Logo Balanga

Baceman Rindu

 Baceman Rindu

Sudah lebih dari 7 tahun saya meninggalkan Jogja, kota yang membesarkan saya sejak saya dilahirkan.

Perlahan-lahan, “identitas” saya sebagai orang Jogja mulai terkikis.

Logat bicara saya sudah berubah, tidak lagi medok khas orang Jawa.  Selera makan saya pun mulai berubah.

Saya yang dulu tidak terlalu suka makan ikan, sekarang mulai bisa menikmatinya.

Saya juga mulai terbiasa menambahkan perasan jeruk nipis di makanan saya, seperti kebiasaan orang-orang di sini, di Makassar.

Dan saya tidak pernah menambahkan gula di masakan saya, tidak seperti kebanyakan orang Jogja yang hobi makanan manis, meski sayuran sekalipun.

Tapi biarpun demikian, kadang ada rindu yang menyelinap pada masakan Jogja.

Ada masanya, saya tetiba rindu Gudeg, atau Bakmi Jawa, atau jajanan khas di pasar tradisional.

Padahal dulu sewaktu masih tinggal di Jogja, saya justru jarang makan semua itu. Mungkin, saya lebih merindukan kenangannya daripada citarasa masakan itu sendiri.

Dan di antara itu semua, yang sering saya rindukan adalah tempe bacem.

Tapi bukan sembarang tempe bacem, melainkan tempe bacem buatan Ibu saya.

Buat saya, tempe bacem buatan Ibu saya juara! Rasanya pas, tidak kemanisan.

Ibu sering memasak tempe bacem ini, terutama kalau ada acara keluarga.

Biasanya dimakan bersama nasi hangat, gudangan (urap), atau sayur lodeh. Rasanya rasa nambah.

Saya memang penggemar tempe.

Dibanding lauk yang lain, saya cenderung lebih memilih tempe.

Selain karena harganya murah, tempe lebih mudah dicerna, dan lebih aman bagi kesehatan saya.

Saya kurang bersahabat dengan protein hewani, terutama daging, baik ayam, sapi, ataupun kambing.

Biasanya saya akan sakit kepala kalau terlalu banyak mengkonsumsi makanan berbahan dasar daging.

Mungkin kolesterol, entahlah.

Yang jelas, saya tidak pernah bermasalah dengan tempe. Saya justru akan bermasalah kalau lama tidak makan tempe.

Pernah suatu waktu, saya harus tinggal di Gorontalo selama sebulan untuk urusan pekerjaan.

Di sana tempe bukan makanan favorit, sehingga jarang didapat. Jadi selama sebulan itu, saya hampir setiap hari makan ikan.

Saya pun jadi jenuh dan malas makan.

Sampai akhirnya bertemu dengan tempe, saya makan lahap sekali, seolah-olah itu adalah makanan terenak yang pernah saya makan. Hahaha.

Mau diolah dengan cara apapun saya tetap suka tempe.

Digoreng biasa atau dengan tepung, dibikin kering tempe, sambal goreng, keripik, atau favorit saya : dibacem.

Untuk yang belum tahu, bacem sebetulnya adalah salah satu cara pengolahan untuk mengawetkan makanan, dengan merendamnya menggunakan gula merah atau garam (Wikipedia).

Di Jogja, tempe bacem biasa juga dimakan bersama jadah. Rasa jadah yang gurih dan teksturnya yang lembut-kenyal, cocok sekali berpadu dengan rasa tempe bacem yang manis.

Tempe bacem buatan Ibu saya sebetulnya tidak menggunakan resep istimewa apapun.

Resep yang digunakan sama dengan resep tempe bacem pada umumnya.

Bawang putih, bawang merah, ketumbar, daun salam, lengkuas, air asam jawa, dan tentu saja gula merah.

Tapi kenangan yang dibawa tiap gigitannya, membuat tempe bacem buatan Ibu menjadi yang paling istimewa. Itulah sebabnya, saya selalu me-request tempe bacem ini setiap kali saya pulang ke rumah.

Meskipun di rumah hampir setiap hari saya memasak tempe sebagai lauk, namun saya jarang membuat tempe bacem.

Berkali-kali saya mencoba membuat tempe bacem sendiri. Tapi hasilnya tidak pernah seenak buatan Ibu, meskipun saya memakai resep yang Ibu saya berikan.

Mungkin karena pengalaman memasak saya masih jauh di bawah Ibu. Iya sih, saya baru belajar masak sejak menikah 7 tahun lalu. Itupun lebih banyak memakai bumbu instan daripada meracik sendiri.

Atau mungkin, karena Ibu selalu membuatnya dengan penuh cinta, dan kadar cinta saya (mungkin) belum sebesar Ibu saya. Ah, saya jadi kangen Ibu.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *