Menolak Rasis, 8 Jajanan Khas Tiongkok Ini Sering Kamu Santap

Siomay
Siomay (Foto: cariresep.com)

Faktanya masih ada masyarakat kita yang sensitif dengan kaum Tionghoa-Indonesia.

Berpuluh-puluh tahun lalu, etnis Tionghoa datang ke Indonesia sebagai pedagang. Tak hanya itu, mereka juga mengajarkan penduduk setempat berbagai teknik pengolahan. Makanan khas Negeri Tirai Bambu itu juga ikut disebarkan sebagai tanda persaudaraan.

Tak disangka, sajian khas Tiongkok jadi populer di Indonesia. Cita rasanya lezat dan cocok di lidah, bahkan ada yang menjajakannya sebagai cemilan.

Hingga kini, jajanan akulturasi Tionghoa tersebar luas di seluruh Indonesia. Tanpa sadar kamu pasti menikmatinya setiap hari. Yuk, intip daftarnya!

1. Wingko

Wingko babat`

Wingko babat (Foto: menuresepbunda.com)

Cemilan yang terbuat dari tepung ketan ini berasal dari Semarang, Jawa Tengah.

Wingko yang paling terkenal adalah wingko babat. Kudapan ini sering jadi oleh-oleh khas Semarang. Kata babat berasal dari nama daerah di Lamongan, yakni Kecamatan Babat.

Pada tahun 1946, pasangan Tionghoa asal Babat mengembangkan usaha wingko di Semarang. Kudapan bercita rasa manis dan legit ini ternyata banyak penggemarnya.

2. Siomay

Siomay

Siomay (Foto: cariresep.com)

Sering jajan siomay Bandung? Sajian dengan siraman bumbu kacang ini juga berasal dari Tiongkok, lho. Siomay versi Tiongkok asli memakai daging babi, udang, kepiting, atau sapi. Biasanya disantap dengan kecap asin.

Siomay Indonesia lebih terkenal dengan isi daging tenggiri, ayam, udang, atau campuran. Dengan begitu, semua kalangan bisa ikut menyantapnya. Adonan dagingnya dicampur tepung tapioka dan beragam bumbu, lalu dibungkus dalam pangsit.

Tak hanya itu, pedagang siomay keliling juga menjajakan kentang, telur, pare, dan kol yang semuanya dikukus bersama siomay. Ada juga siomay yang berukuran lebih besar dan diberi sedikit parutan wortel.

3. Cakwe

Cakwe Hangat yang Baru Diangkat. (Foto: Wikipedia)

Kudapan ini sering dijajakan dengan gerobak kaki lima. Dari namanya, kita bisa mengira bahwa cakwe berasal dari Tiongkok.

Sebutan cakwe memang kurang familier di Negeri Tiongkok. Penyebutan nama kudapan ini tergantung pada dialek daerah. You tiao adalah sebutan umum cakwe dalam bahasa Tionghoa, sementara dalam dialek Hokkian disebut cakhwe.

Pada dasarnya, cakwe adalah roti goreng yang panjang dan bertekstur. Cemilan ini identik dengan saus merah yang asam pedas. Bahan pembuatannya sederhana, yakni adonan roti yang digiling panjang dan digoreng. Adonan cakwe harus diulen kalis agar rasa cakwe tidak alot.

Tak hanya kudapan, roti gurih ini juga dijadikan pelengkap bubur ayam. Biasanya, bubur gurih Jakarta memakai taburan cakwe potong.

4. Bakwan

Bakwan jagung

Bakwan jagung (Foto: Belanga.id/Ghali)

Gorengan yang satu ini sudah tak asing lagi. Dari rumah, warung makan, hingga beberapa restoran menyajikannya sebagai salah satu menu.

Bakwan terbuat dari adonan tepung terigu yang dicampur bumbu dan aneka isi. Umumnya, bakwan Indonesia diisi sayuran seperti wortel, kol, daun bawang, dan tauge. Ada juga bakwan jagung yang memakai jagung manis.

Namun, rupanya bakwan juga kuliner akultrasi Tionghoa. Kata “bak” berarti daging, sedangkan wan adalah bulat kecil. Intinya, bakwan merupakan kudapan berbentuk bulat kecil yang berbahan daging.

Ketika dibawa ke Indonesia, resep bakwan khas Tiongkok disesuaikan dengan lidah dan bahan yang mudah terjangkau. Waktu itu, harga daging tidak murah bagi rakyat biasa. Alhasil bakwan pun diisi dengan sayuran.

