Ada Apa dengan Rujak Bebeg Khas Gunungkidul?

“Apa yang Anda pikirkan tentang makanan khas Gunungkidul? Olahan serba singkong dan umbi-umbian? Gethuk, gorengan telo, atau apalagi?”

Wilayah Gunungkidul dikenal dengan tanah yang cukup kering dan mengandung mineral alam batuan kapur. Beberapa tanaman yang tumbuh pun hanya tanaman yang ‘betah’ hidup dengan kandungan air secukupnya. Sebut saja tanaman singkong, umbi-umbian, buah-buahan, seperti pepaya, jambu monyet, pisang.

Namun, siapa sangka dari tanaman yang seadanya, masyarakat Gunungkidul mampu menciptakan makanan-makanan yang ‘betah’ dilidah banyak orang, mulai dari gethuk, gorengan telo, timus, combro, sampai olahan campuran, seperti rujak bebeg.

Rujak bebeg khas Gunungkidul
Dari semua makanan khas Gunungkidul, rujak bebeg yang ‘khas’ itu mungkin jarang ditemui, kecuali di Gunungkidul. Ya, rujak bebeg khas Gunungkidul bukan rujak bebeg yang sering dijual di pinggir jalan dengan gerobak ataupun pikulan.

Jika rujak bebeg pada umumnya berisi campuran buah manga muda, pepaya, nanas, bengkuang yang di bebeg atau ditumbuk, berbeda dengan rujak bebeg khas Gunungkidul yang memakai campuran khas daun pepaya muda dan jambu monyet.

“Daun pepaya muda? Mentah? Memang tidak pahit?”

Pasti beberapa pertanyaan semacam itu yang muncul ketika mendengar olahan rujak bebeg khas Gunungkidul ini. Rujak bebeg ini sudah terbukti tidak pahit oleh hampir mayoritas masyarakat Gunungkidul sejak kecil.

Bagaimana bisa? Ya karena olahan ini dibuat dengan bahan yang melimpah disekitar lingkungan tempat tinggal. Jadi, sejak kecil para orangtua dengan terampil memetik daun pepaya muda dan jambu monyet yang hampir pasti ada di belakang atau samping rumah, lalu ditumbuk dengan alu dan lesuk (alat penumbuk yang terbuat dari kayu).

“Itu kan orang Gunungkidul yang sudah biasa. Lah, kalau orang dari belahan bumi lain apa tidak merasa pahit?”

Nah, bagaimana cara membuktikan kalau rujak bebeg itu tidak pahit kalau dicampurkan dengan daun muda pepaya mentah? Jawaban yang tepat adalah buatlah rujak bebegnya, lalu cicipi sendiri.

Begini cara membuatnya .…
Siapkan daun pepaya muda secukupnya, petik saja 3 lembar dan potong menjadi beberapa irisan. Daun pepaya muda yang bagus biasa berada diujung pohon pepaya. Lalu, siapkan buah jambu monyet secukupnya, 3-5 buah dan potong menjadi beberapa irisan.

Buah jambu monyet yang bagus untuk rujak bebeg, yaitu tidak terlalu matang dan tidak terlalu mentah. Selanjutnya, siapkan racikan bumbu yang terdiri dari gula merah, bawang putih, cabai rawit, garam, sedikit terasi, dan asam. Untuk menambah kelezatan rujak bebeg siapkan juga beberapa potong mangga muda sebagai campuran.

Campurkan semua potongan daun pepaya muda, jambu monyet, mangga muda, dan racikan bumbu ke alat penumbuk alu dan lesung. Tumbuk pelan-pelan sampai kandungan air jambu monyet keluar dan bercampur dengan semua bahan. Setelah semua bahan tercampur dan potongan daun pepaya muda cukup halus, rujak bebeg siap disajikan.

Daun pepaya muda menjadi tidak pahit karena.…
Campuran dalam rujak bebeg mampu menetralisasi rasa pahit dari daun pepaya muda, terutama racikan bumbu yang kuat seperti adanya cabe rawit dan terasi. Selain itu, kandungan air jambu monyet yang memiliki kadar keasaman cukup tinggi rupanya berperan banyak untuk mengikat rasa pahit daun pepaya muda.

Rasa pahit daun pepaya muda tidak benar-benar hilang, tapi rasa pahit yang masih muncul nantinya justru menambah cita rasa khas rujak bebeg.

Jadi, percaya atau tidak jika daun pepaya muda bisa dibuat tidak pahit? Belum cukup kalau rujak bebeg khas Gunungkidul bisa membuktikannya?

“Lalu bagaimana bisa percaya dengan rujak bebeg yang khas itu? Yang katanya enak dan racikannya khas?”

Datang saja ke Gunungkidul. Temukan dan cicipi rujak bebegnya. Selamat menikmati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *