Antara Nasi Pecel, Ibu, dan Kotaku

Jika melihat Nasi pecel, maka ingatanku akan melayang pada ibu. Sosok sederhana yang terpaut jarak ratusan kilo di pelosok Jawa Timur. Jarak yang tidak dekat, hingga perjumpaan dengannya hanya setahun sekali.

Terkenang akan masa kecil kami, ketika masih SD, hampir setiap hari menu Nasi Pecel yang tersaji di meja makan. Kami tidak pernah protes dengan sajian sederhana itu, meski menikmatinya tanpa tambahan lauk sekalipun.

Jangan berharap ada telor atau ayam sebagai pelengkap, ada tempe dan peyek saja itu sudah luar biasa.

Kami, lima bersaudara, tidak menuntut bapak dan ibu untuk menyajikan yang lebih mewah. Tidak ada anggaran untuk itu. Maka satu-satunya jalan adalah mensyukuri apa yang ada, menikmati sepenuh suka cita.

(Baca juga: Ote-Ote dan Kerupuk Pecel Makanan Masa Kecilku)

Jika Nasi Pecel tidak tersaji di meja makan, ibu akan memberi uang saku pas-pasan, agar kami membeli sarapan sendiri sambil berangkat ke sekolah.

Sepanjang jalan, semua warung makan menjual nasi pecel juga. Tidak ada pilihan, lagi lagi Nasi Pecel untuk sarapan. Maklumlah, Nasi Pecel memang makanan khas kota kecilku ini, Ponorogo.

Meski sudah kenyang dengan Nasi Pecel di masa kecil, saya tetap menyukai dan merindukannya hingga kini.

Nikmat sekali membayangkan nasi hangat, ditambah kuluban (sayur yang direbus, bisa kacang panjang, bayam, bunga turi, daun singkong, toge dan sebagainya), diguyur sambal kacang, dikasih pelengkap irisan ketimun, kemangi, dan lamtoro (petai cina).

Apalagi jika dibungkus atau dialasi dengan daun pisang atau daun jati, menambah cita rasa tersendiri.

Sebenarnya yang paling khas dari Nasi Pecel ada pada sambal atau bumbunya.

Terbuat dari kacang tanah yang digoreng dan ditumbuk halus, ditambah bawang putih, cabai, daun jeruk, kencur, asam jawa, gula merah, dan garam.

Daun jeruk dan kencur ini yang menjadi pembeda dengan masakan lainnya, seperti bumbu sate atau gado-gado. Jika ditiadakan, rasanya menjadi kurang pas.

Jika berkesempatan pulang kampung, maka kuliner Nasi Pecel menjadi hal wajib yang harus kami datangi. Berbagai pilihan tempat makan Nasi Pecel ada di berbagai tempat.

Seperti di Warung Pecel Pak Peno (Jetis, Ponorogo), setiap hari antrenya luar biasa. Menu utama yang disajikan Nasi Pecel saja, hanya lauknya beragam.

Mulai dari tempe goreng, ayam goreng, lele berbalut tepung, serta peyek. Harga Nasi Pecel di Ponorogo juga tidak mahal. Anda bisa mendapatkannya mulai dari harga Rp3000, tergantung lauk yang diambil.

Bagi yang belum pernah mencoba menu ini, tidak harus datang ke Ponorogo. Kuliner yang sudah kesohor di seluruh Nusantara ini sudah banyak dijual di berbagai kota.

Anda juga bisa membuat sendiri atau menggunakan bumbu pecel yang sudah jadi, yang banyak tersedia di pasaran. Hanya saja, jika ingin rasa yang lebih fresh, maka pilihlah yang masih baru dibuat.

Ah, membahas Nasi Pecel membuat perut menjadi lapar. Terbayang aromanya yang menggugah selera, membuat ingin selalu menikmatinya lagi dan lagi. Dan yang pasti, Nasi Pecel membuat kangen ibuku, juga kotaku.

Disclaimer 
Konten ini merupakan karya Belanga Contributor. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Jika keberatan dengan konten ini, silakan kontak redaksi melalui e-mail ke belanga.id@gmail.com

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *