenis buah yang salah satunya adalah pisang raja, tujuh jenis bubur gurih dan manis, telur ayam rebus yang sudah dikupas berjumlah ganjil,dan bumbu urap sebagai pelengkap.

Hidangan Acara Selapanan di Jawa Tengah. (Foto: nyonyamelly.com)

Selain Jawa Tengah, bagian barat Pulau Jawa juga punya tradisi bancakan.

Perayaan adat atau syukuran di Jawa Barat pun menghadirkan bancakan. Tradisi ini memiliki makna dalam bagi masyarakat Sunda, yakni cermin kebersamaan, kerukunan, dan persatuan.

Selain itu, makan bersama dalam satu wadah ini juga simbol kesetaraan bagi semua kalangan. Terbukti dari rukunnya semua tamu yang duduk bersama dan menikmati hidangan, baik warga kelas atas maupun bawah.

Aneka lauk yang disajikan dalam bancakan Sunda berupa nasi liwet dengan aneka lauk. Sebutlah ayam goreng, ikan goreng, tahu-tempe goreng, lalapan, urap, dan sambal terasi.

Baca juga: Gaya Hidup Nasi Padang “Halo Orang Minang, Sehat?”

Bancakan ini tidak identik dengan budaya Jawa, lho.

Suku Batak juga punya tradisi makan bersama. Bukan bancakan, masyarakat setempat menyebutnya rap marsipanganon. Tradisi ini melambangkan kebersamaan dan perdamaian.

Budaya makan bersama dalam Suku Batak ternyata sangat beragam.

Ada tradisi mamlo atau mengundang orang untuk datang dan makan bersama. Mamboan sipanganon, yaitu menghantarkan makanan ke rumah orang. Mangan haroan atau bersantap untuk merayakan suka cita. Selebihnya ada mamoholi, pesta unjuk, dan sebagainya.

Tradisi Batak menyebutkan makan sebagai mangan indahan na las (makan nasi hangat) dan manginum aek sitio-tio (minum air bening). “Indahan na las dohot aek sitio-tio” adalah simbol kehidupan penuh suka cita dan kejujuran. Itulah sebabnya tradisi bancakan jadi perayaan atas kehidupan.

Itu dia tradisi bancakan yang ternyata masih mengakar kuat di Indonesia. Yuk, lanjutkan pada anak-cucu kita!

Suka? Vote Artikel Ini!

0 0
Shabrina Anggraini
Written by
Doyan nulis, icip-icip makanan, ngemil, dan bereksperimen di dapur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up