Wow, 5 Penyajian Kopi Ala Jawa Ini Anti Mainstream!

Kopi joss
Kopi joss

Bosan dengan sajian kopi yang itu-itu saja? Yuk, main ke Pulau Jawa.

Ada banyak sajian kopi yang unik dan kadang memakai bahan-bahan di luar dugaan. Ada yang diberi rempah, santan, bahkan arang yang baru dibakar.

Meski begitu, beragam jenis kopi tersebut jadi primadona di daerahnya masing-masing. Sayang bila seorang penggemar kopi melewatkannya begitu saja. Penasaran? Simak daftar berikut.

1. Kopi Beras Hitam

Kopi beras hitam

Kopi beras hitam (Foto: ekafarm.com)

Sekilas, kopi khas Karanganyar ini tidak beda dengan yang lain. Namun, siapa sangka minuman ini memakai campuran beras hitam. Rasa dan aromanya begitu unik. Bahkan, kopi ini dijamin tidak bikin eneg.

Kopi beras memakai bahan organik, baik kopi maupun beras hitamnya. Penggemarnya cukup banyak karena terhitung baik untuk kesehatan.

2. Kopi Gigit

Seharusnya kopi dinikmati dengan cara diseruput. Tapi kok yang ini digigit ya?

Ternyata, penikmat kopi khas Jawa Timur ini harus menggigit sendiri gulanya jika ingin terasa manis. Gula yang dipilih adalah gula aren yang biasa disajikan di samping cangkir kopi.

Kopi gigit berasal dari biji kopi bermutu, yakni campuran arabika dan robusta. Perbandingannya adalah 60% biji kopi arabika dan 40% biji kopi robusta.

Banyak kedai yang menyangrai biji kopi gigit secara tradisional, yakni memakai wajan tanah liat dan kayu bakar. Bahkan ada yang masih menumbuk bijinya dengan lumpang batu.

Sebelum disangrai, biji kopi dicampur dengan potongan jahe emprit yang sudah dibersihkan. Jahe yang berasal dari Tanah Jawa ini terasa pedas menyengat. Bila tak suka, kamu bisa request untuk menghilangkannya dari campuran kopi.

Penyajian kopi gigit tidak diseduh dengan air, melainkan kopi dan air langsung dipanaskan bersamaan. Konon, hal ini dapat mengurangi kandungan kafein pada kopi, lho.

3. Kopi Jetak

Kopi jetak

Kopi jetak (Foto: Dee Dewie)

Penggemar kopi jahe wajib coba minuman dari Kudus yang satu ini.

Kopi jetak diproduksi di Dukuh Jetak, Desa Kedungdowo, Kudus. Minuman ini terkenal dengan aroma kuat dan rasa pahit yang menghangatkan. Maklum, kopi ini memakai gingseng sebagai salah satu bahannya.

Konon, kopi jetak dapat meningkatkan stamina, memperlancar peredaran darah, hingga menambah gairah seksual. Wow!

Pengolahan biji kopinya berbeda dari yang lain. Meskipun didatangkan dari berbagai daerah, biji kopi jetak harus disangrai sampai hitam. Biasanya, biji kopi lain hanya disangrai sampai kecokelatan.

Selama proses sangrai, masyarakat setempat juga menambahkan air kopi sebagai jatu (bahan tambahan). Jatu dapat mengawetkan kopi hingga 1 tahun. Namun bila jatu ditambahkan setelah proses sangrai, kopi jetak hanya bertahan selama 6 bulan.

Baca juga: 

4. Kopi Joss

Kopi joss

Kopi joss (Foto: kopitop.com)

Penggemar kopi yang tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya pasti pernah mencoba kopi joss.

Kopi ini disajikan dengan cara unik, yakni segelas kopi hitam diberi sebongkah kecil arang yang masih menyala panas. Alhasil, cita rasanya pahit dan cenderung sepat.

Konon, arang berkhasiat untuk mengurangi kafein yang terkandung dalam kopi. Selain itu mampu mengikat racun, sehingga aroma asli kopi lebih tercium.

Menurut pencetus kopi joss Mbah Pairo, kopi yang memakai biji dari Lampung ini mampu menghangatkan badan, mengobati sakit perut, dan menangkal masuk angin. Oleh karenanya, minuman ini lebih sering ditemukan di angkringan yang buka malam hari.

Salah satunya adalah angkringan Lik Man yang berlokasi di sebelah utara Stasiun Tugu Yogyakarta. Awalnya, angkringan ini dikelola oleh putra Mbah Pairo, penjual angkringan pertama di Yogyakarta.

Kata “joss” diambil dari suara yang ditimbulkan arang panas saat masuk dalam kopi. Kata ini juga mengungkapkan kepuasan dan rasa yang mantap dalam dialek Jawa sehari-hari.

Kopi joss nikmat dengan rasa pahit maupun manis. Pengunjung bisa menambahkan gula atau susu kental manis. Bahkan, jenis kopi tubruk ini juga bisa disajikan dengan es batu. Mantap!

5. Kopi Kothok

Jawa tengah juga punya minuman kopi yang khas. Kopi kothok berasal dari Cepu dengan cara penyajian yang unik.

Minuman ini memakai biji kopi arabika yang disangrai dan ditumbuk sendiri. Wah, kebayang betapa wanginya kopi ini ya.

Konon, nama “kothok” berasal dari suara kopi yang mendidih. Bunyinya kothok kothok kothok! dalam ceret atau teko untuk merebus air.

Di Cepu, kopi kothok identik dengan warung tenda pinggir jalan di malam hari. Terdapat puluhan tenda cangkrukan atau tongkrongan yang menyediakan kopi kothok sebagai menu utamanya.

Nah, itu dia sekilas sajian kopi dari Jawa. Tak hanya pulau ini, penyajian kopi di tiap daerah Indonesia punya keunikan masing-masing. Bagaimana dengan daerahmu?

Suka? Vote Artikel Ini!

0 0
Shabrina Anggraini
Written by
Doyan nulis, icip-icip makanan, ngemil, dan bereksperimen di dapur.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Lost Password

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Sign Up