Baca juga: 

5. Kue Bantal

A post shared by Xideli_ID (@xideli_id) on

Seperti namanya, kue bantal terasa empuk dan gurih. Jajanan pasar ini mirip cakwe, yakni terbuat dari adonan roti dan digoreng hingga matang.

Perbedaan cakwe dan kue bantal terlihat dari bentuknya. Kue bantal berbentuk kotak dan teksturnya lebih berisi. Roti ini juga ditaburi wijen dan terkadang gula.

Masyarakat Indonesia mengenalnya dengan beragam nama, seperti galundeng di Cilacap dan roti bantal di Medan. Ada juga yang menyebutnya bolang-baling.

Bolang-baling memiliki tekstur berongga di dalam. Rasanya empuk dan tidak seret ketika disantap. Bolang-baling klasik memiliki aroma bumbu spekuk dan wijen yang khas.

6. Bakpia

Sejarah Kue Bakpia

Bakpia (Foto: semuaresepibu.blogspot.co.id)

Bakpia merupakan kudapan bulat khas Yogyakarta yang sering dijadikan oleh-oleh.

Kudapan ini terdiri dari kulit berbahan terigu, margarin, dan minyak nabati. Isiannya beragam, yakni kacang hijau, ubi ungu, kumbu hitam, keju, nanas, cokelat, hingga durian. Setelah dibentuk bulat, bakpia dipanggang hingga tengahnya kecokelatan.

Ternyata, bakpia adalah simbol kerukunan dan keterbukaan Yogyakarta sebagai tempat bermukim etnis Tionghoa. Bentuk kudapan ini mulanya seperti roti isi daging. Namun, resepnya diracik ulang dan jadilah bakpia yang terkenal hingga sekarang.

7. Lumpia

Lumpia Semarang

Lumpia Semarang (Foto: Istimewa)

Lumpia hadir pertama kali pada abad ke-19. Kudapan ini lahir dari kisah asmara seorang laki-laki Tionghoa dan perempuan Indonesia. Romantis banget, ya?

Tjoa Thay Joe dari Fujian memutuskan untuk tinggal dan menetap di Semarang. Lelaki ini membuka bisnis kuliner khas Tionghoa berupa kulit pangsit isi daging babi dan rebung.

Joe bertemu dengan Wasih, perempuan Jawa asli yang menjajakan makanan serupa. Hanya saja, rasa makanan milik wasih cenderung manis, serta berisi potongan kentang dan udang.

Keduanya saling jatuh cinta dan menikah. Bisnis makanan milik Joe dan Wasih pun disatukan. Isi kulit pangsit pun menjadi rebung dengan campuran daging ayam atau udang. Kudapan ini dipasarkan di Olympia Park, pasar malam Belanda tempat biasa mereka berjualan. Sejak itu, panganan Joe dan Wasih disebut lumpia.

Pendapat lain berkata bahwa lumpia berasal dari kata  lún bing (dibaca lu-en ping). Dalam dialek Hokkian berbunyi lun piyanga yang berarti kue bulat.

8. Onde Onde

onde-onde

Onde-onde (Foto: koleksimenu.blogspot.co.id)

Kudapan bulat berbahan dasar tepung ketan ini konon sudah ada sejak Kerajaan Majapahit, lho.

Pelayaran dari Negeri Tiongkok yang dipimpin oleh seorang laksamana sempat berkunjung ke Majapahit dengan hantaran onde-onde.

Seiring migrasi warga Tiongkok ke berbagai negara Asia, penyebaran kudapan ini pun semakin luas. Hingga akhirnya sering disajikan di istana dan mulai berkembang di masyarakat Majapahit pada waktu itu.

Onde-onde memiliki taburan biji wijen pada kulitnya. Saat digigit, tekstur kenyal dan renyahnya biji wijen terasa pas di mulut.

Kudapan ini diisi pasta kacang hijau yang manis. Namun, kini sudah banyak varian isi onde-onde yang kekinian, seperti telur asin, red velvet, matcha, cokelat, dan lain-lain

Uniknya, Tiongkok merayakan Hari Onde-onde yang diperingati setiap 20 Desember, lho.

Itu dia kudapan hasil akulturasi kebudayaan Indonesia dengan Tiongkok. Tanpa kebudayaan dan khazanan kuliner dari Negeri Tirai Bambu tersebut, tak akan tercipta aneka penganan lezat yang kini dapat kita nikmati setiap harinya.

Suka? Vote Artikel Ini!

0 0
Shabrina Anggraini
Written by
Doyan nulis, icip-icip makanan, ngemil, dan bereksperimen di dapur.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up